Menyanyikan Indonesia Raya

Biasanya, hari ini, aku mesti masuk sekolah. Lapangan sekolah seketika akan memutih. Siswa dan siswi berbaris sesuai urutan kelas dan petugas upacara yang telah berlatih selama berbulan-bulan telah siap pada posisinya masing-masing. Untung saja, postur tubuhku cukup tinggi. Aku bisa berdiri di banjar agak belakang; tidak begitu terlihat oleh mata para guru yang demikian awas.

Perayaan 17 Agustus adalah upacara yang membosankan bagiku, seperti rutinitas yang terpaksa diadakan, seperti tubuh tanpa jiwa, seperti… ‘Indonesia Raya’ yang tidak pernah dirayakan lagi.

Namun karena masa pandemi ini belum berakhir, sekolah tidak mengadakan upacara. Kegiatan belajar dan mengajar pun masih diadakan secara online. Rasanya sulit sekali, semuanya mendadak digital, serta dilakukan di rumah. Aku yang hendak menyambut ujian kelulusan tambah pontang-panting ketika ruang diskusi seolah dibatasi. Bagaimanapun, dalam proses belajar tidak ada yang mengalahkan tatap muka langsung, keringat di ujung pertanyaan, dan praktik di laboratorium.

Suatu malam, ketika aku sedang mengeluh mengerjakan PR Sejarah di kamar, kakek mengetuk pintu. Ia masuk dan melihat raut wajahku yang tegang karena kesal.

“Kenapa mukamu seperti itu?” Tanyanya.

“Biasa, Kek. Ada PR. Tapi karena sekarang sekolahnya online, aku jadi susah nyerap pelajaran. Catatan nggak lengkap, aku nggak bisa jawab soal-soal ini,” jawabku.

“Wah, enak ya sekarang, apa-apa bisa online. Dulu mana bisa seperti itu,” kakek menjawab sambil duduk di atas kasurku.

“Apanya yang enak coba? ‘Kan makin susah kalo nggak ketemu langsung sama guru dan teman-teman!”

“Lho, yang penting kamu ini masih mau dan bisa sekolah, toh? Kalo iya, berarti pasti ada jalan buat menghadapi masalahnya. InsyaAllah,” kata kakek.

Kakek kemudian bercerita tentang betapa sulitnya untuk mengenyam pendidikan sewaktu ia kecil. Sekolah bagus dan buku-buku yang berlimpah hanyalah milik mereka, para bangsawan dan keturunan raja. Sisanya, ya, masuk sekolah kecil biasa. Kalau tidak beruntung, ya bekerja saja di rumah, mengurus sawah, menggembalai ternak, bahkan jadi budak tanam paksa. 

Jika tentara Belanda berpatroli ke desa, kakek dan teman-temannya akan lari sekencang-kencangnya, mencari perlindungan di rumah masing-masing, mengunci pintu rapat-rapat. Pada zaman itu, ketakutan selalu menghantui. Tembakan pistol bisa meletup kapan saja, desing peluru bisa menyasar siapa saja.

“Takut ‘kan, pergi ke sekolah lewat medan perang yang jelas-jelas ada di depan rumahku?” Kata kakek.

“Coba aja, dahulu sudah bisa online-online begini, kakek nggak perlu capek-capek jalan kaki belasan kilometer buat sampai ke sekolah!” Kakek menambahkan dengan sedikit tertawa.

“Terus setelah merdeka, gimana?” Aku bertanya penasaran.

“Oh, ya, senang, jelas. Belajar jadi lebih lega, nggak takut lagi, nggak ada serdadu yang tiba-tiba datang ke dalam kelas. Kakek bahkan masih sempat merasakan upacara 17 Agustus bareng teman-teman. Waktu ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan, rasanya bangga sekali. Lagunya megah tapi penuh haru.”

Ruangan hening sejenak. Aku merenungkan cerita kakek yang pernah ikut berjuang bersama masyarakat desa untuk melawan penjajahan. Baginya, tidak ada yang boleh menghalangi kakek untuk terus belajar, sekalipun tas penuh batu, meskipun bambu runcing tidak pernah ia tinggalkan, dan rasa ngeri setia mengikuti.

Kakek lalu bangun dari duduk, hendak menuju kamar tidurnya. Malam sudah semakin tinggi.

“Pokoknya, Nak, jangan tinggalkan sekolah. Kalau bisa, pas sudah besar nanti, kamu bangun sekolah kamu sendiri. Kamu bikin, tuh, seluruh anak-anak di negeri ini sempat dan bangga menyanyikan ‘Indonesia Raya’. Perjalanan masih panjang.”

Sebelum menutup pintu, kakek mengepalkan satu tangan kanannya, mengangkatnya ke udara seraya berbisik kecil dengan mata yang membara,

Merdeka.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top