Menjaga Pemasukan; Merawat Kewarasan

Bulan lalu, kita tengah sibuk menata ulang rutinitas. Sebagian besar harus disesuaikan karena imbauan work from home dari pemerintah. Mengingat korona menggores luka di berbagai macam lini, tentunya adaptasi tersebut memerlukan waktu serta upaya yang tidak sedikit. Bahkan bukan tidak mungkin virus yang masih menjadi topik hangat ini bakal melahirkan kejutan-kejutan lain sehingga menuntut kita untuk kembali menyelaraskan diri dengan keadaan.

Terduduk di ruang tamu, tiba-tiba bulan suci Ramadan mengetuk pintu. Saya kaget, mungkin karena biasanya saya bisa merasakan aroma bulan Ramadan di jalan raya. Kali ini, saya yang jauh dari dunia luar tidak bisa meraba-raba suasana tersebut: matahari yang lengser di balik siluet masjid, penjaja kudapan, sampai percakapan tentang saum dari teman-teman seagama. Terlebih lagi, tidak ada rencana buka puasa yang sempat tersiar di dalam grup WhatsApp keluarga. 

Saya membuka pintu, mempersilakan masuk, dan kami duduk di kursi; berbincang-bincang setelah satu tahun tidak bertemu. Jangan-jangan, kita yang sudah terlalu lama memalingkan muka dan mengunci rumah.

Jika diingat-ingat, pada Ramadan sebelumnya saya kerap bepergian keluar guna membunuh waktu. Ngabuburit dengan bertandang ke rumah teman dan menonton film di bioskop menjadi kegiatan yang mudah untuk dilakukan. Tidak jarang juga, dulu saya sering mengendarai sepeda motor hanya untuk berputar-putar saja; mengundang teman untuk berbuka puasa di rumah dengan jajanan yang dibeli lewat urunan; berbicara lebar mengenai rencana yang belum sempat terlaksana; atau mengadakan janji dengan teman-teman sekolah dulu. Ramadan selalu menjadi ajang untuk reuni dan kata maaf seperti diselipkan belakangan sebagai menu pelengkap saja.

Akan tetapi, hari ini adalah cerita yang lain. Bagi kita, menjalankan ibadah puasa di tengah pagebluk atau pandemi merupakan episode yang mengejutkan juga menyisakan sesak di dada. Saat ini, sebagian besar dari kita mesti menahan lapar, haus, nafsu, dan emosi yang berlebihan di dalam rumah tanpa ngabuburit bersama teman-teman. Jangan lupakan juga beberapa teman-teman kita tidak bisa mudik untuk membaca doa buka puasa bersama keluarganya.

Lagi-lagi, adaptasi memang menjadi kunci untuk bertahan. Penting untuk menentukan aktivitas ngabuburit yang seturut dengan imbauan menjaga jarak, kebersihan jasmani, serta kesehatan rohani. Bagi Najwa Awad, seorang profesional di bidang kesehatan mental, menjaga relasi secara virtual adalah upaya yang penting dilakukan pada tahun ini. Dengannya, depresi dan kecemasan berlebih bisa diredam. Awad sendiri menganggap swakarantina seperti ini memungkinkan dia untuk lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anaknya. 

Selain itu, ada pula cerita dari Sarah Sutan, seorang ibu yang tinggal di Houston. Dia menghabiskan waktu di rumah dengan mendalami ajaran Islam bersama anaknya; membangun hubungan spritual yang kuat dengan Tuhan.

Dari lingkungan terdekat, saya pun membaca banyak pihak yang telah menggagas inisiatif kreatif. Umma misalnya, sebuah aplikasi bagi yang menyiapkan sederet fitur untuk mendampingi umat Muslim agar dapat menjalankan ibadah di rumah. Dilansir dari Kompas.id, CEO Umma Indra Wiralaksmana mengatakan “Kami siap mendukung umat Islam agar dapat beribadah di rumah dengan lebih maksimal.”

Saya juga lihat teman-teman yang berprofesi sebagai fotografer melakukan photoshoot secara virtual, toko buku menjual daftar judul yang tidak main-main dengan harga miring, diskusi dan kelas daring banyak digelar dengan cakupan topik yang menarik. 

Segala macam upaya dilakukan untuk beradaptasi dengan keadaan: menghadapi pandemi yang jatuh di bulan penuh suci. Saat ini aktivitas ngabuburit memiliki tujuan yang lebih mulia, yakni untuk mendukung satu sama lain, baik secara materi maupun nonmateri; pemasukan ataupun kewarasan. Pada akhirnya, biarpun jauh dari keluarga dan berbeda ketimbang tahun lalu, saya percaya Ramadan adalah momen emas bagi lahirnya hal-hal baik.

3
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
YudhistiraRiska Dea Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Riska Dea
Guest

Yaaampuun, selalu kaguum

Riska Dea
Guest

Selalu kagummmmmmmmmm

Top