Mencintai Diri Adalah Merawat Api

Akhir-akhir ini saya bergumul dengan narasi mengenai waktu. Saya sedang menamatkan serial televisi berjudul Lost (2004) yang menceritakan medan elektromagnetik di sebuah pulau. Pulau tersebut dapat menembus waktu, berpindah ruang dan dimensi manakala sebuah tuas diputar. Salah satu orang kemudian memutar tuas waktu demi bertahan hidup.

Pada malam yang lain, saya menonton ulang Avengers: Endgame (2019). Kita tahu, dunia diselamatkan oleh para adiwara dari Barat dengan memanfaatkan teori kuantum guna menjelajahi waktu dan mengumpulkan akik magis. Umat manusia berhasil menunda kiamat yang dijentikkan oleh Thanos.

Pertemuan saya dengan narasi mengenai waktu diperlengkap lewat buku An Enquiry Concerning Human Understanding (2008) karya David Hume, pemikir asal Skotlandia abad ke-18. Pada bagian pengantar, Peter Millican menuliskan berlembar-lembar halaman sebagai konteks sebelum memasuki alam Humean. Di sini, saya mendapatkan pemahaman bahwa apabila semesta memiliki orbit yang kompleks dan matahari adalah pusatnya, kita pun demikian.

Ada semesta di dalam diri kita, yakni mesin biologis yang tersusun atas planet-planet. Semua berotasi membentuk sebab dan akibat. Di dalam diri manusia, waktu adalah energi, sirkadian, alarm bagi tubuh. Kadang, tombol snooze bisa menghancurkan jadwal. Namun, pada lain waktu ialah yang menyelamatkan badan kita dari kekacauan sistem.

“The Sun is thus the centre of a giant vortex, with smaller vortices within it ranging from that which carries the Moon around the Earth, down to the minuscule vortices in our own bodies that constitute the mechanism of these intricate machines.”

Kita merupakan pusaran yang sangat kecil, minuscule vortices, dalam pusaran yang amat besar, a giant vortex; bahwa manusia berotasi, menunggu diisi oleh orang lain sembari memenuhi tugas-tugas keseharian; bahwa manusia adalah pasang dan surut yang tidak akan abadi dalam sebuah ketetapan (konstanta).

Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Galileo dan Descartes. Mereka menyanggah pendapat Aristoteles perihal kemurnian atau sesuatu yang apa adanya. Sebagaimana tata surya bekerja untuk menjalankan fungsi dan tugasnya, kita pun demikian. Kita bergerak ke sana-sini sebagai mesin yang punya empati dan bersifat matematis pada waktu yang sama.

Adalah PR seumur hidup untuk menyeimbangkan galaksi di dalam diri. Rasanya, tidak ada sekolah yang benar-benar mengajari kita untuk melakukan hal tersebut, kecuali hidup itu sendiri. Ketika mendapat nilai merah, kita jatuh sakit dan rutinitas rusak binasa. Obat serta rumah sakit tak jarang menjadi ajang remedial. Coba hitung, sepanjang 2020, berapa banyak uang yang kita habiskan untuk berobat? Berarti, berapa kali sistem di dalam tubuh kita berantakan? Dengan kata lain, sudah berapa kali tatanan di dalam tubuh mengizinkan kita untuk memperbaiki diri, lagi dan lagi?

Saya paham, bertumbuh dan bertahan bukanlah ihwal yang mudah untuk diterapkan. Terkadang, penyakit hadir karena keturunan. Beberapa dari kita mesti hidup berdampingan dengan diagnosis sejak hari kelahiran atau kemungkinan-kemungkinan riskan lainnya akibat bawaan genetik.

Akan tetapi, apabila kita mengandaikan matahari sebagai simbol atas semangat hidup, saya rasa, manusia bisa bertahan dan berdamai dengan waktu. Sama halnya dengan planet-planet, setiap tubuh memiliki karakteristik, lajur orbit, dan fungsinya masing-masing. Meskipun akan berujung pada ketidaktahuan, manusia perlu berupaya mengenali dirinya, sedalam-dalamnya. Itulah api, pusat tata surya di dalam tubuh.

Barangkali, dengan menjaga api tersebut untuk tetap menyala, kita mampu merawat diri sendiri lewat kerja matematis juga empati. Tak apa jika ia padam atau redup sesekali. Setidaknya kita mau berkehendak untuk menyulutnya lagi. Cita-cita kita akan terkikis satu per satu dan pada akhirnya, yang tersisa adalah keinginan untuk sehat sentosa.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top