Memberi Sesederhana Menerima

Kepedulian adalah pangkal dari banyak hal. Tanpanya, kita mungkin kesulitan untuk bergerak, membangun sesuatu, dan menjadi berguna bagi diri sendiri atau orang lain. Lagipula, bagaimana caranya kebaikan bisa tertular tanpa ada rasa kepedulian sedikit pun?

Sejurus kemudian, saya melamunkan situasi jalanan dari balik jendela mobil, tatkala pembatasan sosial sudah bikin mual karena terlalu tidak pasti dan kelakuan masyarakat yang begitu sembrono. Walaupun demikian, saya yakin beberapa dari kita tetap menahan diri untuk keluar rumah sebab mempedulikan kesehatan banyak orang. Aneh sekali, kita bisa membuktikan kepedulian dengan menerapkan jarak. 

Saya lalu membuka mata dan memandangi meja belajar. Ada tumpukan buku yang saya siapkan untuk segera dibaca, antara lain Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karangan Joko Pinurbo alias Jokpin, novel Kubah karya Ahmad Tohari, kisah-kisah silat Arswendo Atmowiloto dalam Senopati Pamungkas, serta roman kelahiran 1957 karya Toha Mohtar berjudul Pulang. Saya malah mengambil satu buku di luar judul-judul tersebut, yakni Lelaki Bukan Malaikat, sehimpun puisi yang terbit pada 2015. Buku ini bersampul biru dengan tipografi serta ilustrasi setengah sayap yang membentang. Sang penulis, Mario F. Lawi, telah didapuk sebagai pemenang NTT Academia Award Kategori Sastra 2014 dan Penyair Buku Puisi Terbaik Majalah Tempo 2014.

Di sampul belakang, Sapardi Djoko Damono memberikan sedikit testimoni. Menurut beliau, “Mario Lawi dengan terampil telah memindahkan inti amanat Kitab Suci ke puisi dan menawarkannya kepada pembaca sebagai penghayatan dan pengalaman baru yang tidak perlu dibatasi oleh keyakinan apa pun.” Tak pelak lagi, kita memang bisa menemukan unsur biblikal dalam puisi-puisi Mario. Bahkan mereka sudah tecermin lewat deretan judul puisi di dalam Lelaki Bukan Malaikat, seperti “Misa”, “Petrus”, “Kamis Putih”, “Rosario, 2”, “Eden” serta episodik “Santa Maria”. Selain itu, puisi-puisi Mario juga sarat dengan bahasa latin dan tokoh-tokoh Kristiani yang saya rasa sukar untuk dikenali lewat satu kali baca.

Saya memilih untuk membaca puisi-puisi Mario F. Lawi ketimbang buku-buku lain yang menumpuk lantaran saya ingin menggali tema kepedulian serta kebaikan dari nasihat yang umumnya selalu kita terima: agama. Narasi-narasi keagamaan, nilai ketuhanan, juga spiritualitas serta iman acap kali menawarkan tema yang serupa—memang sudah sepantasnya begitu, ‘kan?—yakni cinta kasih, kebersamaan, tenggang rasa, dan kewajiban untuk saling berbagi. Bedanya, kali ini saya mengasup ajaran-ajaran tersebut lewat kaca mata puisi.

Bagi saya, Mario membangun puisi “Sajak Terakhir” layaknya pecahan. Ada 8 bait yang mewakilkan maknanya sendiri. Atau boleh dibilang, puisi ini sebetulnya menjelma satu bangunan yang naratif dengan jeda yang begitu patah, tikungan yang teramat tajam. Setelah membacanya, saya dibuat mengerti tanpa memahami apa-apa.

Entah kenapa, bait ketiga dalam “Sajak Terakhir” di bawah ini terasa begitu menusuk:

“Mencintai sesederhana menerima,” katamu.

Aku ingin percaya,

Tapi tubuh yang patah di atas salib itu

Menusukkan cahaya matanya ke celah-celah rusukku.

Mencintai sesederhana menerima seolah menggambarkan sebuah siklus. Saya selalu beranggapan, ketika saya memberikan cinta—yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan merupakan wujud kepedulian—saya juga sedang menerima. Namun, perlu ditegaskan, saya sedang menerima diri saya sendiri, bukan imbalan dari orang lain. Saat saya memutuskan untuk mencintai, saya sedang menerima diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Saya menerima proses untuk kembali kecewa, menjebloskan diri pada kemungkinan dikhianati, menerima fakta bahwa saya hanyalah manusia yang sedang belajar untuk berbagi.

Sementara itu, baris tapi tubuh yang patah di atas salib itu/Menusukkan cahaya matanya ke celah-celah rusukku adalah bentuk keraguan kita. Manusia sering kali ragu untuk memberikan jika tidak mendapatkan balasan yang setimpal. Kita takut tidak seimbang dan menelan risiko yang menyakitkan.

Bukankah pemberian dari orang lain atau kasih sayang yang terbalas hanyalah bonus? Tidak ada imbalan yang sepadan dari menularnya kepedulian, kebaikan, serta cinta, selain rasa terpenuhi; bahwa suatu kewajiban sudah terlaksana dan saya tidak akan berhenti. Saya memberi karena saya ingin memberi; karena hal itu sudah sepantasnya dilakukan meskipun saya tidak pernah merasa memiliki apa pun.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top