Laki-Laki yang Diperkosa

Satu masalah masih jauh dari kata selesai, masalah lainnya datang menghampiri. Kira-kira begitulah yang mungkin akan selalu tampak di lini masa digital kita pada hari ini. Dan salah satu tempat atau arena paling ganas adalah kolom komentar. Beneran.

Sewaktu berita pemerkosaan terhadap laki-laki disiarkan, saya sebetulnya malas untuk mengecek kolom komentar posting-an itu. Entah malas atau takut, lebih tepatnya. Saya tahu kesadaran dari kebanyakan orang mengenai isu kekerasan seksual masih jauh dari tingkat yang baik. Daripada geram sendiri dan dengan mengingat bahwa bukan kapasitas saya juga untuk memberikan edukasi kepada mereka yang ringan tangan dalam berkomentar jahat, lebih baik saya berlalu saja, tidak membaca apa-apa. Namun, angin selalu meniupkan kabar. Komentar-komentar cabul muncul tanpa diundang: ih pasti keenakan tuh diperkosa cewe; kurang puas kali tuh makanya dia lapor ke polisi biar viral; lah cowo diperkosa cewe, nggak kebalik?

Ketika perempuan belum bisa bergerak secara aman–bahkan setelah menempuh jalur hukum–, pemerkosaan terhadap laki-laki pun dianggap sebagai sesuatu yang banyol. Satu masalah masih jauh dari kata selesai, masalah lainnya datang menghampiri. Padahal, pemerkosaan bisa menimpa siapa saja, tidak memandang bulu, apalagi jenis kelamin dan gendernya. Biro Investigasi Federal atau Federal Bureau of Investigation (FBI) telah mendefinisikan ulang kejahatan yang tergolong ke dalam pemerkosaan. Jika sebelumnya pemerkosaan disebut sebagai kasus yang menimpa perempuan, kini pemerkosaan adalah peristiwa yang dapat juga terjadi kepada laki-laki. Redefinisi ini tentu tidak terpisahkan dari munculnya penyintas kekerasan seksual dari kalangan laki-laki.

Mengapa kita tidak sadar akan hal ini? Barangkali salah satu penyebabnya adalah mitos yang disematkan kepada laki-laki. Mereka harus kuat, maskulinitas jangan sampai tercoreng, dan stigma tentang laki-laki berada di atas perempuan harus selalu langgeng. Berbicara tentang stigma, media juga punya andil dalam memberikan napas panjang bagi rantai ini. Seolah-olah, laki-laki tidak mungkin diperkosa oleh wanita.

Pada 2017, Lara Stemple, Andrew Flores, dan Ilan Meyer menerbitkan satu penelitian berjudul “Sexual Victimization Perpetrated by Women: Federal Data Reveal Surprising Prevalence”. Mereka membubuhkan keterangan bahwa sebagian besar kekerasan seksual yang dilakukan oleh perempuan ditujukan terhadap laki-laki dan kadang-kadang terhadap perempuan. Bahkan, data yang dikeluarkan oleh Bureau of Justice Statistics pada 2008 menunjukkan jika 46% penyintas kekerasan seksual yang dilakukan oleh perempuan adalah laki-laki. Dari penelusuran itu saya menangkap kalau kekerasan seksual yang dilakukan oleh perempuan terhadap laki-laki bukanlah sesuatu yang baru.

Di antara semua komentar, pertanyaan (serta pernyataan) yang paling menggelitik adalah enak nggak diperkosa cewe? dan paling tuh cowo nikmatin juga

Kita sama-sama tau, dipaksa untuk melakukan sesuatu itu tidak enak. Salah seorang laki-laki pernah dipaksa untuk melakukan penetrasi penis ke dalam vagina mantan kekasihnya. Laki-laki itu diikat di atas kasur. Katanya, “She got on top of me and rode me until I orgasmed against my will. I felt powerless and ashamed.” Fisher dan Pina dalam “An Overview of the Literature on Female-Perpetrated Adult Male Sexual Victimization”(2013) menyimpulkan bahwa ereksi, bahkan orgasme, tidak selalu menunjukkan kepuasan seksual. Ia bisa terjadi karena rasa takut dan rangsangan yang diterima secara paksa.  

Dengan ancaman dan teror, semuanya terasa menakutkan juga menyisakan trauma berkepanjangan. Kesaksian lainnya yang saya temukan dalam riset “‘Oh you’re a guy, how could you be raped by a woman, that makes no sense’: towards a case for legally recognising and labelling ‘forced-to-penetrate’ cases as rape” (2017) adalah,

“Waktu itu saya berumur 17 tahun dan kencan dengan wanita yang lebih tua. Saya pergi ke apartemennya untuk mengakhiri hubungan dan dia berkata ingin bunuh diri jika itu terjadi. Saya begitu naif dan termakan oleh omongannya. Saya pun menyalahkan diri saya karena membuat dia berpikir demikian. Rasanya, saya jatuh ke dalam manipulasinya. Dia bilang dia bakal bunuh diri jika hari itu kami tidak bercinta…” 

Kisah ini lebih mengerikan lagi:

“Dia (seorang laki-laki) pergi minum pada suatu malam. Dia lalu meninggalkan bar bersama seorang perempuan yang tidak dia kenal sebelumnya. Mereka bermalam di sebuah motel. Laki-laki itu dicekoki minuman lagi dan jatuh tidur tidak lama kemudian. Saat terbangun, laki-laki itu mendapati dirinya sedang telanjang, dengan tangan dan kaki yang terikat, mulut disumpal, dan mata tertutup. Di sekitarnya ada banyak perempuan dan salah satu memberi tahu bahwa dia harus berhubungan seks dengan mereka semua. Ketika laki-laki itu tidak mampu ‘bercinta dengan baik’, dia diancam untuk dikebiri dan merasakan dingin mata pisau di testisnya.”  

Ketakutan untuk melapor, gejala depresi, lebih-lebih keinginan untuk mengakhiri hidup tidak jarang menjadi akibat yang menyerang para penyintas. Mereka merasa kemanusiaannya terinjak. Pertanyaan saya, di mana nikmatnya? 

Bacaan lebih lanjut:

4.1 8 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top