Kita yang Dulu; Kita yang Sekarang

Episode final serial WandaVision telah tayang pada Jumat lalu, tepatnya pada 5 Maret 2021. Saya adalah salah satu orang yang menanti film ini setiap minggunya. Buat saya pribadi, film ini tidak membuat jantung berdebar-debar atau menyisakan rasa penasaran yang begitu besar, layaknya Prison Break (2005). Saya menyisihkan kira-kira setengah jam untuk rehat dari pekerjaan, membuka aplikasi Disney+, dan menikmati setiap adegan dalam WandaVision dengan santai.

Namun, pada episode final, serial ini memicu satu pertanyaan dalam benak saya. Bukan, bukan soal apa yang akan terjadi terhadap Wanda atau bagaimana dia akan bertemu dengan Doctor Strange, melainkan soal dialog singkat–namun sarat–antara Vision dan White Vision. Hati-hati, tulisan ini mengandung spoiler episode final WandaVision.

 

The Ship of Theseus

Are you familiar with the thought experiment, ‘The Ship of Theseus?’ in the field of identity metaphysics?

Apa yang mereka perbincangkan adalah perihal identitas dengan mengangkat legenda Yunani, Theseus, seorang raja dan pahlawan Athena. Suatu hari, Theseus pulang membawa kemenangan setelah mengalahkan Crete di Minotaur. Demi memperingati kejayaan tersebut, rakyat Athena sepakat untuk mengabadikan kapal Theseus di museum. Sebetulnya, ada versi lain yang menceritakan bahwa kapal tersebut dijaga di pelabuhan saja, tidak dipindahkan ke museum. Namun, supaya sejalan dengan dialog di dalam WandaVision, saya menggunakan versi kapal Theseus di museum.

Lambat laun, kapal Theseus semakin rapuh sehingga beberapa bagian harus diganti. Pada akhirnya, kapal Theseus mengalami perbaikan total, bagian-bagian kapal serbabaru. Kapal tersebut kemudian dilayarkan kembali oleh rakyat Athena. Pertanyaannya, apakah kapal tersebut masih bisa dibilang sebagai kapal Theseus?

“The Ship of Theseus is an artifact in a museum. Over time, its planks of wood rot and are replaced with new planks. When no original plank remains is it still the Ship of Theseus?”

Kisah The Ship of Theseus telah menjadi diskusi hangat di antara para pemikir, mulai dari Heraclitus, Plato, Plutarch, hingga Thomas Hobbes dan John Locke. Kisah ini dikenal sebagai thought experiment atau eksperimen pemikiran. Bahkan, The Ship of Theseus masih berlanjut dengan akhiran tambahan: bagian-bagian lama dari kapal Theseus dikumpulkan dan dirangkai kembali menjadi kapal lain. Berarti, ada dua kapal Theseus; pertama adalah kapal yang direstorasi dan kedua adalah kapal Theseus yang direkonstruksi. Istilah “restorasi” dan “rekonstruksi” saya pinjam dari Martin Pikcup dalam “A Situationalist Solution to the Ship of Theseus Puzzle”.

Di antara kedua kapal tersebut, manakah yang asli? Jika kita tujukan kepada Vision: yang asli itu Vision atau White Vision? Vision direstorasi berdasarkan memori dan persepsi Wanda. Karakteristiknya serupa dengan Vision yang selama ini kita saksikan pada film Marvel lainnya. Namun, di sini, dia tidak memiliki bagian-bagian tubuh yang orisinal. Sementara itu, White Vision adalah tubuh yang direkonstruksi. Kecuali The Mind Stone, tubuhnya asli dengan karakteristik yang kontras. Jadi, yang mana yang asli? Tentu bagi kita, White Vision adalah pemenangnya. Pada bagian akhir, Vision pun percaya bahwa White Vision adalah Vision yang sebenarnya.

Neither is the true ship. Both are the true ship.”

“Well, then, we are agreed.”

But I do not have the Mind Stones.”

“And I do not have one single ounce of original material … Perhaps the rot is the memories. The wear and tear are the voyages. The wood touched by Theseus himself.”

Saya rasa, “memories” adalah satu kata kunci yang penting dalam persoalan identitas. Mungkin, kenangan adalah apa yang membentuk persona kita; tumpuk-menumpuk dan memupuk identitas diri.

 

Memori, Karakteristik, dan Identitas

Ketika membicarakan The Ship of Theseus, para filsuf memiliki jawaban yang berbeda-beda lewat pendekatan yang tidak sama. Bagi saya, pertanyaan seputar asli atau tidak justru menarik kalau kita tujukan kepada diri sendiri: apakah kita yang hari ini adalah kita yang kemarin? Kita yang berada di masa lalu apakah sama dengan kita yang berada di masa kini?

Saya lalu menemukan satu video menarik dari The School of Life. Kita tahu, berat badan bertambah dan berkurang, rambut memanjang, dan tubuh pun meninggi. Lebih dari itu, banyak sifat-sifat kita yang berubah seiring berjalannya hidup. Namun dengan yakinnya, kita bilang bahwa peralihan-peralihan tersebut tetap menjadikan diri kita sebagai diri kita; segala baik-buruk dan cukup-kurang adalah unsur-unsur yang membentuk identitas diri ini.

Video tersebut mengutip John Locke, seorang filsuf asal Inggris, bahwa identitas personal dibentuk dari tingkat kesadaran yang sama (sameness of consciousness). Pengertian kesadaran di sini perlu dijabarkan lebih lanjut sebab ia bukan sekadar memori. Saya tentu lupa akan rasa kecewa saya sewaktu berumur lima tahun, ketika ibu menolak membelikan saya mainan. Namun, kemungkinan besar, persepsi saya dalam berhadapan dengan kekecewaan itu masih sama. Jika berbeda, saya berarti telah belajar dari pengalaman tersebut kendati lupa akan detail kejadiannya. Berikut adalah kutipan Locke:


“[A]s far as any intelligent Being can repeat the Idea of any past Action with the same consciousness it had of it at first, and with the same consciousness it has of any present Action; so far it is the same personal self.”

Ingatan memang membentuk diri. Tetapi, unsur yang paling dominan dalam membentuk identitas diri kita adalah karakter. Di dalamnya, ada memori tentang cinta, benci, kecewa, dan persepsi kita dalam berhadapan dengan segala macam persoalan. 

Saya mungkin tidak tahu betul atau sadar tentang apa yang tampak dari raut muka saya ketika patah hati menerpa. Tetapi, orang-orang di sekitar saya menilai bahwa aura biru yang saya pancarkan begitu kuat. Kata mereka, saya seperti kucing yang minta dielus. Padahal, saya sudah berusaha terlihat tegar atau tidak punya maksud sama sekali untuk menularkan kesedihan. Saya rasa, itulah karakter. Suatu hari nanti, apabila saya mampu berteguh hati dan berhenti menjadi biru di depan umum, itu juga karakter, dipupuk dan diasah.

Setiap orang punya ragam karakteristik pada kondisi yang berbeda-beda. Baik atau buruk, di masa lalu atau di masa kini, both are the true you.

Bacaan lebih lanjut:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top