Hidup hanya menunda kekalahan, tulis Chairil Anwar dalam puisi “Derai-derai Cemara” pada 1949. Buat saya, baris tersebut menggambarkan kejatuhan-kejatuhan yang senantiasa menanti. Sebaik-baiknya manusia, kita toh wajib mengalami patah hati, dikesampingkan, merasa kalah, bahkan menghadapi kehilangan yang paling menderita.

Sewaktu kecil, saya selalu ingin menjadi pemain sepak bola. Besar dengan serial film dan komik Captain Tsubasa, Whistle!, serta Shoot! membuat saya rutin mengikuti kegiatan sepak bola di sekolah. Bahkan di lapangan di depan rumah, saya juga bermain, bermodal gawang dari tumpukan sandal. Saya masuk ke dalam tim sekolah, mengenakan nomor punggung 11 supaya terlihat seperti Misaki, bertandang ke kandang lawan, dielu-elukan teman-teman, mencetak gol, berkalungkan medali dan mengangkat piala. 

Menurut Peter Economy dalam opini “Losing Can Be a Good Things: Here’s Why”, kemenangan atau kesuksesan adalah kenangan yang paling mudah untuk diingat. Tentu saja karena menyenangkan dan bisa membantu kita untuk terus bersyukur. Penulis asal Amerika yang telah menerbitkan banyak tulisan di media cetak dan daring serta sejumlah buku ini membuka tulisan dengan mengajak pembaca untuk mengenang masa indah sebuah kemenangan dalam pertandingan sepak bola: “Remember that one winning soccer goal you slipped in as a kid in elementary school? It all comes roaring back so fast–the way the crowd roared, the exuberance of your teammates, and the beaming smiles of your parents when they hugged you after the game.”

Mari kita ambil contoh lain, seperti memenangkan perkelahian untuk memperebutkan dambaan hati atau menerima pujian atas nilai yang sempurna. Kadang pengalaman indah tersebut adalah bukti bahwa kita telah bekerja begitu keras, teguh, dan pantang menyerah. Namun di lain sisi, kita mungkin akan menjadi seseorang yang busung dada. Keluar sebagai juara sering sekali membuat kita lalai untuk kembali bercermin. Setelah menang, saya tidak lagi rajin latihan, cepat puas diri tanpa upaya untuk mengevaluasi. 

Lantas siapa lagi yang bisa memberi pelajaran? Ya, kegagalan.  

Tahun berikutnya, kami pulang begitu cepat dengan wajah menunduk. Tim saya dibantai 8-0 tanpa ada kesempatan untuk menyerang. Itu pertandingan pertama dalam turnamen awal tahun dengan sistem gugur. Memang hidup hanya menunda kekalahan supaya saya bisa menang tanpa kompetisi, dengan pengertian yang lebih arif.

Dalam salah satu episode pada serial film Gotham—yang menceritakan kehidupan Bruce Wayne, Jim Gordon, dan tokoh DC lainnya—, Alfred Pennyworth (penjaga, pendidik, pelayan, dan teman setia Bruce Wayne) tengah melatih beberapa gerakan bela diri kepada Bruce cilik. Pada pagi itu, Alfred Pennyworth memberikan pesan, “Taking a punch is just as important as throwing one, Master Bruce.” Saya suka sekali dialog itu dan seketika sadar bahwa jatuh adalah bagian dari bangkit, begitu pula sebaliknya. 

Kini saya sudah tidak lagi sakit dengan kekalahan 8-0 pada 13 tahun yang lalu. Saya juga tidak lagi menjadi pendukung tim sepak bola karena ternyata saya hanya mencintai permainan sepak bola itu sendiri. Siapa pun tim yang bermain, saya mau menonton dan merasakan spirit dari setiap pemain yang bersungguh-sungguh. Lalu saya akan semakin merinding ketika melihat mereka yang tetap lapang dada, menerima kekalahan lewat senyum meski telah berjuang begitu keras, dan menjabat tangan lawan, berterima kasih kepada para pendukung. Di atas langit masih ada langit atau kesombongan manusia? Kita yang memilih.

Bangkit dari sakit hati anak SMP, saya jatuh lagi ke dalam jurang-jurang lainnya. Bayar cicilan, dikejar utang, disakiti cinta, ditinggal mati orang-orang tersayang. Belum ada tempat yang aman untuk terus merasa baik-baik saja, sukses, atau menang. Masih banyak kalah yang sepertinya harus saya lalui dan lubang yang mesti saya tempati. Setiap kali jatuh, saya hendak bangkit, tumbuh menguat. Kemudian saya akan berterima kasih kepada diri, sejalan dengan penutup Peter Economy dalam tulisan yang sama, “Lose a little. You’ll thank yourself for it in the end.”

Banyak sekali cerita tentang kegagalan. Sebut saja J.K. Rowling dan Paulo Coelho yang berkali-kali ditolak sederet penerbit, Michael Jordan yang tidak lolos tim basket sekolah, dan masih banyak lagi kisah tokoh publik soal titik terendah dalam hidup. Kita pernah babak belur dihajar hidup lalu merasa tidak berguna. Gagal, kalah, dan patah hati akan terus mampir. Selama kita melompat, pasti jatuh juga. Tidak ada salahnya. Sebodoh-bodohnya tupai yang jatuh, dia akan bangkit dan kembali melompat. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Keren mas Yudhistira, bahasanya ngalir banget. Saya jadi apa ya-speechless sama pengibaratan hidup yang dibikin dari awal baris puisi Chairil Anwar. Hidup hanya menunda kekalahan.