Jonna Damanik: Tunanetra dan Berdampak Bagi Semesta

Pada 2007, Jonna Damanik didiagnosis sebagai seorang tunanetra akibat penyakit glaukoma, yaitu tekanan bola mata yang berlebihan. Jonna pun mengikuti beberapa kali tindakan operasi. Tekanan bola mata yang sudah terlampau besar akhirnya berujung pada mata kanan Jonna yang buta total dan hanya dapat menangkap cahaya (light perception). Walaupun masih memiliki sisa penglihatan atau tergolong ke dalam kerusakan penglihatan low vision (kondisi ketajaman visual kira-kira sebesar 20/70), Jonna sempat mengalami guncangan saat menerima diagnosis kebutaan tersebut.

Namun di lain sisi, Jonna justru mengalami titik balik dalam hidupnya. Ketika sang istri memberhentikan asisten rumah tangga, adalah Jonna yang mengantar dan menjemput kedua anak mereka dengan angkutan umum. Jonna mengaku, banyak pelajaran yang ia ambil lewat aktivitas ini. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari proses Jonna untuk menerima keterbatasan diri dan bersyukur. Selain kasih sayang dari istri, kesetiaan ibu juga menjadi sumber kekuatan bagi Jonna untuk tidak menyerah pada keadaan. “Ibu saya selalu mendampingi,” ungkap Jonna. Pada suatu pagi, mereka bersama-sama membaca kitab suci dan ibu Jonna mengajukan sebuah pertanyaan dari satu artikel, “Bagaimana seorang tunanetra ketika berhadapan dengan Tuhan?”

“Dan ternyata jawaban Tuhan, setiap individu manusia, siapa pun, enggak peduli agamanya apa, punya tugas masing-masing ketika (menjalin) relasi individual dengan pencipta-Nya.”

Momen ini sangat memengaruhi langkah hidup Jonna, bahwa setiap manusia memiliki kewajiban untuk memuliakan Tuhan dan tidak ada yang harus disalahkan atas ketunanetraannya. Dia tidak menyalahkan dirinya sebagai alkoholik yang kemudian mengakibatkan glaukoma. Baginya, hal itu sudah berlalu. Sekarang saatnya membuka lembaran baru, berdampak bagi semesta, serta memuliakan sang Pencipta.

Keterbatasan justru mendorong Jonna untuk terus menunaikan hal-hal baik. Saat ini, ia aktif dalam lembaga yang didirikannya sendiri, Institut Inklusif Indonesia (I3) dan juga menjabat dalam Dewan Pengurus Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

Jonna turut memberikan komentar soal presentasi disabilitas dalam media. Menurutnya, ada aspek eksploitasi ketika media malah memanfaatkan disabilitas seseorang sebagai alat untuk mendongkrak rating. Tanpa memperlihatkan sisi humanis, media justru berpotensi membentuk labelisasi baru, bahkan mungkin, mengukuhkan stigma yang telah terbentuk. Semestinya, media bisa mengeksplorasi perjalanan seorang disabilitas menuju manusia yang lebih baik dan berguna. Banyak nilai-nilai edukatif di dalamnya.

Seberat apa pun disabilitas, Jonna percaya, tetap ada bagian dalam diri yang bisa berdampak baik bagi lingkungan sekitar. Jangan menganggap langkah kecil sebagai bagian yang terpisahkan dari proses menjadi manusia, sebuah roda yang terus bergerak untuk mengembangkan sisi kemanusiaan dan melakukan tindakan yang bermakna, meski memiliki banyak kekurangan. Intinya, semua manusia sama: mahluk yang diciptakan dengan potensi yang beragam.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top