Pada 24 Januari 2020, pukul 11.52, tingkat kemacetan Jakarta adalah sekitar 69%. Data ini saya peroleh dari TomTom, indeks yang menyediakan ranking kemacetan pada 403 kota di dunia dan updated data secara langsung.

Saya pikir setiap kota memiliki sudut macetnya sendiri-sendiri dengan tingkat yang berbeda-beda pula. Seluk-beluk penyebabnya pun beragam. Dalam indeks keluaran 2018, TomTom menempatkan Mumbai (India) sebagai kota pertama dengan tingkat kemacetan 65%. Berikutnya adalah Bogota (Kolombia), Lima (Peru), New Delhi (India, lagi), Moskow (Rusia), dan Istanbul (Turki). Jakarta menduduki posisi ketujuh dengan persentase 53%.

***

Pukul 12.07, kini 71%. Jakarta seperti bom yang hendak meledak. 

Sedari pagi hujan sudah mengguyur. Biasanya jalanan semakin riuh. Pengendara motor berteduh di bawah jalan layang, taksi online semakin gencar dipesan. Kadang kita yang tidak mau basah malah membuat antrean panjang di belakang dan mereka yang diburu waktu namun alpa mengantongi ponco harus merasakan akibatnya: kuyup tersendat.

Saya bilang di atas, seluk-beluk di balik macet tidaklah sederhana. Bagaimanapun, kebijakan penggunaan kendaraan pribadi, pengelolaan tata ruang kota, dan penggenjotan infrastruktur juga selalu memberikan dampak. Banyak tokoh yang terlibat dalam adegan kemacetan.

Sudah pasti, kadar polusi udara ikut meningkat. Namun selain itu, ada stres yang turut timbul. Carolyn Kylstra di Times menyoroti laporan Office for National Statistics U.K., “…that people with commute more than half an hour to work each way report higher levels of stress and anxiety than people with shorter commutes or no commutes at all.” 

Memang saya rasakan ada yang berbeda ketika meninggalkan bus kopaja dan metromini lalu rutin mengendarai motor pribadi. Tidak ada lagi waktu untuk merenung; memupuk asa dalam hidup; atau menata mimpi-mimpi supaya kembali rapi. Walaupun ternyata menumpang bus selama 30 menit atau lebih dapat memengaruhi level kepuasan diri, saya toh bisa memanfaatkannya dengan membaca buku atau menonton YouTube. 

Lain halnya jika saya harus mengejar janji. Kendaraan umum ‘kan kadang melewati rute yang justru menambah jarak? Jauh dari tujuan, kita seolah diminta untuk terus mengenang, kembali ke yang lampau, lupakan masa kini. Saya berkali-kali terlambat. Bukan hanya tubuh yang tidak tepat waktu, pikiran pun tertinggal jauh di belakang. Karena macet, meeting dengan klien jadi molor, pesta keburu bubar, dan restoran angkat kursi. Lima menit setelah menduduki kursi, orang lain bisa lebih dulu melingkarkan cincin di hati kekasihmu.

Dari stres, seseorang bisa melakukan aksi kekerasan untuk meluapkan emosinya. Penelitian Traffic and Crime (2017) oleh Beland dan Brent di Los Angeles menyimpulkan bahwa luapan emosi bisa berujung pada Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Pasti ada beberapa teman kita yang berubah galak di jalanan. Dulu, saya pun sering memaksa papa untuk main selepas pulang kantor, ia menolak dengan nada tinggi. Maka jangan heran, sebuah hubungan di kota-kota besar berpotensi hancur karena kemacetan, realitas yang mungkin telah mendarah dalam diri kita sehingga tidak lagi dianggap sebagai sebuah penyebab.

***

Hujan mulai mereda pukul 12.36 dan angka sedikit surut menjadi 59%. Barangkali, jalanan selayaknya kamar tidur yang sukar untuk dibenahi; barang-barang terserak dan pikiran yang tidak tenang. Apakah pukul 6 sore nanti, titik akan maksimal di angka seratus, saat kita sedang berdesak-desakan untuk menghabiskan Jumat malam?

Tidak ada yang bisa menjawab. Semua gusar, saling menyalip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment