Dongeng tentang Cahaya

Aku selalu suka dengan cahaya. Di dalam lagu, puisi, sinema, bahkan obrolan sehari-hari, tanpa sadar ada cahaya yang masuk menembus ke relung kita. Dan sebagaimana manusia yang sarat dengan kegelapan, ia menelanjangi segala misteri yang aku pungut dari lika-liku hidup.

Aku masih ingat pertemuanku dengan cahaya. Musim silih berganti, aku melewatinya dengan kesumat dan geram, bahwa penderitaan orang lain tidak akan pernah menjadi tanggung jawabku sekalipun aku bisa melakukan sesuatu. Tidak, tidak. Aku enggan berbagi sebab kecewa selalu menjadi jawabannya.

Tidak lama setelah aku berpikir demikian, seperti ada mata yang mengintaiku dari kejauhan. Di kursi gerbong kereta, di kolong tempat tidur, di dasar gelas kopi yang aku tenggak habis, ada sesuatu yang mengikutiku. Pada suatu malam, ia berhenti menguntit; menunjukkan rupanya yang berpijar. Tidak ada wajah, tubuh, perilaku, bahkan mata yang selama ini aku curigai.

Aku memicingkan mata di hadapannya, sedikit saja, sebab meskipun ia adalah cahaya, sinarnya tidak menghujam atau menghakimi. Cahaya seperti tiket untuk perjalanan panjang, roda yang mengantarku menuju pembalasan dendam yang paling bijaksana, yaitu menjadi insan yang lebih baik dan mau mewartakannya.

“Sudah saatnya, kau harus melepaskan,” cahaya berbisik lirih, penuh belaian yang hangat di dada sementara di luar sana, hitam pekat telah menyelimuti sudut-sudut bumi dan bintang serta bulan sedang tersipu, enggan menerangi.

Lalu, cahaya membelai kembali. Kali ini, kalimatnya lebih jelas, singkat dalam irama namun begitu membekas, mengiang di kepala, dan memberi kesan teramat dalam. Lambat laun, di dalam diriku, terjadi sebuah pembunuhan. Lewat ciuman yang sekilas, cahaya membuka setiap relung yang terkunci di dalam tubuhku. Aku telanjang di hadapan rahasia, bahkan mengakui dosa pertamaku sebagai manusia.

Amarah-amarah itu runtuh begitu saja. Masa lalu dibakar habis. Terdengar sorak sorai yang menuntut penguasa lalim untuk mundur, bahwa kita adalah bagian dari kegelapan; dan oleh sebab itu dibutuhkan sedikit cahaya untuk menjadi satu kesatuan.

Cahaya telah ada di dalam diriku, membasuh apa-apa yang harus dibersihkan.

“Betapa aku beruntung, bertemu denganmu, cahaya, dan aku bersih dalam sekejap,” kataku.

“Tugas kita belum selesai. Bukankah sudah aku bilang bahwa perjalanan masih panjang?” Balasnya.

Sejak saat itu, setiap ucapan, sentuhan, juga perbuatanku, menciptakan cahaya. Ia menular, menjalar menjadi tangan yang melambai hangat di tengah perpisahan, mengusap airmata di pipi orang-orang yang lelah, serta menyimpul senyum setelah hari yang menyesakkan dada.

***

Semoga satu cahaya dariku bisa terus berbuah kebaikan; mulia yang terbagikan, menjelma cahaya-cahaya yang lain sehingga terang dapat menenangkan dunia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top