folder Filed in Perspektif, Yang Akan, Yang Harus
Cerita Ernest Prakasa Soal Bangkit dari Kegagalan
Kendati kita tidak bisa memuaskan semua orang, lepas dari hinaan dan penilaian, jangan takut untuk terus mencoba.
Yudhistira comment 0 Comments access_time 3 min read

Dalam episode Berbagi Perspektif “Jadi Orang Cina di Indonesia?”, Menjadi Manusia membagikan cerita perjalanan seorang komedian, penulis, dan sutradara film layar lebar, Ernest Prakasa.

Sebelum berkarier sebagai pelawak tunggal, Ernest menggeluti industri musik nasional pada 2005—2011. Saat itu ia tergabung ke dalam salah satu label rekaman ternama. Jalan hidupnya menemui persimpangan, sebuah titik balik, ketika Ernest lolos audisi Stand Up Comedy Indonesia Season 1. Ia meninggalkan pekerjaan kantoran yang telah ditekuni selama enam (6) tahun dan mencoba peruntungan baru.

“Terus ikut kompetisi, akhirnya finish di posisi (ke-) 3, cukup patah hati. Mungkin itu salah satu titik terendah…”

Sempat ada rasa kecewa yang tumbuh kala Ernest gagal memasuki babak Grand Final Stand Up Comedy Indonesia. Sebetulnya, ia sungguh berharap bahwa keputusannya meninggalkan pekerjaan tetap bisa dibayar dengan keberhasilan bertengger pada perebutan juara 1. Patah hati dan titik rendah ini bahkan pernah membuat mental Ernest jatuh.

Kegagalan itu hal yang biasa, ungkap Ernest. Salah satu cara yang pernah ia tempuh untuk melewati fase tersebut adalah berdoa. Walaupun ia sebut sebagai solusi yang klise, Ernest berhasil bangun. Saya pun bakal melakukan pengaduan serupa jika sedang terperosok. Ditambah lagi, Ernest meluangkan lebih banyak waktu dengan sang istri dan anak untuk menyerap energi-energi positif yang bisa menguatkan diri.

Pulih dari kekalahan tidaklah mudah. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bangkit? Tidak ada yang tahu, tidak pasti, dan tidak penting. Ernest pun lupa. Ia menikmati proses, menganggap sakit sebagai bagian pasti dari hidup. Akan tetapi, kita bisa belajar satu hal: sadar bagaimana cara menyalurkannya. Bagi Ernest, distraksi adalah cara ampuh untuk melepaskan stres; mengalihkannya menjadi karya dan menggenjot kreativitas.

Bangkit dari jatuh, Ernest Prakasa menuliskan namanya sebagai komedian pertama Indonesia yang menggelar tur komedi tunggal.

Kegagalan tidak membuat Ernest patah asa. Ia tidak menyerah atau memilih kembali ngantor. Di sini, Ernest telah mengetahui apa yang dia mau dan menguntungkan baginya. Selain memang penghasilan dari dunia komedi lebih memadai, Ernest melihat panggung Stand Up Comedy sebagai terapi untuk diri sendiri.

“Dengan membahas kehidupan kita dan menyajikannya di panggung untuk diketawain sama-sama itu buat saya jadi terapi.”

Pun berkat komedi, Ernest tidak lagi menyesal beretnis Tionghoa. Ia mengangkat stigma yang menyelubunginya ke atas panggung, menertawakannya bersama-sama. Dari lelucon, Ernest justru bisa memaafkan dan terus berjalan. Ernest memang tidak berhenti, kerap mencoba hal baru, menjadikan hidup sebagai proses yang terus-menerus. Ia memijakkan langkah dalam industri film dengan menyutradarai Ngenest (2015).

Tidak ada bayaran sebagai sutradara, Ernest menganggap tawaran tersebut layaknya beasiswa, sebuah kesempatan yang mungkin tidak menghampiri banyak orang.

Pada akhir video, Ernest memberikan pesan kepada siapa pun yang sedang berjuang dalam hidup. Jadilah manusia yang seutuhnya dengan segala kekurangan dan kelebihan. Kendati kita tidak bisa memuaskan semua orang, lepas dari hinaan dan penilaian, jangan takut untuk terus mencoba. Toh, hanya ada dua kemungkinan, kata Ernest, berhasil atau belajar.

Gagal bukan game over.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment