Saya percaya, memberi dengan mengharapkan balasan bukanlah cinta. Dan kita punya sisi dalam diri untuk bersikeras memenuhi kebutuhan, bahkan menjaga dan menguasainya demi napas yang langgeng. Ada pertanyaan yang berbalik ke saya, apakah saya betul-betul mencintai bumi jika sebetulnya saya hanya ingin hidup dan kematian adalah hal yang sering saya tunda?

Conservation International menyatakan bahwa alam tidak membutuhkan manusia. Hingga saat ini, sayalah yang bergantung sepenuhnya kepada tanah beraspal untuk pergi ke kantor. Kalau hujan, saya menepi. Beberapa kali saya duduk di dalam pesawat terbang dan membayangkan gravitasi, yang mungkin suatu saat, tidak lagi mau kompromi. Jatuhlah engkau, wahai manusia. Dan saya takut untuk mati, padahal, tidak sedikitpun yang pernah saya benar-benar berikan untuk bumi. Jauh dari sikap mencintai, saya dan beberapa dari kamu adalah mahluk yang sangat membutuhkan alam.

Nature Is Speaking

Sewaktu malam tahun baru kemarin, saya sempat mengeluhkan hujan yang membuat saya harus meneduh di warkop dekat M Bloc Space, Jakarta Selatan, sampai pukul setengah lima pagi. Akhirnya saya terabas saja. Basah semuanya. Mungkin langit ingin mengatakan sesuatu dengan lantang, supaya tidak ada kembang api yang semaunya sendiri menggelar pesta. Langit terpaksa mengambil momentum yang pas karena selama ini, ia telah mecoba mengisyaratkan dan hanya segelintir yang mendengar atau berbuat sesuatu. Sisanya, termasuk saya, tidak tergerak barang sedepa sebelum merasakan dampak yang signifikan.

Sesampai di rumah dan bersalin pakaian, saya merangkai sebuah skenario, andai kata saya dan alam adalah sepasang kekasih yang pernah menjalin hubungan mesra. Di tengah jalan, saya harus pergi, mungkin menebang pohon untuk membangun rumah yang nyaman:

Siapa yang sangka kalau kita sudah tidak saling memahami satu sama lain.

Saya mengenang hari-hari terbaik bersama hujan dan matahari. Sekali lagi menyatu dengan alam dan berharap bisa memperbaiki kegagalan di masa lalu, mengais kesempatan. Saya ingat, waktu pertama kali mandi hujan. Tidak ada yang menderita kala itu, baik airmu yang turun atau saya yang kuyup tertawa. Esoknya saya bakal membuka pintu dan jendela, menyeduh teh hangat dengan sedikit gula, lalu menjamu sapaanmu di beranda pukul tujuh pagi. Kamu selalu cerah gembira mengingatkan saya akan mimpi-mimpi yang patut dikejar. Dan sebagaimana yang saya pahami waktu itu, saya selalu mau menjaga dan merawatmu.

Perlahan-lahan saya absen membuka pintu dan berjemur di beranda. Saya pun tidak lagi serutin itu menyeruput teh hangat dengan sedikit gula di hadapanmu, membentuk bayangan yang mesra dari setiap sinar itu. Sesekali kamu berusaha lebih, menghampiri saya di tengah-tengah perjalanan dengan meluapkan air dari langit. Entah, saya juga lupa kenapa waktu itu saya lebih memilih untuk berteduh di kedai sepi. Saya membakar rokok dan menolak rindumu, habis-habisan.

Saya berkhianat. Bahwa saya akan selalu membuang hal-hal yang tidak perlu pada tempatnya, serta memupuk dan menyirami benih-benih dengan saksama, semuanya saya langgar, berbelok ke sana kemari, membakar komitmen demi pencarian diri dan merasa penuh di tempat lain. Terlambat saya sadari, kalau apa yang kita rumuskan adalah sebaik-baiknya cinta bagi masing-masing.

Saya tidak dengar gelagatmu waktu itu, padahal kamu ingin bercerita. Dan bahkan meminta maaf saya yakini sebagai permohonan yang terlampau serakah saat ini. Jadi tidak ada yang bisa saya lakukan setelah ini, selain…

Selain mencintai lebih baik lagi. Saya masih mau hidup dan melakukan banyak hal mulia. Justru itulah saya mesti mencintai bumi, yang berarti, saya juga harus belajar lebih giat mencintai diri sendiri. Ketika saya mengkhianati alam, saya berarti menyakiti diri sendiri. Bahkan, juga melukai orang-orang lain yang saya cinta.

Di lain hal, saya kira egois untuk menganggap manusia sebagai satu kesatuan dari alam. Manusia hanya numpang, seorang tamu yang sekadar singgah. Bukankah, apabila tuan rumah sudah begitu ramah mempersilakan dan memberi, tidak ada cara lain yang dapat kita berikan di luar bersikap sopan dan tahu diri?

Barangkali seperti kisah cinta pada umumnya, saya mau mencoba lebih keras, tekun mendengar, dan turun merawat. Sudah saatnya naik transportasi umum, membawa tumbler pribadi, atau mengingatkan teman-teman sekitar dan menjadi menyebalkan? Ini hal-hal kecil tapi patut dijalani. Januari adalah awal yang menantang, yakni menjadi teman terbaik yang sedang bertamu.

Sebelum sampai ke situ, kita tahu alam sedang geram. Dia berhak. Mari kita memahami dan menerima kemarahan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. tulisannya sangat menampar hati saya, terima kasih sudah menyadarkan tentang siapa kita sebenarnnya dibumi ini. dan menyadarkan pentingnya turun merawat bumi mengingat kita masih ingin hidup dan melakukan hal hal yang mulia

  2. Saya rasa banyak diantara kita, berpikir seperti ini. Tapi minus gebrakan.
    Terima kasih untuk catatan baik hari ini. Aku menyukainya.