Berhenti Menghakimi Proses Orang Lain

Saat menonton film atau membaca novel, kita sering kali menemukan tokoh dengan sifat yang berubah-ubah. Ternyata sang protagonis memiliki sisi jahat sebagaimana antagonis mempunyai hati nurani untuk berbuat kebaikan. Dalam transisi tersebut, yang terpenting adalah menyaksikan perjalanan batin para tokoh. Kemudian dari situ, kita bisa mengetahui musabab tindakan yang bertolak dari peristiwa tertentu atau lingkungan sekitar.

Menurut saya, manusia adalah tokoh yang selalu berubah-ubah, dinamis, fleksibel, yang membuktikan pertumbuhan. Tidak ada yang sepenuhnya hitam dan seluruhnya putih. Kalaupun ada, saya rasa sifatnya insidental, hanya berlaku untuk waktu tertentu, tak abadi seperti dengan anggapan atau nilai yang kita pegang. Sewaktu-waktu, mereka bisa berubah sesuai dengan kebutuhan kita sebagai manusia. Ada pergulatan emosi yang mesti dilalui, trauma masa kecil, perpisahan yang membekaskan pedih, kepercayaan yang lekang akibat belati pengkhianatan, bahkan pengorbanan yang sepertinya tidak pantas dilakukan. Lalu dengan mudahnya, kita mengecap buruk mereka sebagai pribadi yang tidak berpendirian, labil, dan terlalu sensitif. Lebih-lebih, kita langsung menjatuhkan stigma negatif terhadap perjalanan mereka sebagai hasil yang final alih-alih selaku fase metamorfosis; mengecilkan proses yang mereka alami.

Kita memang sering kali lupa bahwa setiap manusia memiliki prosesnya sendiri-sendiri; bahwa gagal merupakan keniscayaan dalam hidup, air mata mesti tumpah pada waktunya, bahkan keberhasilan seseorang tidak semerta-merta matang dalam tempo yang instan. Di saat yang bersamaan, adakalanya kita merasa mumpuni menjadi pahlawan bagi mereka sehingga berhak menginterupsi bahkan menghakimi perjalanan orang lain demi menjadi manusia berdasarkan standar kita. Padahal bisa saja tanpa disadari, tolok ukur kita berubah dari hari demi hari.

Ingat, kita tidak akan pernah mengenali diri sendiri dengan paripurna, apalagi orang lain. Setiap hari adalah topik baru yang dipelajari untuk memahami diri sendiri, sebuah kurikulum besar dalam kehidupan. Oleh sebab itu, bagaimana kita betul-betul bisa memahami orang lain, bahkan sempat-sempatnya memberikan penilaian yang sahih atas proses yang mereka jalani?

Saya jadi ingat salah satu kutipan dalam novel Bumi Manusia (1980) karangan Pramoedya Ananta Toer: “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”

Selalu ada titik yang luput dari pemahaman manusia.

Berbagi sudut pandang tentu boleh. Namun, menghakimi perjalanan hidup seseorang hampir sama dengan memaksakan makanan favorit kita kepada lidah orang lain. Buat saya, mengharuskan orang lain untuk mengikuti jalan kita berarti mengecilkan nilai mereka sebagai manusia yang sedang tumbuh; seolah kita tidak memercayai setiap perenungan mereka. Berhentilah mengadili. Ingat, masing-masing lidah punya cita rasa dan alasan yang tidak sama; setiap kita tengah mengarungi proses yang berbeda.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top