Bagaimana Caramu Menerima Kekurangan Diri?

Dulu, semasa SMP, saya pernah malu untuk becermin. Di hadapannya, saya seperti aib: kulit hitam, kurus seperti kurang makanan, gigi bergingsul, jidat lebar, dan wajah kusam. Pada rentang 2007 hingga 2009, saya tidak percaya dengan penampilan diri sendiri. Bahkan, saya waktu itu berdoa kepada Tuhan, Ya Allah, perbaikilah rupa saya. Konyol sekali, ‘kan?

Kalau dipikir-pikir, dulu, bagi saya permintaan itu tidaklah konyol. Saya tidak berpikiran untuk operasi. Maka, ya, saya cuma bisa berdoa saja. Namun, lama-kelamaan, saya berhenti memanjatkan doa itu, bukan karena merasa sia-sia, melainkan karena lupa. Sesederhana dan serumit itu. Kenapa sederhana? Kalau dilihat-lihat, proses yang saya alami lumayan lucu, yakni menerima kekurangan dengan melupakan kekurangan. Atau mungkin juga, secara tidak sadar, saya sudah menutup kuping rapat-rapat dari omongan orang yang demikian tajam. Hingga hari ini, besar kemungkinannya saya tidak mau bermain dengan mereka yang menghakimi orang-orang dari segi fisik. Saya tahu, sejak dalam pikiran, kita ini makhluk yang susah untuk adil–meskipun Pram dalam novelnya pernah menyiratkan petuah serupa. Namun, apabila penilaian dari seseorang sudah berujung pada penghakiman yang hitam-putih, yang dikotomis dan absolut, percayalah saya tidak menyediakan telinga untuknya.

Pada lain sisi, proses yang saya lalui pun bisa dibilang rumit. Saya bukan seorang pelupa ulung. Jadi, ketika ada suatu hal yang begitu memengaruhi hidup tapi saya berhasil melupakannya, berarti, itu termasuk rumit. Setidaknya, bagi saya.

Satu hal lain yang membuat saya bisa menerima kekurangan fisik adalah prinsip “bodo amat”. Saya tidak mau ambil pusing tentang penampilan biologis yang tidak bisa diubah dan fokus ke dalam, sesuatu yang sifatnya lebih internal, entah itu empati, wawasan, bahkan kemampuan teknis. Saya pernah, kok, pergi ke tempat facial. Bayangkan, seorang lelaki tinggi dengan rambut gondrong merawat wajah dan memakai krim muka. Loh, katanya saya tidak mau ambil pusing tentang penampilan biologis? Iya, tapi bukan berarti saya tidak ada niatan untuk merawat diri. Hal ini semata-mata saya lakukan karena ingin menjadi bersih. Saya tidak peduli juga jika orang-orang melabeli saya dengan predikat lelaki cantik.

Begitulah. Kita sama-sama tahu bahwa perkara fisik akan dilunturkan oleh waktu. Bahkan, sifat pun bisa berubah seiring dengan mendekatnya hari tua. Artinya, sedikit sekali kesempatan saya untuk memupuk kebijaksanaan sebagai bekal pada usia senja nanti. Lebih dari itu, banyak perilaku saya yang juga harus dibenahi. Mengapa saya harus sangat repot dengan urusan fisik?

2.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top