Meninggalkan dan Ditinggalkan

Kata orang, kehilangan yang paling menyakitkan adalah saat kita kehilangan sesuatu yang tidak lagi ada di bumi. Benarkah? 

Aku rasa memang iya. Namun sengaja ditinggalkan juga tidak kalah menyakitkan, bukan? Menitipkan sebagian hatinya sebagian hatinya lalu pergi begitu saja tanpa alasan? Ini menyakitkan. Manusia memang senang bermain-main perihal hati, mencari tempat berteduh di mana pun ia ingin. Hingga akhirnya tempat itu tidak lagi berpenghuni dan semuanya berakhir. Dalam hidup, seseorang pasti mempunyai sebuah pilihan, dan sekarang takdir menyuruh kita untuk memilih antara meninggalkan dan ditinggalkan. Kau dan aku harus memilih salah satu dari dua pilihan itu. Namun rupanya kau sudah memilih untuk meninggalkan. Ternyata takdir menyuruhku untuk memilih yang kedua, yakni ditinggalkan. Kata yang dipilih takdir untukku memang menyakitkan. Tetapi mau tidak mau, itulah yang akan terjadi dan pasti terjadi. 

Aku ingat ada sebuah kejutan dari Tuhan untukku. Ia mengirimkan seseorang untuk menemaniku dan menyayangiku. Tidak tahu mengapa Ia mengirimnya untukku, sedang aku tidak memintanya. Namun kejutan itu sangatlah berarti, aku menerimanya, menjadikannya seseorang paling istimewa dalam hidup. Aku selalu punya alasan untuk tetap tersenyum bersamanya. Hingga pada akhirnya aku sudah tidak lagi memiliki alasan apa pun untuk tetap tersenyum. Seseorang yang Tuhan kirim ternyata sedang menciptakan kebahagiaan kepada orang baru. Lalu, apa maksudnya ini? 

Tuhan mengirimnya sebentar, lalu menariknya.

Tuhan membawanya padaku, lalu membawanya pada orang lain.

Sempat ingin marah kepada-Nya, namun akan lebih baik jika aku marah kepada diriku sendiri. Aku marah pada perasaan yang tidak bisa kuubah. Aku marah pada dunia dan seisinya, aku marah kepada dia yang menelantarkanku sendirian. Menangis memang tidak bisa mengubah apa pun, tetapi air mata tidak akan pernah berbohong hingga pada akhirnya aku mencoba untuk meredam semuanya. Tuhan tidak salah, seseorang yang dikirim-Nya pun tidak salah. Sesuatu yang datang dari-Nya adalah sebuah kebaikan. Dan untuk membuktikannya adalah dengan mengikhlaskan. Jika sebelum hadir di dunia aku tidak membawa apa pun, yang aku dapatkan di dunia memang bukanlah milikku melainkan milik yang Maha Kuasa. 

Ada satu ketenangan saat kita sadar bahwa seseorang yang meninggalkan kita tidak selamanya buruk. Justru kebahagiaan akan datang lebih besar setelahnya; mengikhlaskan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan yang lain. Aku selalu percaya pada takdir. Aku selalu percaya bahwa yang pergi akan digantikan dengan kepulangan. Selalu ada kata lebih pada setiap sesuatu yang ditinggalkan. Mungkin meninggalkan adalah sebuah pilihan sulit bagi sebagian seseorang, karena ia tahu akan melangkah sendirian setelahnya. Akan tetapi, ditinggalkan akan jauh lebih sulit diterima untuk sebagian besar seseorang, termasuk aku. Karena kenyataannya aku tidak lagi menjadi alasannya tersenyum setiap hari. Namun untuk terus hidup dan tersenyum bahagia kita hanya butuh satu cara, yaitu dengan mengikhlaskan apa pun yang telah terjadi, karena hal-hal yang telah terjadi tidak perlu disesali, cukup direlakan. Ikhlas itu merelakan, ‘kan?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top