Tong Kosong yang Tak Nyaring Bunyinya

Tersebutlah mereka Tong Kosong yang Tak Nyaring Bunyinya, sebab mulut-mulut mereka dirampas, hati-hati mereka direnggut, disisakan kepada mereka badan-badan besi yang sekiranya sanggup menghasilkan pundi-pundi yang mereka sebut sebagai (halah) kehidupan.

Seseorang juga pernah berkata kepada saya bahwa kehidupan tak perlu dirasa-rasa. Hiduplah untuk makan, kau hanya tinggal perlu menelan saja, tidak usah dirasa-rasa agar hidup tidak menderita.

Kemudian saya mencoba mengikuti sarannya, saya berlari sejauh mungkin dari diri saya sendiri. Kemudian memotong lidah agar tidak bisa merasa-rasa. Sudahlah, cukup kenyang di perut saja.

Saya juga menghindari malam, karena bermimpi adalah kegiatan memalukan yang hanya bisa dilakukan oleh anak-anak saja. Tidak untuk saya yang sudah dewasa, yang ketika malam pun masih diharuskan untuk bekerja.

Orang dewasa tidak diizinkan untuk bermimpi. Saya masih ingin menjadi anak dari ibu saya, yang dipaksa tidur dan bermimpi walau siang hari. Atau setidaknya saya ingin bisa menjadi Tong Kosong, yang hatinya entah tertinggal di mana.

Akan tetapi, konon katanya orang yang paling bisa merasakan kesedihan secara lantang adalah orang yang paling bisa merasakan kebahagiaan secara lantang.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top