folder Filed in Sekitar
Catatan dari Seorang Manusia Lamban
Apa jawaban kalian jika dihadapkan pada pertanyaan, “apa tujuan hidupmu?”
Dhingga Hererha comment 9 Comments access_time 6 min read

“Saya adalah seorang manusia lamban,” gumam sesosok perempuan sembari tercengung menatap lembar curriculum vitae miliknya yang kosong. Segudang pertanyaan membanjiri pikiran perempuan itu, diikuti dengan suara-suara yang datang dengan nada menyalahkan. Pun segenap rasa sesal di dasar hati yang sulit untuk beranjak pergi.

 

“Apa saja yang selama ini sudah kau kerjakan?” “Prestasi apa yang selama ini sudah kau hasilkan?” “Apa saja yang sudah kaugapai?” “Ke mana saja sih selama ini?” “Mengapa kau malas sekali, hah???”

Perempuan itu adalah saya,  seorang manusia lamban.

Beribu-ribu ketakutan muncul dalam pikiran saya, bermula ketika saya dinyatakan lulus dari sebuah perguruan tinggi. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya tulis di kolom pengalaman curriculum vitae saya jika selama ini saya tidak melakukan apa-apa. Perusahaan macam apa yang akan menerima orang seperti saya?

Saya juga tidak dapat membayangkan diri saya, dipaksa untuk pergi meninggalkan kota yang baru saja berhasil membuat saya nyaman. Kota yang menjadi tempat saya untuk tidak melakukan apa-apa. Kota, tempat saya membuang hampir separuh dasawarsa waktu hidup saya. Kota yang awan hitamnya selalu menyelimuti tubuh saya. Yang kian pekat mencengkeram, hingga saya tak dapat bergerak ke mana-mana. Hingga saya tidak mampu melakukan apa-apa.

Jika sebagian besar mahasiswa mengisi kehidupannya dengan berbagai macam kegiatan seperti organisasi, kepanitiaan, UKM, magang, atau serangkaian kegiatan produktif lainnya, berbeda halnya dengan saya. Saya menghabiskan waktu saya hanya untuk mengikuti kegiatan perkuliahan, lalu pulang ke kamar indekos sembari mengutuk keharusan menuntut ilmu. Yang saya sukai dari kota itu hanyalah sebuah ruangan berdinding empat sisi. Dinding yang menjadi saksi atas isak-isak saya setiap malamnya. Dinding yang menjadi saksi ketika saya membiarkan saya menyakiti pergelangan tangan saya sendiri. Dinding yang menjadi saksi ketika saya bergelut dengan pikiran saya sendiri serta jeritan-jeritan yang mendorong saya untuk mati.

Depresi menggerogoti pikiran saya. Bak sel penyakit yang kian lama kian menjalar, semakin liar hingga sanggup membutakan nalar. Depresi membatasi ruang gerak saya, hingga saya menjadi makhluk yang sangat lamban. Depresi mengurung saya dalam sebuah dimensi yang lini masanya terhenti hanya untuk diri saya sendiri. Dan ketika saya berhasil keluar, saya telah tertinggal oleh banyak hal. Rasanya seperti menjadi seorang bayi yang baru dapat merangkak, sementara yang lainnya sudah mampu berjalan dan berlari.

Namun saya menyadari, kehidupan akan terus berjalan bukan? Setidaknya itulah jalan yang telah saya pilih. Saya memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Berikut adalah hasil kontemplasi panjang saya. Catatan kecil tentang hal-hal baik yang saya peroleh dari semua keterlambatan saya. Catatan kecil yang saya buat untuk perlahan menerima, serta belajar memaafkan diri saya sendiri.

1. Lamban Menjadikan Saya Seorang Manusia

Berapa banyak dari kita yang mengaku sebagai manusia, namun tak sepenuhnya menjalankan peran sebagaimana layaknya seorang manusia? Berapa banyak dari kita yang mengaku sebagai manusia, namun tak memiliki keberanian untuk mengakui ketidaksempurnaan yang ada dalam diri kita sendiri? Menjadi manusia adalah menjadi sadar, sadar bahwa kita semua (manusia) terlahir cacat.

Katakanlah bahwa semua manusia terlahir ke bumi ini dengan sebuah pena dan selembar kertas berwarna putih. Pena dan kertas itu diberikan oleh Tuhan supaya kita dapat mencatat pelajaran-pelajaran telah yang kita terima sepanjang hidup. Lambat laun manusia mulai kehilangan penanya. Manusia mulai lupa akan pelajaran mencatat. Manusia terlalu fokus pada pekerjaan menjaga kertas agar selalu senantiasa putih.

Manusia lupa untuk menjadi seorang manusia.

Menjadi lamban adalah cara alam mempertemukan saya dengan pena saya yang hilang; cara alam mengisi lembaran kertas putih yang saya miliki dengan berbagai pelajaran; cara alam menyadarkan saya, bahwa di dunia ini tak ada yang benar-benar putih; cara alam menyadarkan saya, bahwa tak semua hal di dunia ini dapat saya kontrol. Cara alam menyadarkan saya, bahwa saya hanyalah manusia yang tak harus sempurna.

2. Kita Butuh Waktu untuk Mengerti

Jika waktu adalah seorang manusia, ia adalah sesosok manusia yang dicintai sekaligus dibenci, dicari sekaligus dijauhi, dan ditunggu sekaligus disuruh pergi.

Menjadi lamban mengajarkan saya untuk mencintai waktu, lebih banyak daripada kebencian saya terhadap waktu. Lamban mengajarkan saya untuk melihat waktu sebagai proses, ketimbang sebagai musuh yang harus saya perangi. Saya dibuat sadar akan banyaknya hal-hal di dunia ini yang belum dapat dijawab oleh diri kita sendiri. Bahwa kita tidak sendiri di dunia ini untuk dapat memecahkan hal-hal yang belum kita ketahui.

Kita semua butuh waktu sebagai teman untuk berdiskusi. Kita semua butuh waktu untuk mencari. Kita semua butuh waktu untuk mengetahui.

Dan kita semua butuh waktu sebelum akhirnya kita dapat mengerti.

3. Tidak Ada Manusia yang Persis Sama

Setiap manusia dilahirkan dari keluarga yang berbeda, cara didik yang berbeda, kondisi perekonomian yang berbeda, background lingkungan yang berbeda, privilese yang berbeda, juga terbentuk dari sel-sel biologi yang berbeda, kondisi fisik yang berbeda, serta berjuta-juta faktor lainnya yang membedakan manusia satu dan yang lainnya.

Kemudian, apakah adil jika kita menuntut diri untuk bisa mendapatkan hasil yang sama dengan orang lain?

Menjadi lamban mengajarkan saya, bahwa sebagian manusia memang dibentuk tidak untuk menjadi seorang pelari. Sebagian manusia dibentuk untuk menjadi seorang perangkak, untuk menjadi para pemikir serta perasa yang keras, sampai mampu mengkaji serta memaknai kehidupan lebih dalam dari manusia-manusia yang lainnya.

Menjadi lamban mengajarkan saya untuk mengubah apa yang tadinya saya anggap sebagai kekurangan menjadi sebuah kekuatan.

4. Dunia Bukanlah Perlombaan

Apa jawaban kalian jika dihadapkan pada pertanyaan, “apa tujuan hidupmu?”

Saya tiba-tiba teringat bagaimana kepala saya mengangguk-angguk ketika diberi wejangan oleh orang tua dan kakek nenek saya semasa kecil. Mereka berpesan agar kelak saya menjadi orang yang sukses serta menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Namun seiring saya beranjak dewasa, dunia seolah semakin menjauhkan saya dari sisi anak-anak saya yang penuh dengan mimpi-mimpi serta kebaikan yang tulus. Saya menjadi semakin lupa sehingga terbuai oleh dunia yang membelokkan tujuan hidup saya untuk menjadi yang tercepat. Hingga pada akhirnya, dunia pula yang menghadapkan saya pada rasa lelah.

Menjadi lamban mengajarkan saya untuk kembali mengingat tujuan hidup saya yang sebenarnya. Bukan perihal siapa yang tercepat dan siapa yang berhasil sampai, tapi perihal kenapa saya harus sampai dan bagaimana caranya untuk sampai. Bukan pula perihal siapa yang tercepat, namun kenapa harus cepat dan bagaimana supaya tetap bergerak.

Menjadi lamban mengajarkan saya bahwa dunia bukanlah perlombaan, karena masing-masing manusia di dalamnya memiliki peran sebagai seorang pemenang.

***

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwasanya bukan hal yang mudah untuk saya dapat menuangkan kisah paling gelap yang pernah saya alami. Sebab sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih sering mendapati diri saya mengutuki semua ketertinggalan saya.

Namun tak mengapa, sebab saya adalah manusia yang lamban. Dan setiap kita punya kecepatan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Hal yang sama, bahkan sedang terjadi. Terkadang saya harus menguatkan saya bahwa saya akan baik-baik saja. Terkadang yang menguatkan yang paling butuh dikuatkan

    See u on top

  2. Tulisan ini seperti menceritakan sisi hidup saya selama ini ternyata saya tidak sendiri. Sangat menguatkan saya

  3. Sama mba, depresi telah membuat saya tertinggal. Mba enggak sendiri, saya sudah usia lebih dari 30, tapi masih jauh dari kata sukses. Ayo Mba, bangkit lagi.

  4. Kerennn banget Dhing tulisannya. Gue setuju dengan poin-poin yang lo tuliskan di atas.
    Semoga lo sukses selalu dan membuat banyak lagi tulisannya.