Dunia adalah sebuah pesta dengan ribuan panggung di dalamnya. Kita, punya kekuasaan penuh, untuk menjadi penonton atau peserta dari berbagai suguhan acara. Sayangnya kita kerap lupa bahwa kita adalah penentu arah dan akhir dari cerita yang bisa kita percaya.

Kehidupan merupakan sekumpulan pilihan, pertanyaan-pertanyaan pada lembar ujian yang menawarkan jawaban-jawaban tidak pasti. Terkadang kita tidak benar-benar memahami, hingga kita terjatuh memilih jawaban-jawaban yang kurang tepat dari yang kita yakini.

Beberapa dari kita memandang pilihan sebagai hal yang menakutkan. Mereka berkata; “Cari yang nyaman supaya aman.” Tetapi berikutnya mereka berkata, “Kau harus keluar dari zona nyaman supaya bisa berkembang.” Ketika berinovasi dianggap tidak konsisten, ketika mempertahankan rasa aman malah dianggap sebuah repetisi.

Ada alasan atas segala keputusan hidup yang kita ambil. Sebab, sebelum mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita sudah memperhitungkan resiko apa yang akan kita hadapi nanti, juga siap atas pertanggung jawabannya. Namun pada akhirnya, sebuah jawaban tentu akan menyesuaikan dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Apa saja hal yang kamu perhitungkan jika keputusanmu memiliki dampak besar bagi banyak orang? Sebuah negara misalnya? Memilih dua manusia yang nantinya akan memimpin kita semua. Jalan mana yang akan kau pilih?

Mungkin beberapa dari kita merasa bahwa pilihan-pilihan yang disediakan tidak sepenuhnya mewakili keinginan serta angan-angan kita akan perubahan. Namun pada akhirnya kita hidup di negara demokrasi, bukan? Kita semua memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan sebuah negeri, yang dapat mengubah hidup kita nanti.

Para calon pemimpin memiliki latar dan visi yang berbeda, namun kita harus percaya bagaimanapun juga tujuan mereka adalah membangun Indonesia. Kita memilih yang menurut kita paling bersih. Kita memilih yang menurut kita paling Pertiwi. Kita memilih yang menurut kita akan mendengar semua aspirasi. Karena bukan hanya mereka yang harus bekerja memperjuangkan Indonesia, kita semua memiliki peran untuk membangun yang sama dengan mereka.

Kita berperan sebagai pemilih dan di antara pilihan-pilihan yang tersedia, dan memang selalu ada pilihan untuk tidak memilih. Namun, jika kita tidak memilih, lantas apa guna kita sebagai manusia?
Kita diberikan kemewahan untuk tidak hanya mengubah nasib diri sendiri, tetapi juga nasib sesama kita.

Walaupun terdapat pilihan demi pilihan yang berbeda, kita harus menjalankan guna kita, untuk memilih, karena kita masih sama-sama menjadi manusia, yang hidup dari tanah dan air negara kita tercinta, Indonesia.

Sebab, siapapun pemimpinnya, #2019TetapIndonesia

Jika cinta masih kupandang sebelah mata, percayalah itu bukan salahmu.

Jika aku tak dapat melihat cinta sebesar gajah yang kautaruh di pelupuk mataku, percayalah (pula) itu bukan salahmu.

Salahkan (saja) mereka yang merampas mataku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment