Sebentar lagi, Bu

Aku tidak sengaja mendengar obrolan ibuku dengan paman. Ia memang sering datang ke rumah kalau sudah sore, rumahnya tidak jauh. Paman berbicara tentang anaknya yang baru saja naik jabatan. Paman senang dimanjakan oleh anaknya, dan kesehariannya riang bersama cucu-cucu. Ia bahkan sengaja pensiun dini. Kini, ia hanya menuai apa yang telah ia tanam katanya. Kini, ia bahagia dengan kehidupannya sekarang. Lalu kulihat ibu hanya tersenyum dan berucap syukur. Aku benar-benar melihat mata ibu yang penuh harap. Mata yang memancarkan binar harapan yang besar; mata yang menunjukkan ada doa-doa khusyuk sengaja dipanjatkan.

Dan, aku adalah harapan besar yang kulihat dalam palung mata ibu hari itu. Ya, akulah orangnya. Meski ibu tidak pernah memintaku untuk menjadi apa pun atau seperti siapa pun. Tapi aku, akulah yang ingin menjadi orang yang besar, aku yang bertekad bulat untuk berusaha keras mencapai setiap keinginan dan mimpi-mimpiku. Akulah yang sangat ingin memanjakan ibu. Aku ingin ibu juga membicarakanku dengan bangga di hadapan paman. Semua  karena ibu. Aku melakukannya karenamu, Bu.

“Sedikit lagi aku akan buat  ibu bangga. Sebentar lagi, aku akan mewujudkan doa-doa  sederhanamu. Ya, tidak lama lagi. Mohon panjang umur dan sehat terus ya, Bu,” kataku dalam hati lalu berlalu masuk ke kamar sambil memegangi amplop coklat yang tertolak dari tiga perusahaan hari itu.

4.6 16 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top