Apakah Matahari Masih Bersinar di Kathmandu?

Di pucuk udara yang berkabut itu, aku merasakan alam raya pada tubuhku. Seteguk, dua teguk, kopiku mendingin begitu cepat. Aku lupa di tanah ini aku harus bersahabat dengan dingin, sejauh apa pun kenangan tropis memanggilku pulang. Entah berapa lama, tapi aku telanjur tiba.

Tanda tanya masih ada. Di kepalaku dan di pengujung akhir sebuah surat. Kukeluarkan surat lusuh itu dari kantong bajuku. Tulisan tangan yang begitu indah, dengan tinta hitam yang mulai luntur dan tak terbaca. Tapi aku ingat setiap baris surat itu, aku terlanjur hafal. Kertas itu begitu kusam, mungkin ditulis jauh lebih tua dari usiaku. 

***

11 tahun lalu, sebuah surat tiba di kotak pos rumahku. Tidak pernah ada yg mengirimkan surat sebelumnya. Dua tahun tinggal di sini, tak ada satu pun tetangga yang kukenal, tidak ada sanak saudara yang mengunjungi. Aku cuma seorang pemuda 19 tahun yang tinggal bersama seorang ayah yang pulang ke rumah sesukanya. Hidup ini sepi, teramat sepi.

Aku tak kenal pengirim surat itu. Tapi nama itu … sebuah nama yang begitu cantik, Cornelia. Surat itu begitu kusam warnanya, seperti dikirim memakai kertas usang. Tapi tulisan tangan itu … aduhai indahnya. Tak pernah kulihat tulisan tangan seindah itu. Ia mulai surat itu dengan sebuah kata-kata pembuka yang tak kupahami.

Teruntuk siapa pun jiwa yang menemukanku di luar sana. Mungkin kau, mungkin siapa pun.

Pembicaraan. Aku lama tak bicara dengan manusia, tapi surat itu seolah mengajakku bicara. Aku benci berbicara dengan manusia, penuh penghakiman terhadap yang lain. Aku muak dihakimi orang-orang. Dua tahun ini aku tak bicara dengan siapa pun kecuali dengan pemilik warteg tempatku membeli makan dan pemilik warung kelontong di depan rumah. 

Namun surat itu seperti menyapaku dengan bahasa yang begitu halus, yang tak pernah kurasakan seumur hidupku. Ibuku hanya tahu kosakata nama-nama binatang yang selalu diucapnya lantang, sampai akhirnya ia tinggalkan aku dan ayah beberapa tahun lalu. Ayah? Ia hanya tahu tiga jenis  kalimat perintah, “Ayo kita pindah”, “Buatkan kopi”, dan “Belikan makanan”. 

Di sini aku menemukan kedamaian. Tempat yang begitu sunyi namun menggelora. Di bawah atap pagoda-pagoda itu aku bisa berlindung dari segala kengerian dunia. Di bukit-bukit tundra itu aku melihat bayanganmu. 

Di tamanku tak ada bunga, hanya rumput liar penuh serangga berkaki banyak. Keindahan itu semu, ia hanya singgah untuk mereka yang punya uang. Seni itu tidak pernah indah buat kelas bawah sepertiku. Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah juga menyebalkan. Guruku menyuruhku menulis sebuah puisi. Kutulis puisi dengan judul “Hidup Ini Sia-Sia”. Ia ngamuk, aku dihantamnya dengan sebuah penghapus papan tulis. 

Darah yang mengucur di dahiku saat itu menjadi pengingat, bahwa kesenian, ilmu pengetahuan sama sekali tidak indah. Hanya ada kebengisan di dalamnya. Lalu mengapa aku begitu luluh pada serangkaian kata di surat itu? Seperti kudengar sebuah suara begitu lembut terbisik di telingaku: segala ini indah, hatimu menyimpan keindahan itu.

Di tubuhku mengalir dingin yang berkejaran dengan arus darahku. Hidup sesekali adalah penyesalan; tapi selebihnya adalah perjalanan yang mesti dituntaskan, Kasih.

Kematian tidak mengerikan buatku. Aku lebih takut hidup hanya untuk menjadi racun bagi orang lain. Benar bukan? Kita lebih suka membuat orang merasakan luka yang kita pikul. Semua makhluk wajib menderita. Manusia begitu tengik dengan segala tingkahnya. 

Apa pula makna hidup ini selain dihayati dengan penyesalan dan penghancuran? Benih-benih harapan entah kapan akan jadi akar bunga di taman kehidupan. Tapi Cornelia, apakah ia sudah melampaui itu semua? Apakah hidup memang perlu dijalani saja sebagaimanapun melaratnya? Lalu di mana ia dapatkan semua penebusan itu? Di tempat itukah? Dekat bukit-bukit tundra yang ia ceritakan?

Pada malam-malam itu, aku memimpikan kalau ini sudah dituliskan semesta. Meskipun kau hanya percaya pada kehendakmu yang menentukan segala, lihatlah binar mata dua kelinci yang menemaniku ini. Mereka menyambutku, seolah tempat inilah yang harus kutuju.

Ah, perihal nasib. Aku tak paham. Dari hari ke hari, dari piring ke piring, rumah ke rumah. Ini semua bukan soal digariskan atau ditentukan sendiri. Beberapa orang–seperti halnya aku–tak pernah punya kemewahan seperti itu. Tak ada pilihan, bahkan sedetik waktu untuk memilih baju merek apa yang harus dikenakan. Ayah cuma sesekali membelikan baju di pasar barang bekas. Baju-baju bekas hibah dari negara-negara Asia Timur. Tentulah para penjual itu telah memilih, dan mereka memilih takdirnya sendiri, menyulap barang hibah jadi punya nilai jual.

Cornelia hampir mengecewakanku. Tapi, tidak. Kehidupan yang pahit ini mungkin butuh waktu untuk dijelaskan. Ya, betul. Kita perlu jarak bernama waktu sebelum memberi nilai untuk sesuatu. Terjebak pada kesementaraan hanya menggiring kita pada emosi negatif tanpa pintu ke luar. Kunci itu bernama waktu, yang akan menjelaskan perihal nasib pada kita.

Malam tiba, jutaan bintang menari di keluasan langit yang kupandang. Wajahmu ada di sana, Kasih. Aku bisa melihatmu dari rasi-rasi bintang itu. Andai aku bisa meminjam rupa awan, kita akan bertatapan lebih dekat.

Kasih. Sayang. Cinta. Apa beda ketiganya? Sama-sama berujung airmata. Aku pernah jatuh cinta pada seekor induk kucing yang memiliki enam anak. Sementara maanusia malah memisahkan cinta untuk orang tua, kekasih, Sang Pencipta, dan lain-lain. Apa gunanya? Bukankah cinta semestinya dileburkan ke dalam perasaan paling bersih? Mencintai adalah pekerjaan paling mulia!

Tapi aku berhenti mencintai saat induk kucing itu hilang entah ke mana, tak meninggalkan apa-apa. Ah iya, rasa cinta bukan investasi, ia ekspresi ketulusan. Tapi aku merasa retak luar biasa. Dan sebagai seorang remaja dengan luka yang mendalam, aku tak tahu apakah ini semua bisa dipulihkan waktu? 

Di sini tak terlihat bintang, jarang betul. Hanya polusi cahaya, polusi suara, udara, yang bisa dirasa; ini kota yang dikutuk! Tak ada bintang-bintang. Mungkin, ya, mungkin, ketika aku bisa mendapati bintang-bintang untuk ditatap, aku bisa menemukan rasa cinta lagi. 

Aku mulai merasa sayu. 

Semoga kau mau memaafkanku, ada alasan-alasan yang kusimpan tanpa memberitahumu. Kita sama-sama terjebak kesalahan. Aku melarikan diri untuk memaafkan dirimu, diriku. Maafkan aku.

Air mata mengalir juga di pipiku. Kata maaf adalah barang termewah di muka bumi ini. Sesuatu yang sepertinya tak tercatat pada kamus-kamus bahasa di sekitarku. Aku tahu, di surat ini, Cornelia tak meminta maaf untukku. Mungkin untuk orang lain, orang yang menjalani penyesalan bersamanya. Tapi ini pertama kalinya aku membaca kata maaf.

Barangkali dengan kata maaf ia bisa melapangkan dirinya; menerima keterpurukannya. Barangkali kata maaf tidak semahal itu, tapi menyimpan pedih yang teramat. 

“Maaf” 

Dari mulutku terujar kata itu untuk pertama kalinya. Tidak kutujukan untuk siapa-siapa, selain diriku. Mengampuni diriku, memaafkan kegagalanku.

Aku tiba di ujung perjalananku. Aku telah menemukan diriku, Kasih. Malam demi malam setelah ini aku akan mendoakanmu agar kau menemukan apa pun yang kau cari, apa pun yang membawa kebahagiaan buatmu. Tulisan ini adalah segala yang bisa kubagi denganmu. Ia mungkin akan tiba untukmu, entah berapa lama …

Makin deras air mata turun dari pipiku. Di semua doa masa kecilku hanya ada nama ayah dan ibu. Semoga mereka bahagia, semoga mereka terus bersama, semoga aku bisa terus bersama mereka. Tapi … semua tak terkabul. Ataukah ayah dan ibu berdoa supaya mereka berpisah? Dan doa mereka yang terkabul?

Sesekali aku berdoa, agar waktu bisa kuputar kembali, dan semua bisa diperbaiki, agar kebahagiaan ada lagi. Tapi tidak mungkin. Semakin dewasa aku semakin menyadari, hanya doa-doa rasional saja yang bisa terkabul, atau setidaknya memberi sugesti positif. Namun, kali ini senyum menyungging sedikit di wajahku.

Di meja makan, aku sudah menyiapkan cukup cairan untuk menyeberangkanku ke alam sana. Anehnya, aku malah berdoa lebih dulu, “Sesuatu, andai saja ada sesuatu yang bisa memulihkanku …”

Dan surat dari Cornelia tiba, bahkan sebelum usai doa itu kuucap. Sebuah doa telah terkabul, entah berapa lama …

Menulislah, Kasih, sepertiku. Kemerdekaan hatimu ada di dalam tulisanmu. Seluruh gejolak di kepalamu, luka dan pertempuran di hatimu. Pulihkan di dalam tulisanmu. Dan aku yakin, kita akan menemukan satu sama lain lagi. 

Cornelia benar. Menulis. Sesuatu yang kulakukan di masa kecil saat semua tak menatap ke arahku, saat dunia berpaling. Dalam puisi-puisi kecil tentang bulan, tentang kereta-kereta saat senja, tentang imajinasiku atas hujan permen. Aku pernah menyatu dengan kata-kata dan bahagia.

Menulis. Aku hanya perlu menulis. Menata hidupku lagi. Memaafkan, mencari kebahagiaan. Lalu menjadi manusia yang bisa menguatkan manusia lain. Sama seperti Cornelia dan suratnya datang bagai hadiah yang diberikan semesta kepadaku. 

***

Ini adalah sebuah tempat di mana bukit-bukit tundra berjejer manggoda. Di sini pula berdiri pagoda-pagoda teduh meluruhkan rasa cemas. Aku telah tiba di ujung perjalananku, sebuah tempat yang indah, yang kutemui belasan tahun lalu di sebuah surat kusam.

Dua orang gadis menuntun seorang perempuan tua, nyaris 100 tahun mungkin. Rambutnya sudah putih menyeluruh. Jalannya begitu lambat. Tapi di belakangnya, matahari nampak tak berdaya. Perempuan itu telah menaklukan dunianya. Ia telah menjadi bagian dari semesta.

Aku meletakkan lututku ke lantai keramik di pagoda, memberi hormat ke telapak tangan kanannya yang berkeriput itu. Seketika kehangatan menjalar. Kuberikan surat itu padanya. 

“Surat yang kau kirim dulu sampai pada tujuannya, Nyonya.”

“Dan setelah 70 tahun ia kembali ke tanganku. Bagaimana mungkin?”

Aku membacakan dengan lembut bagian terakhir surat yang dulu ia tulis itu kepadanya: 

Dari Kathmandu, aku mengirimkan surat ini lewat sebuah tanya padamu:

Apakah matahari masih bersinar di Jakarta?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top