Ada sebuah tempat yang menjadi saksi runtuhnya semesta dalam hidupku. Satu-satunya yang mau berdiam diri, hanya melihat dan mendengarkan, anehnya aku merasa dipedulikan. Semakin kosong isinya, semakin aku merasa nyaman. Dahulu, sering sekali meminta kepada ibu untuk boleh dilapisi oleh peredam suara, dengan kedok apabila aku bernyanyi sambil berteriak tidak akan menggangu seisi rumah dan tetangga. Kenyataannya, aku tidak mau seorang pun mendengar isak tangisku yang menjerit.

Alhasil, setiap kali sekuat tenaga menangis sebanding dengan meredam suara tangisan itu. Hanya air mata yang mampu berbicara dengan leluasa. Membanjiri celana, baju, dan ubin-ubin. Dalam ruangan tanpa adanya lampu itu, aku menghancurkan dan membangun kembali dunia, juga mengucap beribu-ribu harapan.

Harapan yang membuat kita mampu percaya segala yang buruk kelak menjadi baik. Dan salah satu harapanku adalah dirimu.

Melihatmu tersenyum di depan segala luka dibungkus kesederhanaan adalah alasan untukku dapat bertahan hidup melawan semesta yang kata manusia tiada pernah adil. Kamu mengajariku untuk dapat menerima garis kehidupan dan mensyukurinya, sebagai manusia yang tersakiti dan keras kepala, bagiku itu sebuah tamparan yang sangat keras.

Masih teringat dengan jelas saat aku duduk di sudut ruangan itu, berteriak sambil meredam rasa sakit yang mengerogoti jiwaku. Lalu terucap begitu saja, pintaku pada-Nya, semoga ada seseorang yang boleh menaruh satu titik terang dalam hidupku. Dan bagaikan peri yang mengabulkan permintaan Cinderella dalam semalam, kamu hadir di lingkaran hidupku, hingga hari ini, dan semoga selamanya.

Aku berjanji untuk tidak menyerah pada hidupku, untuk berjuang hingga titik akhir. Agar boleh suatu saat, kamu tahu bahwa kehidupanmu membuat seseorang boleh hidup kembali. Meski aku tak bisa menjadi egois bila kau akan sepenuhnya kumiliki. Namun aku percaya, aku berada di tingkat kecintaan yang tanpa batas, tidak sebatas memiliki tubuh ataupun hati.

 

 

Dariku,

yang sedang berusaha menjadi yang terbaik untuk diri sendiri, dirimu, semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment