Salam dan Selamat

Hingga detik ini, aku masih bernapas. Aku masih bisa menghirup udara di dunia ini dengan bebas. Orang-orang bilang itu tandanya aku masih hidup. Tapi, hidup itu apa?

Hidup itu untuk dapat menjadi sosok panutan yang bijaksana bagi si sulung, menjadi penengah yang nyaman bagi si tengah, menjadi penghibur lara keluarga bagi si bungsu, menjadi permata yang bersinar bagi si tunggal, dan menjadi sosok baru tak boleh asing bagi si tiri.

Hidup untuk dapat menjadi istri sebagai penolong dan pilar utama, suami sebagai pemimpin yang cerdas dan berani, orang tua yang bertanggung jawab dan menjadi rumah inti tanpa ancaman dan bahaya, anak yang membanggakan dan sukses juga harus berbakti.

Hidup untuk dapat menjadi teman yang baik dan jujur, menjadi sahabat yang tulus dan tidak pandang bulu, menjadi kekasih dengan cinta murni dan setia, menjadi manusia dengan perbuatan baik juga hati yang ikhlas.

Masih banyak penjabaran tentang hidup. Kira-kira, itulah rangkuman dengan singkat dan padat yang katanya semua orang ingin hidupnya bahagia.

Pada awalnya, semua hal itu seolah tidak perlu terlalu dicemaskan, karena pada akhirnya semua orang akan berakhir seperti itu. Semua orang ingin bahagia. Semua orang ingin kehidupannya baik-baik saja.

Hingga seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti mengapa semua orang ingin menggapai kebahagiaannya. Bukan kebahagiaan seperti yang aku sebutkan di atas. Tapi kebahagiaan sesuai dengan harapannya masing-masing. Dan aku mendapatkan kesimpulanku sendiri tentang hidup.

Menurutku, hidup memang perihal memilih.

Tapi, sebebas apa pun pilihan yang ada, dua hal yang kutahu pasti dan aku yakini, bahwa ada yang lebih maha dari manusia dan ada harga yang harus dibayar untuk apa pun itu.

Manusia bisa memilih bagaimana cara dia menjalani hidup, tujuan dirinya untuk dapat hidup, bersama siapa dia menjalani hidup, apa yang harus dilakukan untuk mencapai itu semua, dan banyak hal yang seutuhnya manusia memiliki kebebasan untuk memilih.

Lalu, ada hal yang terjadi tanpa campur tangan dan keinginan kita, contohnya saja aku pernah berpikir, bila memang hidup itu perihal memilih di saat bangku sekolah dasar, kenapa aku tidak bisa memilih menjadi pintar matematika? Kenapa aku tidak bisa memilih agar aku bisa tinggal bersama keluarga yang sesuai keinginanku? ataupun kenapa aku tidak bisa memilih wajahku sendiri sehingga boleh sesuai dengan standar kecantikanku? Tentu, kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, siapa orang tua kita, bagaimana rupa kita, dan seluruh pertanyaan yang berputar-putar di kepala.

Namun, meskipun kita dihadapkan dengan hal yang bukan pilihan kita, kita tetap masih bisa memilih. Memilih dengan cara apa kita untuk menghadapinya. Memang tidak mudah untuk menerima dan berhenti untuk bertanya-tanya.

Di tengah bising suara orang-orang yang menawari arti dari sebuah kehidupan. Aku menyadari, bahwa jawaban yang benar-benar sesuai, hanya diri kita sendiri yang mampu menjawabnya. Kembali pada diri sendiri sejujur-jujurnya untuk bisa menemukan arti kehidupan yang benar murni adanya. Sebab tidak ada yang tahu seluas dan sedalam apa yang ada dalam dirimu.

Jadi, kita harus bertanggung jawab dengan pilihan kita. Dari, untuk, oleh kita sendiri. Percaya penuh pada hal yang kamu yakini. Kejar segala apa pun yang memang hanya kamu yang tahu alasannya. Jangan biarkan suara-suara itu menghentikanmu. Dulu, karena aku melihat ruang dari kacamata yang mengarah pada perkataan dunia sehingga aku berpikir, “Mungkin seperti merekalah yang dinamakan kehidupan sempurna,” padahal tidak ada manusia yang sempurna di alam semesta dan juga tidak ada hal yang sia-sia di bawah matahari. Kita hanya perlu benar-benar melakukan segala hal sesuai dengan yang ada di dalam diri masing-masing. Entah pikiran, perasaan, talenta, keinginan, harapan, apa pun itu. Maksimalkan hidup ini. Setiap detik memang tidak bisa kembali, namun selalu ada makna di dalamnya.

Hingga detik ini, aku masih bernapas, artinya aku masih hidup. Hidup memang tidaklah mudah didefinisikan. Tapi aku tahu, hidup itu tentang memilih. Maju, mundur, diam, bahkan berputar sekalipun. Ternyata, ada banyak sekali jalan yang bisa kita pilih untuk dilalui. Baik dan buruknya jalan itu semua bergantung pada diri sendiri. Karena terkadang baik dan buruk pun kita yang ciptakan. Tentu saja, semua hal ini tidak berarti arti kehidupan sebenarnya. Masih banyak yang perlu dicari tahu, dirasakan, direnungkan, disesali, dipelajari. Umurku masih belasan dan semua pengertian tentang hidup akan terus berubah hingga kematianku datang. Juga akhirnya aku tahu bahwa belajar adalah salah satu cara manusia bertahan hidup. Tidak ada manusia yang berhak menggariskan semesta pada manusia yang lainnya.

Sulit untuk mengubah segala pikiran yang berada di kepala lewat tulisan semata, namun aku hanya ingin mencoba perlahan-lahan untuk dapat melakukannya. Banyak mimpi yang harus diwujudkan. Tidak perlu terburu-buru.

Salam hangat, untukmu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top