folder Filed in Prosa, Sekitar, Yang Sekarang
Dasar yang Sama
Manusia sama pada dasarnya. Kita hanya sedang melalui persimpangan jalan yang berbeda, namun sama tujuannya.
Debora Violin comment 0 Comments access_time 2 min read

Setiap saat terasa seperti malam. Pagi itu gelap. Siang itu dingin, Malam tetap menjadi malam. Seolah waktu tak bergerak, rasanya seperti berjalan di atas benang yang melingkar tak berujung.

Memasang senyuman indah sekuat tenaga. Menegapkan badan, jangan sampai bungkuk. Menjaga intonasi bicara, jangan sampai terbawa emosi. Semua itu dengan ganas mengikat, agar menjadi rutinitas abadi. Kebohongan memang sengaja manusia tumpuk, mengira bahwa itu akan membuat manusia yang lainnya bahagia. Nyatanya, mereka sama-sama menyakiti, meski dengan tanpa sentuhan.

Manusia senang memeluk bayang-bayang semu. Yang tak pasti tetap dinanti, yang sudah pasti tak mau diakui. Mereka meminta yang lebih, sebab kebohongan itu menguras kebahagiaan yang ada.

Banyak dari antara kita yang bertahan, padahal sudah jelas kelemahannya. Lihat? Kita semua memiliki kelemahan yang sama pada dasarnya, tak mau merasa cukup. Lantas, apa pantas kita menghancurkan orang lain hanya agar dapat dipandang lebih tinggi? Apa pantas kita menghantam orang lain agar dapat merasakan kepuasan?

Kita sama pada dasarnya. Tak mau merasa cukup.

Yang sehat dan tidak sehat. Yang sibuk dan tidak sibuk. Yang depresi dan tinggi hati.

Adakah perbedaannya?

Mewakili manusia-manusia penderita depresi. Meski kami pernah mencoba bunuh diri, bukan berarti kami tak takut mati. Meski melukai diri sendiri, bukan berarti kami tak menangis. Meski dikejar rasa rakut siang dan malam, bukan berarti kami berhenti melawan. Meski kami mengidap penyakit jiwa, bukan berarti kami tak percaya Tuhan.

Kami yang merasakan hubungan lebih intim dengan Tuhan, sebab kami sedang menanti jawaban di kala Tuhan diam dan berpikir. Mengapa kami disebut tak punya iman dan harapan? Justru kami yang sedang gencar-gencarnya berdoa dan melambungkan harapan sembari menangis pilu.

Manusia sama pada dasarnya. Kita hanya sedang melalui persimpangan jalan yang berbeda, namun sama tujuannya.

Kami pernah mencoba bunuh diri, bukan berarti tak punya mimpi. Mimpi kami sama cerahnya dengan kalian. Sebab tujuan perhentian kita sama. Jadi, jangan menghantam satu sama lain dengan batu di tangan kananmu.

Kita sama.

 

Tertanda, Manusia di Ujung Tanduk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment