Rentan Terluka

Kenapa manusia sombong ya? Padahal mereka rentan terluka. Kenapa manusia bisa sedih ya? Karena mereka rentan terluka. Kenapa manusia sering merasa lebih baik dan benar dari manusia lain? Padahal mereka rentan terluka. Kita sebagai manusia rentan terluka, baik fisik maupun perasaan. Luka fisik bisa dirasakan dan dilihat, tetapi berbeda hal jika terluka perasaannya. Mungkin secara raut wajah bisa terlihat, tapi kita tak bisa mengukur seberapa terluka perasaannya. Manusia mempunyai ketakukan akan dirinya yang dapat terluka, entah oleh yang lain atau dirinya sendiri.

Lantas apakah manusia yang rentan terluka ini pantas bersikap sombong? Apakah manusia yang bisa merasakan sedih dan sakit, bisa seenaknya merendahkan manusia lain? Padahal jawabannya sudah kita ketahui, tetapi masih saja kita lakukan.

Hal yang sering terjadi belakangan ini adalah berharapnya kita pada manusia lain. Seakan dengan berharap pada manusia lain kita tak akan terluka. Kita lupa yang kita harapkan juga manusia, yang sama-sama rentan terluka. Sebaik-baiknya adalah kita yang berharap pada diri sendiri, yang percaya pada diri sendiri. Terkadang kita memang perlu pembenaran dalam hidup, kita bisa dapatkan itu melalui manusia lain dan diri sendiri.

Kita manusia yang rentan terluka ini sebaiknya lebih sadar diri untuk meminimalkan rasa sakit yang timbul dari banyak hal. Tetapi luka tak selamanya buruk. Luka juga bisa membawa hal yang lebih baik ke dalam hidup. Kita akan belajar untuk tak mengulangi hal yang sama.

Perkara berharap, sebaiknya kita hanya berharap pada yang menciptakan semesta ini. Dengan begitu kita akan lebih menerima apa pun keputusan-Nya. Dari manusia yang rentan terluka ini, mengapa masih ada yang bersifat tinggi ya? Padahal di atas langit masih ada langit. Untuk kita yang rentan terluka baik fisik maupun perasaan, tetaplah menjadi diri sendiri apa pun keadaannya. Rasa sakit akan mengubahmu menjadi pribadi yang lebih baik dan mengerti bagaimana bersikap jika keadaan yang sama terjadi kembali.

Selalu bersiap menerima segala kemungkinan dalam hidup, bersiap dalam segala kondisi yang terjadi apa pun itu. Memang akan selalu berpasangan seperti senang dan sedih, sehat dan sakit, kaya dan miskin.

Tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain, menebar kebaikan di tengah diri yang rentan terluka, membuat kebahagiaan untuk diri dan yang lainnya. Kita sebagai manusia jauh dari kata sempurna. Ada hal dari kita yang mungkin nantinya akan menyakiti yang lainnya. Tetapi selalu ingat bahwa kita dan lainnya rentan terluka, dan posisikan diri kita jika mengalami hal itu.

Untuk kita yang rentan terluka, berdirilah di atas kakimu sendiri, pilihlah jalan yang membuat pribadimu lebih baik lagi. Muliakanlah manusia lain seperti kamu memuliakan dan menyayangi dirimu sendiri.

4.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
5 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Bintangawur
Bintangawur
1 month ago

Hwaaaaa

Aruna
Aruna
1 month ago

Untuk penulis, Hatimu sudah kuat tanpa paksaan❤ So proud of u

Mellsabb
Mellsabb
1 month ago

Highlight garis keras

Dede Sopyan
Dede Sopyan
1 month ago

Manusia makhluk yang sosial tapi sibuk individual

Ayu Kania
Ayu Kania
1 month ago

“Mungkin secara raut wajah bisa terlihat, tapi kita tak bisa mengukur seberapa terluka perasaannya” ?

Top