Coach Anez dan Yasher: Dating Is Gambling, Bagaimana Caranya Bermain Tanpa Kehilangan Diri?

Coach Anez dan Yasher, keduanya membuktikan bahwa cinta adalah keberanian.

Oleh

Coach Anez dan Yasher: Dating Is Gambling, Bagaimana Caranya Bermain Tanpa Kehilangan Diri?

Coach Anez dan Yasher, keduanya membuktikan bahwa cinta adalah keberanian.

Oleh

25/02/2026

Cinta dan hubungan romantis tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Bagaimana kita jatuh cinta, memilih berkomitmen, dan merawat chemistry; semuanya berkaitan. 

Siang itu, kami berkesempatan untuk berbincang secara daring dengan Mbak Rastrianez (Coach Anez) dan Mas Yasher. Keduanya sosok penting di balik Ranum, perusahaan penyedia jasa pra-nikah meliputi assessment psikologi, konseling, bimbingan belajar, penyelenggara event dan biro jodoh berbasis psikologi serta emotional intelligence. Ranum telah diakui secara global oleh Matchmaking Institute.

Bagaimana cerita cinta di balik dua sosok yang membangun Ranum sebagai wadah untuk membantu cerita cinta orang lain? Seperti apa nyali Yasher melamar Coach Anez dengan deck presentasi? Juga, apa pandangan Coach Anez tentang keberanian mengetahui value diri dalam konteks dating di era modern yang melimpah akan pilihan?

Bersama Coach Anez dan Yasher Fadhli, inilah Berbagi Perspektif; sebuah ruang sederhana untuk membaca manusia lewat cerita-cerita yang membentuk dirinya.

***

Pada awalnya, bagaimana kalian bisa memutuskan untuk saling mengenal lebih jauh?

Anez: Aku kenalan sama Yasher tahun 2018 lewat Tinder. Dari sekian banyak lawan jenis yang lagi chat-an sama aku, ada satu orang laki-laki yang match dan pake pick up line, “Hey, Libra Bitch!” Selama ini nggak ada yang berani, apalagi sampai manggil aku “bitch”. Orang lain mungkin ngerasa risih dan egonya kesentil karena kok ada orang yang berani manggil kayak gini. Tapi aku malah jadi penasaran dan menurutku apa yang dia lakukan tuh strategic, brave and risk calculated karena di dalam bio aku memang ada nyelip kata “Libra”. Aku jadi merasa kalau dia mencoba untuk mengkomunikasikan sesuatu yang ada di bio aku sambil men-challenge aku juga. 

Setelah kenalan, hari ke-3 kita first date. Hari ke-7, Yasher ngomong ke aku kayak, “Lo gue nikahin ya.” Aku cuman bisa bilang ke diri sendiri, “Ntar dulu. Lo siapa?” Nggak mungkin sih dalam 7 hari aku bisa nentuin mau nikah sama dia atau nggak. Makanya aku bilang ke Yasher, “Sebentar, gue masih pengin kenal lo lebih jauh.”

Itulah yang jadi fondasi untuk kita saling berkenalan. Masa pacaran kita emang intensional untuk berkenalan satu sama lain. Ketika berproses itu, aku melihat pertumbuhannya Yasher, jatuh bangunnya juga. Begitu juga dengan prosesku.

Setelah 2 tahun bareng, aku merasa menjadi orang yang lebih baik. Aku pun melihat Yasher jadi orang yang lebih baik. Aku udah bisa membayangkan bahwa I can live with this person for the rest of my life. Awalnya aku mau kenalan sama Yasher, akhirnya aku mau menikah sama Yasher.

Kok Mas Yasher berani sih nyapa dengan “Hey, Libra Bitch”?

Yasher: Aku berani karena aku tau apa yang aku omongin, bukan sekadar teasing aja. Aku baca bionya dan aku juga Libra. Walaupun sebenernya aku nggak into horoskop, aku gunain horoskop itu jadi teknik marketing dan pick up line untuk ngobrol. Aku Libra, aku bitch. Ah, kayaknya dia juga bitch deh. Haha.

Nggak semua orang bisa di-challenge kayak gitu. Kita match jam 7 atau 8 gitu. Terus kita ngobrol sampai jam setengah 4 pagi. Aku rasa ngobrol adalah fondasi relationship yang sangat-sangat penting.

Aku juga melihat Anez sebagai sosok yang seru untuk diajak “berantem”. Bukan violence, tapi sebagai partner untuk mensirkulasikan pikiran dan perasaan–walaupun baru kita ketahui di tengah perjalanan bahwa social-economy status kita tuh berbeda. Nggak bikin aku ciut sih karena aku tau value yang bikin kita berdua saling terhubung adalah kebisaan untuk ngobrolin apa aja.

Dan, Anez itu anak privileged, tapi dia tetep berani terbuka sama hal-hal baru.

Berkat kehadiran satu sama lain, kalian merasa bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimana ceritanya?

Anez: First of all, sesuai kata Yasher tadi, aku datang dari keluarga yang privileged. Aku mungkin nggak tau rasanya susah. Dan aku terkesan banget ketika denger cerita hidupnya Yasher: di masa kuliah Yasher lagi susah banget sehingga dia harus makan paket goceng (nasi, telor dadar, sayur) untuk survive sehari-hari. Resilensi, survivability, dan strategic thinking-nya membuat aku melihat Yasher sebagai seorang individu yang punya nilai spesial.

Ada momennya ketika aku berhenti bekerja karena harus fokus menjaga Mama yang sakit kanker dan aku juga mesti melanjutkan kuliah. At the same time, aku nggak bisa mengelola uang dan gaya hidup. Akhirnya tabungan abis, mulai dari nol dan mempertanyakan identitas diri. Di momen terpuruk ini, Yasher ngajarin aku cara mengelola uang. Ini salah satu indikator bagaimana Yasher membuat aku jadi orang yang lebih baik.

Yasher: Kalo dilihat dari latar belakangku yang cukup unprivileged, aku terbiasa apa-apa tuh sendiri. Jadinya hyper independent. Tapi di sisi lain, aku jadi nggak terbiasa untuk membagikan perasaanku ke orang lain. Pernah beberapa kali nyoba, eh malah diterjemahkan sebagai kelemahan.

Nah, sama Anez, aku bisa showing my emotions. Bahkan emosi marah, nangis, frustrasi; aku jadi merasa bisa berbagi emosi aku sama orang lain. Aku juga bisa berbagi kesenangan sama Anez. Kadang kesedihan tuh bisa ditelan sendiri. Tapi kesenangan? Kayaknya kalo nggak dibagikan malah jadi sedih ya.

Yang aku lihat juga dari Anez adalah cara dia menghargai hal-hal kecil. Kalo tiba-tiba aku ngasih pisang ke dia, Anez bisa aja se-excited itu sambil teriak “Banana!”. Meskipun dia punya privilege, Anez nggak pernah berhenti untuk memaknai hal-hal kecil. Ini yang bikin aku juga ikut dirayakan olehnya.

Katanya, Mas Yasher melamar Coach Anez dengan presentasi di hadapan orang tuanya?

Yasher: Jadi gini, aku tuh ditolak dua kali sama Papa dan Mamanya Anez. Kami udah sama-sama bisa menakar kalo orang tua kami pasti kaget bahwa kami pacaran. Makanya, aku dikenalin ke Papa dan Mamanya Anez tuh pelan-pelan banget, dari temen, temen kerja, bisnis bareng, temen deket terus akhirnya tiba-tiba aku datang mau ngelamar Anez.

Ya udah kamu pacaran dulu. Saya mau lihat bibit, bebet, dan bobot. Begitu kata orang tuanya Anez. Wah, ketolak tuh. Aku dan Anez kasih jeda kurang lebih 6 bulan. Abis itu aku mulai caper lagi ngirim bunga dan martabak lebih sering. Kami coba maju sekali lagi.

Pas aku lagi nyeritain keseriusan hubungan kami, Papanya Anez sampai ketiduran. Hahaha. Tapi ya itu jam 2 siang, jamnya dia tidur. Mamanya Anez akhirnya ngomong kayak, “Udah, udah, ngobrolnya nanti diterusin lagi.” Wah ditolak alus nih, batinku waktu itu.

Sampai akhirnya kami mikir, kayaknya nggak bisa deh kami menceritakan visi kami berdua dengan cara ngobrol seperti itu. Lawan bicara kami udah lansia. Kayaknya waktu itu sekitar 77 atau 78 tahun. Attention span-nya juga kecil, nggak bisa diajak ngobrol yang kompleks.

Nah tiba-tiba Anez teringat. Dulu, Anez kalo mau beli laptop tuh harus presentasi dulu ke orang tuanya. Dijabarin tuh harganya berapa, kebutuhannya apa, speknya gimana, dan segala macam. Anez bilang, kayaknya itu komunikasi yang cukup relevan buat mereka. Oke, kami coba deh.

Sebelum aku presentasi, Anez udah presentasi duluan sebenernya. Ibaratnya kayak manasin mesin. Isi presentasinya Anez tuh tentang bagaimana perkembangan dirinya selama pacaran sama aku. Inti pemaparannya Anez adalah pacaran kami tuh bukan bucin-bucinan semata, melainkan juga tentang bertumbuh.

Besoknya, Papa dan Mamanya Anez aku jebak. Aku ajak makan. Aku juga udah koordinasi sama orang restoran untuk nyiapin televisi setelah makan. Aku presentasi, lah, perihal bibit, bebet, dan bobot. Tapi aku ganti istilahnya dengan DNA, kompetensi, dan nilai-nilai hidup. Aku juga tambahin tentang latar agama. Aku percantik dengan visual supaya bisa menarik perhatian mereka. Papa dan Mamanya Anez tuh cukup religius. Makanya di slide terakhir, aku kasih kutipan dari hadis yang intinya: sebaik-baiknya pernikahan adalah yang paling mudah. Akhirnya diterima.

Seberapa penting sih untuk kita mengetahui value diri dan pasangan dalam sebuah hubungan?

Anez: That is very important dan menurut aku perlu jadi fondasi, terutama ketika kita dating di era modern yang terlalu banyak pilihan. Di era modern yang terlalu banyak pilihan, kita bisa jatuh ke lubang analysis paralysis. Kayak “Aduh yang mana nih yang bener?” Sering kali akhirnya kita ngikutin apa kata orang. Media sosial makin menentukan standar sosial. Banyak orang yang mengikuti tren atau hal-hal yang dilakukan orang lain tanpa mengetahui alasannya. 

Nah ngomongin soal value atau nilai, menurutku fondasi kita sebelum menjalani relationship adalah harus berani kenal dulu dengan diri dan value kita. Baru abis itu, kita mulai kenalan dengan orang lain. Yang terakhir, kita cek kecocokan value-nya.

Contohnya gini, “Anez, lo kenapa sih mau nikah sama Yasher? Dia kan belom punya mobil.” Aku tau kenapa Yasher nggak punya mobil. Dia nggak suka nyetir macet-macetan di Jakarta. Buat apa beli mobil? Aku tau his decision making, aku nggak perlu FOMO ngikutin standar orang lain, apalagi mobil belum jadi prioritas untukku.

Ketika kita kenal sama value diri sendiri atau tau apa aja hal-hal yang penting buat kita, kita jadi nggak gampang terombang-ambing. Kita jadi nggak mudah jatuh ke analysis paralysis

Hari ini, value tuh lekat banget dengan harga dan materi. Kalo zaman dulu mungkin lebih sering disebut sebagai kasta kali ya. Value yang kayak gitu tuh kapan pun bisa hilang dengan gampang. Ketika tabunganku abis, ya aku jadi bertanya-tanya: Tanpa uang, tanpa gaji, tanpa materi, Anez tuh siapa? Akhirnya aku coba mendekatkan diriku ke nilai-nilai yang lebih sustainable.

Buatku, value adalah kualitas yang mengantar kita ke arah tertentu. Value tiga teratas di dalam diriku adalah: self direction (suka kebebasan mengatur hidup sendiri), achievement (suka mendapatkan sesuatu), dan stimulation (suka mencari sesuatu yang baru).

Yasher: Aku pernah kasih tau ke Anez bahwa aku nggak beli rumah dan mobil bukan karena nggak mampu, tapi karena nggak mau. Itu bukan value aku. Value aku adalah fleksibilitas. Aku butuh kebebasan dan fleksibilitas. Rumah dan mobil akan melimitasi aku. Betapa indahnya kalo orang mengenal value dirinya sendiri dan akhirnya dia membuat keputusan hidup berdasarkan value dirinya sendiri.

Ini contoh bahwa value tuh fondasi. 

Pada awalnya, kita paham kalo soal rumah ini bakal jadi perdebatan seumur hidup. Turns out ternyata aku dan Anez tuh sama-sama self direction. Setelah sama-sama mengetahui hal itu, akhirnya kita berhenti berencana beli rumah. Pas kita tau bahwa kita sama-sama self direction, suka nomad, suka ngatur hidup kita sendiri, nggak mau terlimitasi sama apa pun, akhirnya perdebatan itu hilang sendiri.

Mungkin nanti kalo udah punya anak gitu, baru deh kebutuhan berubah. Tapi, gampang, lah. Nggak perlu ngasih beban masa depan di hari sekarang. Masa depan ada momennya sendiri.

Di saat kita tau value kita dan pasangan kita tau value-nya dia, terus kita bisa berefleksi bersama dan berdinamika atas value itu, terjadilah dinamika relationship yang nyaman.

Apakah value tersebut juga praktis diterapkan dalam hidup sehari-hari?

Oh, iya, sangat. Contohnya gini. Value aku adalah self direction, security, dan achievement. Tiga teratas value ini tuh sangat businessman, enterpreneurship banget. Sementara Anez, value-nya itu nilai-nilai orang liburan. Nah, di saat kita tau kombinasi value kita, kita bisa susun strategi.

Misalnya, kalo business matter, aku yang ambil keputusan. Tapi kalo liburan, Anez yang bikin keputusan. Kalo dibalik, misal aku yang bikin keputusan liburan, jatuhnya kayak business trip. Rundown nggak boleh miss, milih penginapan sampe sedetail itu. Sementara mungkin pertimbangan Anez kalo milih hotel lebih simpel: “Ini pintunya nge-vibe nggak ya sama gue?” Dan pilihan Anez emang seru-seru. Akhirnya kita tau peran masing-masing di sebuah hubungan.

Sebaiknya, mengenal value dalam diri dulu baru menjalani hubungan atau mengenal value bisa dilakukan sambil menjalani hubungan?

Yasher: Dating itu kayak gambling. Untuk memperbesar kesuksesan dalam dating, kita mesti tau value kita dulu. Sebenernya nggak ada salah atau benar. Kalo misalnya baru mengetahui kecocokan value di tengah jalan, good for you.

Tapi, akan jadi gambling, ketika chances-nya baru diketahui belakangan.

Contohnya gini, untuk kenalan sama orang tuh ada tiga tahap: compatability, chemistry, dan commitment. Compatability tentang kecocokan value, diturunin lagi jadi lifestyle, interest, career path, appearance, dan sebagainya. Berikutnya chemistry. Kalo kita lagi kencan, itu kita lagi ngebangun chemistry. Nah, banyak orang yang mulainya dari chemistry, tanpa ada fondasi compatability. Akhirnya, ya kadung cinta, tapi nggak cocok. Kadung nikah atau berkomitmen tapi baru tau belakangan bahwa value-value yang prinsipiel ternyata nggak cocok.

Menurutku, sebuah hubungan akan punya kesempatan yang lebih besar untuk sukses kalo kita tau value kita sendiri, pasangan kita juga tau value dirinya sendiri, dan berani ketemu di tengah untuk diobrolin.

Anez: Ada baiknya untuk kita mengenal value kita nggak cuman dari pacaran atau dating. Sejauh ini kan kita hidup udah beririsan dengan orang lain, bisa sama orang tua, temen, sahabat, dan orang-orang lainnya. Dari situ kita seenggaknya punya list greenflag dan redflag. Dari situ bisa ditarik lagi tentang nilai-nilai yang kita suka dan nggak kita suka. Proses mengetahui value itu bisa dimulai sedini mungkin. Dan, yang nggak kalah penting juga untuk disadarin: value itu bisa diasah, bisa diganti, bisa di-upgrade seiring dengan perjalanan kita berinteraksi dengan orang lain.

Nambahin Yasher tadi soal chemistry, aku nggak merekomendasikan orang jatuh di jurang chemistry. Secara otak, kalo melihat sosok yang dia suka, manusia itu udah pasti pake chemistry. Bahasa simpelnya, “Gue deg-deg-ser nggak sih pas deket dia?” atau mungkin umumnya diucapin cowok, “Gue nafsu nggak ya sama dia?”.

Kalo kita mengandalkan rasa atau nafsu aja, itu yang akan bikin kita bucin doang atau full of lust doang dalam sebuah hubungan. Ini yang bikin cinta menggebu-gebu di awal. Ketika hormon atau senyawa kimia di otak kitakayak dopamin, oksitosin, dan segala macamnya itu akhirnya mereda, barulah kelihatan sebenernya kita dan pasangan cocok atau nggak.

Chemistry itu nggak bisa dilarang. Dia akan selalu ada. Tapi sebelum mengambil keputusan untuk berkomitmen sama orang itu, jangan lupa untuk cek lagi compatability-nya.

***

Mungkin buat beberapa orang, cinta seperti berkah yang turun dari langit. Namun, tanpa keberanian untuk saling mengenal, menemani, dan merawatnya, cinta akan kandas juga akhirnya.

Mulai dari sapaan di Tinder, siasat mencuri perhatian dengan melamar menggunakan deck presentasi, dan mengetahui peran masing-masing lewat senarai value dalam diri, cerita Coach Anez dan Mas Yasher menunjukkan bahwa keduanya menolak menjadi pasif untuk satu sama lain. Cerita perjalanan mereka adalah tanda bahwa hubungan percintaan perlu dikerjakan dengan berani.

Mas Yasher berani menyapa Coach Anez dengan sebutan libra bitch, Coach Anez pun tidak gentar dan penasaran untuk mengenal Mas Yasher. Seperti diceritakan sebelumnya, dating is gambling. Nilai-nilai di dalam diri adalah modal terbaik supaya kita tidak “rugi”. Coach Anez dan Mas Yasher secara aktif mengecek, mengasah, meng-upgrade, serta mengomunikasikan value dalam diri mereka masing-masing untuk bisa menghidupi dinamika cinta yang sehat. Mereka membuktikan bahwa relationship dengan fondasi yang kokoh selalu menemukan tempatnya untuk terus bertumbuh ke arah yang baik.

Pada akhirnya, untuk mencintai, untuk merawat chemistry, untuk berkomitmen, bahkan untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik lewat kasih sayang; kita semua butuh keberanian.

Yudhistira

Orang biasa yang suka menulis.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga