“Sudahlah, pada akhirnya semua akan sama saja. Lebih baik aku kubur saja dalam-dalam mimpiku. Aku menyerah.” Aku berkata kepada Rendra, seorang pria berumur 35 tahun, yang baru saja berjabat tangan denganku beberapa jam lalu.

“Apa yang ada di dalam kepalamu, Laika?” Rendra bertanya seakan-akan, apa yang aku utarakan sebelumnya itu bukanlah hal yang benar-benar ada di kepalaku. Lucu, aku baru saja berkenalan dengannya tapi rasanya nyaman. Mungkin karena kami sama-sama suka dunia penulisan, sama-sama penikmat whisky, dan sama-sama menyukai filosofi, atau mungkin karena kami berdua sama-sama fascinated dengan manusia saja. Dengan how humans are very complex, surprising, and fascinating, sehingga mudah merasakan empati mendalam bagi siapa pun itu.

Kami mencoba membaca pribadi masing-masing. Rendra dengan perawakannya yang terlihat tegas namun bersahabat, dengan profesinya sebagai seorang penulis yang sudah menang penghargaan di umurnya ke-24, dengan statusnya sebagai seorang yang telah menikah setahun lalu, sebagai anak pertama  dari dua bersaudara, yang rumahnya jauh di belahan Indonesia bagian tengah. Rendra dengan kerendahan hatinya, dengan ambisinya, dengan lukanya, dengan bagaimana ia merasa bahwa dirinya sudah lebih dewasa dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. 

Kami menikmati perbincangan ini. Mungkin terdengar seperti aku terlalu percaya diri. Mana aku tahu apa yang ada di kepala Rendra? Bisa jadi ia sebenarnya jenuh dan ingin cepat-cepat kabur. Tapi setidaknya aku tahu ia merasa nyaman saat berkata, 

“Mau tambah beer lagi?” 

Aku jawab dengan anggukan, tersenyum, sembari melihat ke sekeliling bar. Jam 20.00 malam, dua orang yang baru saja bertemu dua jam yang lalu, baru berjabat tangan, dan baru saja saling mengucapkan sapa dalam bentuk nama. Kami seakan kawan lama, yang dipisahkan jarak dan waktu hingga lupa seperti apa kawannya ini dahulu, kemudian kami kembali saling mengingatkan masa lalu masing-masing. Setidaknya, itu yang aku rasakan. 

“Jadi, apa yang ada di kepalamu, Laika?” 

Sulit sekali mengutarakan. Masalahnya, pikiranku itu cepat sekali lompat dari satu tempat ke tempat lain, berganti setting, dan menghasilkan konklusi yang kian blur dan absurd. Aku mengikuti kecepatan pikiranku melompat saja susah, apalagi mengutarakan gagasanku secara verbal. Dulu, aku selalu berhasil mengungkapkan apa yang aku pikirkan secara spontan. Tapi akhir-akhir ini, itu malah tidak membuahkan apa-apa. Karena pikiranku tidak struktural. Menuju sebuah konklusi harus berputar keliling kompleks pikiran, dengan blok-blok yang berhimpitan, bersebelahan, namun banyak portal dan tikungan. 

Pertanyaan Rendra bukanlah pertanyaan yang asing di telingaku, dan aku sebenarnya benci sekali ketika ditanyakan kalimat itu. Karena aku butuh proses, untuk menstrukturisasi pikiranku, dan itu biasanya kulakukan saat malam hari, saat mau tidur tapi pikiran berteriak “Hey! Masih ada PR kamu hari ini, menstrukturasi pemikiranmu tadi, maka, tuliskan!” dan biasanya aku akan bangun lagi, menyalakan laptop lagi, ambil rokok lagi, dan menuliskan apa yang sebelumnya aku pikirkan. 

Satu demi satu aku buka kembali memori kejadian sebelumnya. Butuh waktu dulu untuk kembali menyalakan ‘mesin’. Aku akan memulai dengan membakar rokok, dua batang biasanya, atau tiga…kemudian menyalakan lagu, duduk dan memejamkan mata, mengingat-ingat lagi apa yang kurasakan dan kupikirkan di dalam situasi sebelumnya. 

Bukan sok-sok punya ritual, tapi begitulah caraku menyembuhkan diriku sendiri. Terkadang memiliki pola pikir lompat-lompat itu memuakkan, aku masih belajar untuk bisa berdamai dan meng-control hal itu. Dengan menulis dan mereka ulang, aku menemukan tujuan dari apa yang kupikirkan dan kurasakan, dan itu baik. Sebab, perbincangan itu untuk menginspirasi, sedangkan menulis adalah untuk memahami. Proses keduanya tidak bisa dilakukan dalam waktu bersamaan. 

“Coba suarakan apa yang ada di dalam pikiranmu, coba cari suaramu, cari apa yang ingin kamu suarakan.” 

Banyak. Banyak sekali Rendra. Setiap hari ada saja yang aku suarakan, tapi ya itu tadi, susah aku menyuarakan dalam sebuah conversation. Aku lebih nyaman mendengarkan dalam sebuah setting perbincangan, memberikan respond seadanya, kemudian larut dalam penulisan sesudahnya. 

Rendra menceritakan hidupnya, bagaimana ia akhirnya bisa berakhir di dalam dunia penulisan. Ia bilang, tidak pernah terbesit dalam hidupnya untuk bisa hidup dari dunia penulisan. Sepanjang Rendra berbicara, pikiranku sering sekali berkelana. Menyadari eksistensi Rendra yang kasat mata, dan logika-logika penuh dots yang perlu dikoneksikan di belakangnya; tak kasat mata. Itu semua guna memahami Rendra, dan memahami diriku juga. Rendra itu seorang yang penuh dengan luka, yang satu-satu ia masih coba untuk sembuhkan. But wait, aren’t we all? 

“Apa yang kamu pelajari setahun belakangan, Laika?” 

“Apa bentuk rebellion paling rebel yang sebelumnya sudah pernah kamu lakukan?” 

“Kamu anak ke berapa, Laika?” 

“Ingat ini bukan kelas menulis ya, jangan kamu anggap ini sesi kelas menulis.” 

“Apa mungkin sebenarnya mimpimu itu bukan menjadi penulis?” 

“Menurutmu, apa itu eksistensi?” Pertanyaan Rendra yang ini menarik. Rendra sepertinya mulai bingung. Aku maklumi. Ia mencoba untuk membaca aku itu apa, dan siapa. Sama seperti aku coba untuk membaca dirinya. Perlahan-lahan ia mencoba untuk merunut semua timeline hidupku, menggebu-nggebu untuk mencari konklusi dari kepribadianku dan apa yang kukejar. Ia seorang yang sangat curious, observative, dan perasa. 

“Menurutku hidup itu tidak harus hitam putih Ren, abu-abu itu adalah sebuah eksistensi,” akhirnya aku menemukan kalimat yang pas untuk menjelaskan maksudku. 

“Jangan jump into conclusion. Menurutmu bagaimana orang tahu kalau kamu, seorang ‘Laika’ itu eksis?” 

“Ya, dengan aku berguna.” 

Rendra terlihat tidak puas dengan jawabanku. 

“Itu terlalu luas. Kamu mau tahu apa itu eksistensi? Ini, kamu lihat botol beer ini? Dia eksis, dia ada, nyata, kasat mata.” 

“Iya, lalu?” 

“Dia eksis sebagai apa?” 

“Botol.” 

“Iya, betul, botol. Sebagai wadah untuk menampung beer ini kan? Apa dia tahu bahwa ia akan berguna bagi kita? Apa dia tahu bahwa ketika ia dibuat di pabrik, dia akan sampai ke bar ini, ada di meja ini, ikut jadi saksi bisu omong kosong ini?” 

Aku menggeleng. He has a point

“Jangan terlalu banyak berpikir, Laika, tuliskan saja, kalau memang kamu ingin menulis. Kamu tidak perlu berpikir panjang lebar apa gunanya tulisanmu bagi orang lain. Jika itu berguna, maka itu akan berguna bagi orang yang merasa berguna membaca tulisanmu. Jika tidak, ya tidak usah. Botol beer ini tidak berguna bagi mereka yang tidak meminum beer bukan?” 

“Tapi botol beer ini mungkin berguna bagi mereka yang punya teman yang memang seorang peminum beer dan ingin dibawakan beer.” 

“Banyak sekali ‘tapi’ ya kamu. Sangat debater. Kembali lagi, berarti botol beer ini berguna bagi siapa?” tanya Rendra. 

“Bagi temannya si orang yang tidak minum beer.” 

“Nah, yasudah. Tetap ada gunanya kan? Baru kamu boleh konklusikan.” 

Aku hanya tersenyum. Rendra baik. Walaupun banyak orang yang berkata, ‘semua orang baik’. Bagiku, baik itu pilihan. Baik itu tidak datang cuma-cuma. Aku banyak bertemu orang-orang yang penuh dengan kedengkian dan kebencian, mereka memilih untuk merasa nyaman dengan itu. Tapi kembali lagi, hidup adalah pilihan, dan setiap orang berhak atas pilihan mereka. Baik atau tidak, juga tergantung dari perspektif dan situasi, itu semua relatif, ini semua relatif, hidup ini relatif, dan kita sebagai manusia harus terus adaptif. Jadi kita tidak bisa bilang ‘semua orang baik’ atau ‘semua orang jahat’, itu terlalu menggeneralisasi sekelompok orang yang tidak sepenuhnya bisa diidentifikasikan. Apakah karena ia taat beragama ia baik? Apakah karena ia selingkuh, berarti ia jahat? Bagiku, alasan di belakangnya lebih baik dan menarik daripada sekadar mengkubukan manusia dalam kotakan ‘baik dan jahat’, ‘surga dan neraka’.

“Kamu itu marah dengan siapa sih, Laika?” 

Pertanyaan yang lebih menarik dari pertanyaan sebelumnya terlontar dari Rendra. Pertanyaan ini juga sebelumnya sudah pernah terlontar dari kerabat dekat. Aku terdiam. Apa benar sebenarnya dalam subconsciousku itu, aku penuh dengan kebencian? 

“Jawab saja, tidak usah dipikir, Laika.” 

Aku tidak tahu aku marah dengan apa Rendra. Aku itu tidak marah. Aku hanya memahami realita. Tapi apa memang benar aku memahami realita? Bagaimana kalau sebenarnya aku yang terbenam imaji? Kompleks ya. Realita itu imaji? Imaji itu realita? Marah itu sedih? Sedih itu marah? 

“Kenapa kamu bertanya mengenai itu?” 

“Ya aku ingin tahu, apa yang membuatmu cemas?” 

“Betapa egoisnya kita semua sebagai manusia. Betapa mudahnya kita menghakimi, dan merasa paling benar di antara yang lainnya. Aku kesal dengan bentuk justifikasi mereka akan diri kita yang penuh luka menjadikan kita bisa bertindak bebas dan seenaknya, bahkan merasa lebih superior dibandingkan lainnya. Ini semua bukan perlombaan. Masa lalu itu adalah rasa sakit kita yang seharusnya membuat kita lebih kuat, walau prosesnya, itu tergantung diri kita sendiri, dan pada hitungan waktu kita sendiri. Tapi masa lalu bukan sebagai pelindung atas kesakitan yang akan terjadi di masa depan. Andai saja kita semua bisa saling mendengarkan dan berempati, tanpa perlu terlalu dalam menghakimi dan ikut campur terhadap keputusan hidup tiap manusia. Mungkin semua akan terasa lebih damai, dan menyenangkan.” 

“…dan, itu membuatmu cemas?” 

“Terkadang.” 

“Mengapa?” 

“Karena terkadang aku pun salah satunya.” 

Rendra tersenyum. Ia terlihat puas dengan jawabanku, tapi tidak mengungkapkan apa-apa setelahnya, Mungkin ia sedikit membaca kepribadianku yang selalu bergulat dengan dua polar, yang akhirnya menjadikanku di ranah abu-abu. 

“Lalu?” tanyaku. 

“Ya, tidak ada lalu. Ya itu yang kamu cemaskan.” 

Aku mencoba untuk membaca ke mana arah perbincangan ini, sejak tadi dinamikanya cepat dan naik turun. Rendra juga seorang yang cukup ekspresif dan komunikatif. Aku suka pendekatan komunikasi yang ia lakukan, tidak menggurui, dan tidak menghakimi, ia hanya terus dan menerus melontarkan hal-hal yang membuatku berpikir. Dan aku, suka berpikir. Rasanya seperti anak SD yang selama ini diperbolehkan makan Indomie Goreng setiap hari. Mungkin nanti anak SD ini akan muak juga dengan Indomie? Mungkin saja. 

Aku melihat cincin emas di jari manisnya, teringat bahwa ia sudah menikah. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba tercuat, mungkin ia bisa menjawab rasa penasaranku mengenai pernikahan. 

“Rendra, kenapa akhirnya kamu memutuskan untuk menikah?” 

“Karena, pada akhirnya di satu fase hidupku, aku sadar bahwa hidup itu tidak bisa selalu menyenangkan diri sendiri.” 

Aku terdiam. Aku hanya berharap, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, bahwa ia benar mengakui bahwa ia juga bahagia dengan pasangannya dan tidak melakukan hal ini semata-mata untuk memenuhi ego sekitarnya. 

Malam ini akhirnya kami tutup. Aku masih belum bisa membaca Rendra sepenuhnya, dan kurasa Rendra begitu. Lagi pula ‘membaca’ satu sama lain itu bukan tujuan awal kami bertemu. Memang kami naturally manusia yang suka saja ‘membaca’ walau dengan cara yang berbeda. Aku memesan gojek, sedangkan Rendra masuk ke dalam sedan hitam, dijemput oleh istrinya. 

“Sampai ketemu lagi ya, lebih random lebih baik,” tutupnya saat berpisah. Aku ingin sekali bertanya mengapa ia menyatakan itu, tapi tenggorokanku tercekat. Batinku bilang, tidak usah ditanyakan. Mungkin tidak harus semuanya dijelaskan sekarang. Mungkin pada perbincangan berikutnya ada hal-hal yang kami jawab kembali. 

Yang aku tahu pasti, pertemuan tadi, menyenangkan. 

Raga Rendra sudah eksis di dalam hidupku. Namun jiwa Rendra belum kasatmata, dan aku menunggu pertemuan berikutnya untuk mewujudkan lagi ‘diri’ ia, sepenuhnya. 

Aku pun beranjak pulang. Di atas gojek, aku tidak sabar untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan sembari bersyukur…karena pertemuan tadi, aku semakin yakin dengan apa yang aku yakini. 

Bahwa abu-abu, terhitung sebagai sebuah eksistensi, sebagai sebuah cara…dalam memahami dan berdamai dengan society

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment