Jika Malaikat Mempertanyakan Pakaian yang Kukenakan

Saya lahir dari keluarga yang menganut salah satu agama mayoritas di Indonesia. Satu sisi hal ini menjadi privilese karena memudahkan saya untuk mengakses hal-hal familier dalam keseharian yang sarat akan ajaran agama di negara ini. Pada sisi lain, tidak bisa dimungkiri, bias kerap terjadi, terutama ketika saya berada dalam lingkungan yang cenderung seragam.

Pengalaman tumbuh dalam lingkungan yang beragam agama dan kepercayaan, kerap membuat saya terasing ketika berada dalam lingkungan yang cenderung seragam. Suatu pertanyaan di benak saya kala itu, apakah lingkungan yang beragam dan seragam sama nyatanya, atau kita sendiri yang menciptakan salah satu atau bahkan keduanya?

Karena tumbuh dalam lingkungan yang beragam pula, zona nyaman saya selalu kembali pada nilai yang dianut ketika saya tumbuh, yakni toleransi akan keragaman. Sederhananya, sulit bagi saya untuk menerima bahwa dalam hal tertentu ada standar yang sama untuk semua manusia, termasuk standar dalam ajaran agama. Untuk itu, sebagai buatan manusia saya memaknai agama sebagai media dalam mengenal Tuhan dan kebaikannya, sesederhana itu.

Bagi saya, agama bukan segalanya, ia saling melengkapi untuk dan sesama unsur lain yang melekat dalam kehidupan saya, pekerjaan, pasangan, keluarga, bahkan hobi-hobi kecil yang senantiasa menumbuhkan kesenangan. Prioritasnya saja yang terkadang bergerak ke sana kemari. 

Jika malaikat mempertanyakan pakaian yang kukenakan, aku harus bagaimana?

Identitas yang melekat dalam pakaian yang saya kenakan juga tidak lepas dari interaksi dalam lingkungan yang saya akui keberadaanya: sebuah statement simbol keagamaan melalui tampilan luar seorang perempuan yang sarat akan aturan; sebuah aturan yang diinterpretasikan berbeda-beda, meskipun kerap terjadi pengarusutamaan pada satu kemutlakan (cara berpakaian).

Sedikit menoreh perjalanan ke belakang, saya menghabiskan masa remaja berdua dengan seorang ibu tunggal. Sebagai sesama perempuan yang saling menopang kehidupan, upaya kami untuk bertahan hidup kerap dicampuri pihak lain, baik laki-laki maupun sesama perempuan, termasuk dalam hal berpakaian. Dengan atau tanpa mengenakan simbol keagamaan dalam berpakaian, ada saja laki-laki yang merendahkan dengan rajukan ketika kami bekerja di kelontong yang sama sama kami bangun. 

Setali tiga uang, sejumlah pembeli perempuan kerap memaksakan kehendaknya kepada kami supaya berpakaian serupa, dengan alasan agar tidak digoda kaum pria. Kenyataannya, walaupun sudah kami sesuaikan, tetap saja cibiran lain kian menghampiri. Leher dan kakinya masih membentuk lah, lengannya masih terlihat lah, suara dan tatapan matanya menggoda lah.

Satu waktu, saya kerap menyimpan rasa kesal. Kalau leher dan kaki saya jenjang lalu kenapa, kalau lengan saya ingin bebas dari penghalang lalu kenapa, kalau suara saya bulat dan berat lalu kenapa, kalau saya menatap mata teman bicara lalu kenapa. Mempertimbangkan hasil dari interaksi inilah, saya dan ibu akhirnya memutuskan mengenakan pakaian dengan simbol keagamaan dalam momen tertentu, demi mendapatkan rasa aman dan nyaman. 

Seiring dengan bertambahnya usia, pakaian yang kami kenakan lambat laun menjadi identitas yang sejujurnya sulit untuk kami terima begitu saja. Proses di baliknya terkadang masih menyisakan luka. Terlebih ketika menjalankannya sendirian karena kini ibu sebagai teman perjalanan sudah berpulang terlebih dahulu ke pangkuan-Nya.

Jika malaikat mempertanyakan pakaian yang kukenakan, aku harus bagaimana?

Merujuk pada perjalanan dan kejujuran yang sebenar-benarnya saya rasakan, simbol keagamaan dalam pakaian yang saya kenakan tidak lebih demi rasa aman dan nyaman dari godaan kaum laki-laki maupun sesama perempuan. 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top