Yang Sekarang

Pekik Kalbu

Kemarin aku pun sangat sibuk. Membenam rindu yang membabi buta padamu. Menyapu air yang mengalir di pipi belahan jiwamu. Merelakan semesta yang tidak akan pernah memulangkanmu.

Pa, Kemarin aku bersembunyi dari isi kota. Sebab enggan melihat semua pemandangannya. Toko kue yang laris manis. Toko bunga yang diborong habis. Toko perbelanjaan yang ramai semarak. Toko perkakas ulang tahun yang penuh sesak. Pa, Kemarin semua anak terlihat sangat sibuk. Menyiapkan rencana kejutan terunik. Membeli hadiah-hadiah terbaik. Menulis kartu ucapan yang cantik. Mendekor seisi […]

Untuk Seseorang yang Kupanggil Ayah

Sebagai anak, baktiku hanya selembar daun kering yang gugur karena terlalu tua. Sulit untuk jujur bila akupun menyayangi kedua orangtuaku.

Dini hari, di hari yang orang-orang peringati sebagai cara berterima kasih kepada seseorang yang  dipanggil Ayah. Aku menasbihkan diri untuk memperingatinya dengan menyetubuhi aksaraku. Ayah, yang kuteguk ranum kasihnya saat orang-orang tertidur melewati waktu yang hinggap pada sepertiga malam yang akhir. Seperti hari ini, kala orang-orang memasang foto wajah ayah-ayah mereka di media sosial serta […]

Dasar yang Sama

Manusia sama pada dasarnya. Kita hanya sedang melalui persimpangan jalan yang berbeda, namun sama tujuannya.

Setiap saat terasa seperti malam. Pagi itu gelap. Siang itu dingin, Malam tetap menjadi malam. Seolah waktu tak bergerak, rasanya seperti berjalan di atas benang yang melingkar tak berujung. Memasang senyuman indah sekuat tenaga. Menegapkan badan, jangan sampai bungkuk. Menjaga intonasi bicara, jangan sampai terbawa emosi. Semua itu dengan ganas mengikat, agar menjadi rutinitas abadi. […]

Doa-Doa Pada Tuhan yang Sederhana, 09

Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Untuk lutut yang masih mampu menekuk, dan pejam yang masih sudi mampu untuk memujamu, dan utuh hadirmu dalam diri kami.

Tuhan, terima kasih untuk hidup. Terima kasih untuk napas. Terima kasih untuk mata yang masih mampu membuka, dan mulut yang masih mampu bersuara, masih mampu memujamu. Terima kasih untuk tidur di malam kemarin yang kauberi pada kami hingga kami mampu membuka mata kembali, dan rayakan syahdu dunia ini. Tuhan, kami adalah hamba yang kotor dan […]

Cahaya

Apa jika melakukan kebaikan, harus kita perhitungkan? Meneriakkan kata-kata kemanusiaan, namun tindakan mencerminkan kebiadaban.

Di dalam satu entitas yang hampa, Kita kembali menjadi yang terasingi. Terkukung dalam berbagai rasa tak percaya, Merampok mimpi, memperkosa jiwa. Mendamba hal yang baik, Namun diputus semua yang terkait. Dikutuk karna berbeda dari biasa, Lalu tunduk kepada yang berkuasa. Apa jika melakukan kebaikan, Harus kita perhitungkan? Meneriakkan kata-kata kemanusiaan, Namun tindakan mencerminkan kebiadaban. Tanpa […]

Merengkuh Perih

“Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” Kau baca puisi itu dengan takjub. Pagi itu, di kamar yang tertutup, Kau mengucap: “aku masih bertahan. Tenagaku masih cukup.”

I Dengan cucuknya, aku coba menanyai. Bagaimana goresan hidupmu yang sudah kau lewati. Awalnya diam. Tapi, akhirnya kau coba mengurai. Kisahmu, memang sungguh perih.   II Rupanya, kau telah banyak belajar. Kau melawan dan bertahan meskipun gentar. Dalam kerapuhan kau coba tegar. Karena kau tak mau mimpimu pudar.   III “Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” […]

Teh Ibu

Redupnya lampu kota, menambah haluan mesra ku dengannya. Kucing yang berjalan waktu itu berhenti untuk sejenak memberikan siulan kepada kami.

Secangkir teh yang disuguhkan ibu pagi itu, aromanya khas, memanggilku untuk singgah sementara. Ku teguk air coklat itu dan… Saat itu juga memoriku kembali ke satu titik bersamamu. Kala pertama kau beberkan tawa renyah, menyapaku. Ku yang saat itu sedang diam dengan mata yang menyusuri kota lama, kau datang, bersama ragamu yang gemilang, dengan candaan […]

Enigma Wajah Arca

Dalam remang kabut yang basah, seseorang itu mengheningkan cipta, sangat lama, sebelum akhirnya tersenyum ia, berjalan pergi kendati menoleh beberapa kali, tanpa busana, dan berjanji untuk kembali, kepada jiwa itu sendiri.

Suatu hari seseorang ingin melihat gambaran dirinya sendiri. Ia meminta penjelasan temannya, dengan bertanya: seperti apakah aku ini? Didengarkan sekian waktu, dan karena manusia punya batas percaya, lalu ia meminta temannya mengarahkan lensa dan memotret dirinya, sepenuh yang temannya bisa. Agar citra nampak apa adanya, pikirnya, dilepaskan seluruh pakaian, dibiarkannya kaca mengedip-ngedip mengingat tubuhnya. Dicuci […]

Harapku

Duhai,adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus kulalui dan mana yang harus kutinggalkan.

Kutatap senja sedang bergurau dengan lembayung Menyuguhkan warna yang menggambarkan hatiku Ingin tersedu, namun kau mengajakku tertawa Untuk menghiburku, katanya   Kutatap lekat semburatnya diujung langit Berharap gelap tak segera datang Agar tangis tak memelukku hingga terlelap dan merindu tiada habisnya   Duhai, adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus […]

Secangkir Kopi

Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman.

“Tenanglah,” bisiknya. “Kita akan baik-baik saja.” Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman. Barisan tanda tanya mengantre di samping imaji-imaji tak bersuara. Mendesak ruang kepala yang sudah sempit akibat monokrom yang tak juga padam. “Bertahanlah,” bisik suara itu […]

Previous page Next page