Yang Sekarang

Sebuah Lorong

Lalu engkau datang menggenggam tanganku. Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama. Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah, takutku takluk pada hadirmu.

Aku berdiri di depan sebuah lorong Panjang, gelap dan seakan tak berujung Bulu kudukku bergidik ngeri Tentang lorong itu dan apa yang ada di ujung sana Lalu engkau datang menggenggam tanganku Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah Takutku takluk pada hadirmu Lorong yang aku kira gelap, ternyata tidak segelap itu Di […]

Resiprokal

Kau ambil persediaan kayu di lebat hutanmu menggenggam sebagian aku dan kesetiaan adalah bahan bakar yang tersisa menghangatkan seisi ruang tamu.

Sejak hari itu aku berjalan ke dalam tatapmu memperkenalkan diriku menyambut dingin di gerbang kelopak yang jauh menatap. Sejauh aku menjelajahi rimba di matamu, selalu kujumpai rasa takut yang memenjarakan retina agar cahaya sirna sebelum hari kau rajut. Pernah sekali waktu, mata kita bertamu. Kau melihat mata sayuku. Mulai detik itu, kau ambil persediaan kayu […]

Bungkamnya Dunia

Manusia semakin tak terjamah. Sibuk memperkaya diri, menumpuk harta, berlomba memenangkan tahta. Sampai lupa, saudaranya sendiri tengah melawan dunia di sebrang sana.

Tangis itu nyata, tercekat tak menggema. Tangan kurus penuh luka itu, menjamah cahaya dunia, memohon ditoleh barang sebentar saja. Desau erangan lapar, jeritan ketakutan, mengundang ngilu di pendengaran. Ribuan pasang netranya yang sayu menerobos gemerlap dunia, sedang meminta derma. Penuh Sesal, dunia tak memberi apa yang mereka minta. Mendadak senyap. Ia enggan berkomentar walau seucap […]

Di Bawah Ayun Lengan Rezim Waktu

Kita masih bisa bahagia; menyadari kita hanya perlu mengizinkan masa berlalu lebih lama

Kita dilahirkan dengan musim kita masing-masing; lengkap dengan seperangkat rasa khawatir yang perlu karena terkadang pagi dan sore kita bertemu di bawah ayun lengan rezim waktu Kita masih bisa bahagia; menyadari kita hanya perlu mengizinkan masa berlalu lebih lama karena pertikaian selama ini adalah perihal bertukar lepas: malamku hampir tuntas, sementara siangmu sebentar lagi tandas […]

Bermonolog Dengan Kamu yang Aku

Kepada siapapun kamu yang menemukan aku, tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh, kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh, pikiranku kosong bukan sebab hati melompong, melainkan remah harap yang hampir tak tergotong, gosong dan beralibi di balik titah sombong.

Izinkan aku berbicara dengan diriku, barang satu menit saja atau bahkan kulebihkan, kepada siapapun kamu yang menemukan aku, tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh, kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh, pikiranku kosong bukan sebab hati melompong, melainkan remah harap yang hampir tak tergotong, gosong dan beralibi di balik titah sombong. Hanya butuh telinga sepasang untuk […]

Rona Pada Paras

Engkau harus tau, deru seruan ronamu itu menenggelamkan biru di diriku

Rona merah di pipimu Membuatku tersipu malu Mata tak lihai bersembunyi, kau tahu itu Melihat kanan kiri lamun tertuju ronamu itu Gelagapan bertingkah tak menentu Lelaki pemalu; yang pertama kali tidak malu Namun memalukan saat pertama kali bertemu Aku tertambat saat kau ceritakan sisi dari gelap malam Yang membuatmu mencintai larik sajak Yang engkau hela […]

Masih

Aku melihatmu meletakkan prasasti bukti adanya "kita" dalam sebuah tungku kayu,  kamu bersiap membakar, merelakan, melepas, menjadikannya abu lalu hilang dalam udara ruang.

Malam itu, kita berdebat mengenai kelangsungan bunga yang kita tanam bersama. Apakah harus kita tetap rawat di tempat yang sama atau langsung saja kita cabut hingga ke akarnya, lalu jatuhkan pada aspal yang kasar tanpa sedikit sentuhan tanah. Berulang kali ku katakan aku menyayangimu, namun belum cukup dapat membuatmu tinggal dan menetap. Senyum manis yang […]

Teruntuk Yang Kusebut Perempuan

Perempuan-ku, sudahkah kau terima undangan-ku? Sudah kusiapkan jamuannya; separuh hatiku.

[1] Jika Aku adalah Keluh, Maukah kau mengulurkan tangan? Mengusapnya, Agar keluh itu tetap milikmu. Jika aku adalah gaduh, Sudikah kau membisikkan suara? Lirih, berbisik: “Gaduh atau melepuh bersamaku?” Jika aku adalah riuh, Relakah kau berdiam sejenak? Menatapku, Menyadarkanku, Keluh, gaduh, riuh; itu Kamu.   [2] Kulipat rindu menjadi sebuah kertas, Kupanggil angin, lalu kutitipkan. […]

Kita, Sebatas Cerita

Benar adanya, bahwa kita hanya sebatas cerita yang kusimpan rapat dalam kepala

aku ingin bercerita tentang awan, tapi aku tak tau siapa yang bersedia mendengar aku ingin bercerita tentang embun, tapi sejuknya begitu menyakitkan aku ingin bercerita tentang laut, tapi dengan ketenangannya aku takut aku ingin bercerita tentang bulan, tapi ia selalu bersama malam aku ingin bercerita tentang angin, tapi ia begitu dingin aku ingin bercerita tentang […]

Tanpa Tepi Tanpa Tetapi

Memandangmu, aku seperti tenggelam dalam lautan kata. Pasrah, membiarkan pena bergempita.

Sejauh – jauhnya kubertualang, Sajak terbaik selalu aku dapati di matamu. Memandangmu, Aku seperti tenggelam dalam lautan kata. Pasrah, membiarkan pena bergempita. Segala kita adalah narasi, Yang takkan habis diceritakan semesta, Sekalipun waktu menunduk minta ampun, Mencari akhir dari kita. Kita tetaplah kita, Yang tanpa tepi Tanpa tetapi

Previous page Next page