Yang Sekarang

Rembulan yang Langka

Sebenarnya ketulusan itu sangat penting pada setiap sisi. Setelah mengenalnya aku tidak takut jika penghianatan dan cacian menghampiri, pada dasarnya ketulusan tidak akan pernah berwatak seperti itu.

Setengah windu menjalin kasih kepada pria tidak acuh menjelaskan betapa banyak sayang yang sudah aku guyurkan kepadanya. Engkau jangan meragukan kekasihku, seseorang menghabiskan kendi yang berisi cinta untuk memandikan seseorang bukan tanpa alasan tentunya. Untuk itu, aku berani menghabiskan isi kendi itu karena aku tahu kasih dan sayangnya tak sebanding dengan isi kendi yang aku […]

Titik Buta

Beberapa manusia membuka mata pada runyamnya dunia, lebih banyak lagi yang memilih buta. Menjalani kehidupan dan bersikap baik-baik saja seakan dunia sudah berjalan sebagaimana mestinya. Tapi kadang menjadi buta adalah pilihan. Pilihan untuk tidak membuka mata pada sekitar dan pilihan untuk tetap hidup tanpa bersentuhan.

Manusia kerap berteduh di bawah atap dosa-dosa yang mulai dilazimkan. Semua pelanggaran dan hal-hal yang tak wajar terlihat sangat jelas, namun pada titik tertentu manusia justru memilih menjadi buta.  Menutup mata atas bencana karena ulah tangan mereka atau menjadi tuli karena hak-hak minoritas yang masih diperdebatkan. Kampanye untuk menjaga semesta dan menciptakan masyarakat raharja tampaknya […]

Doa

“Bu, hari ini aku ke DPR atas nama keadilan. Kalau seandainya aku harus seperti Ayah, mohon ikhlaskan aku. Kupastikan Ibu akan tinggal di negara yang menjamin hak rakyatnya. Maafin aku. Aku sayang Ibu. Terima kasih buat semua yang indah di hidup aku.”

Barangkali keadilan bukan sesuatu yang diberikan cuma-cuma. Hak asasi adalah omong kosong yang walau sering kali disuarakan, pada akhirnya tetap menjadi angan belaka. Sialnya, meski keadilan digadang-gadang sebagai sesuatu yang harus dinikmati seluruh manusia, kekuasaan lebih menggoda untuk dimiliki dan menjadi jurang pemisah jalan menuju keadilan. Seperti rindu yang harus tandas pada kuasa jarak, atau […]

Aku Hidup

Aku hampir mati oleh senjata. Beramunisi kata-kata. Diserbu seraya jutaan serangga. Terlahir dari buku-buku. Yang bercumbu bebas dalam pikiran.

Aku hampir mati oleh senjata Beramunisi kata-kata Diserbu seraya jutaan serangga Terlahir dari buku-buku Yang bercumbu bebas dalam pikiran Tapi aku memilih untuk hidup dan turun ke jalan untuk melawan Kawan-kawan ku kau Renggut dengan alasan keamanan. Lalu kau tikam, lebam Aku berterima kasih sebab engkau telah memberi pelajaran berarti kepada kami akan bentuk penindasan! […]

Kabar Ibuku

Bu, ibu. Kabarmu baik-baik saja bukan? Kuharap demikian. Begitupun negeriku.

Bu, ibu. Kabarmu baik-baik saja bukan? Kuharap demikian. Begitupun negeriku. Bu, Sudahkah minum obat ? Supaya kau lekas sehat. Jangan dulu sekarat. Seperti negeriku. Bu, ibu. Aku tidak bisa pulang ke rumah. Aku belum lelah. Masih harus melawan penjajah. Bu, Berkatilah aku hari ini. Melindungimu agar tak dilucuti. Wahai pertiwi.   Photo credit: Bhagavad Sambadha

Sebuah Lorong

Lalu engkau datang menggenggam tanganku. Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama. Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah, takutku takluk pada hadirmu.

Aku berdiri di depan sebuah lorong Panjang, gelap dan seakan tak berujung Bulu kudukku bergidik ngeri Tentang lorong itu dan apa yang ada di ujung sana Lalu engkau datang menggenggam tanganku Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah Takutku takluk pada hadirmu Lorong yang aku kira gelap, ternyata tidak segelap itu Di […]

Resiprokal

Kau ambil persediaan kayu di lebat hutanmu menggenggam sebagian aku dan kesetiaan adalah bahan bakar yang tersisa menghangatkan seisi ruang tamu.

Sejak hari itu aku berjalan ke dalam tatapmu memperkenalkan diriku menyambut dingin di gerbang kelopak yang jauh menatap. Sejauh aku menjelajahi rimba di matamu, selalu kujumpai rasa takut yang memenjarakan retina agar cahaya sirna sebelum hari kau rajut. Pernah sekali waktu, mata kita bertamu. Kau melihat mata sayuku. Mulai detik itu, kau ambil persediaan kayu […]

Bungkamnya Dunia

Manusia semakin tak terjamah. Sibuk memperkaya diri, menumpuk harta, berlomba memenangkan tahta. Sampai lupa, saudaranya sendiri tengah melawan dunia di sebrang sana.

Tangis itu nyata, tercekat tak menggema. Tangan kurus penuh luka itu, menjamah cahaya dunia, memohon ditoleh barang sebentar saja. Desau erangan lapar, jeritan ketakutan, mengundang ngilu di pendengaran. Ribuan pasang netranya yang sayu menerobos gemerlap dunia, sedang meminta derma. Penuh Sesal, dunia tak memberi apa yang mereka minta. Mendadak senyap. Ia enggan berkomentar walau seucap […]

Di Bawah Ayun Lengan Rezim Waktu

Kita masih bisa bahagia; menyadari kita hanya perlu mengizinkan masa berlalu lebih lama

Kita dilahirkan dengan musim kita masing-masing; lengkap dengan seperangkat rasa khawatir yang perlu karena terkadang pagi dan sore kita bertemu di bawah ayun lengan rezim waktu Kita masih bisa bahagia; menyadari kita hanya perlu mengizinkan masa berlalu lebih lama karena pertikaian selama ini adalah perihal bertukar lepas: malamku hampir tuntas, sementara siangmu sebentar lagi tandas […]

Bermonolog Dengan Kamu yang Aku

Kepada siapapun kamu yang menemukan aku, tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh, kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh, pikiranku kosong bukan sebab hati melompong, melainkan remah harap yang hampir tak tergotong, gosong dan beralibi di balik titah sombong.

Izinkan aku berbicara dengan diriku, barang satu menit saja atau bahkan kulebihkan, kepada siapapun kamu yang menemukan aku, tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh, kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh, pikiranku kosong bukan sebab hati melompong, melainkan remah harap yang hampir tak tergotong, gosong dan beralibi di balik titah sombong. Hanya butuh telinga sepasang untuk […]

Previous page Next page