Perspektif
Sebermula Hidup adalah Perspektif. Dalam menjadi manusia, perspektif menguap di mana-mana. Sebelum teori-teori dipatenkan, bukankah mereka adalah perspektif? Bahkan, hukum-hukum yang berlaku merupakan perspektif yang diseragamkan.

Teritori Rindu

Aku termakan bualan penulis puisi yang mengatakan bahwa waktu ialah penawar sejati yang sakti. Nyatanya aku belum sembuh sampai tubuhku membeku tertimbun salju lalu mati karena dikuliti rindu.

Aku menyesap teh hijau hangat di padang salju akhir abad, menggigilku tak terasa saat kugosok telapak tangan sambil merapalkan namanya. Aku terus memandangi hari tanpa sadar bahwa dia sudah terlalu lama pergi. Laksana mimpi, ia tak akan kembali. Sayangnya, aku lupa menuliskan namanya saat kularungkan perahu kertas di danau harapan. Rapalan doaku kurang kencang. Dia […]

Enigma Wajah Arca

Dalam remang kabut yang basah, seseorang itu mengheningkan cipta, sangat lama, sebelum akhirnya tersenyum ia, berjalan pergi kendati menoleh beberapa kali, tanpa busana, dan berjanji untuk kembali, kepada jiwa itu sendiri.

Suatu hari seseorang ingin melihat gambaran dirinya sendiri. Ia meminta penjelasan temannya, dengan bertanya: seperti apakah aku ini? Didengarkan sekian waktu, dan karena manusia punya batas percaya, lalu ia meminta temannya mengarahkan lensa dan memotret dirinya, sepenuh yang temannya bisa. Agar citra nampak apa adanya, pikirnya, dilepaskan seluruh pakaian, dibiarkannya kaca mengedip-ngedip mengingat tubuhnya. Dicuci […]

Manusia Bermahkota Agama

Di televisi, para petinggi adu argumentasi perihal agama, mencla-mencle mengupas ayat a, b, c, d demi apologia, padahal kitab suci di rumah mereka sendiri dimakan ngengat berlapis debu jarang dibuka.

Di selasar kampus, gadis berliontin salib mengingatkan sahabatnya, si kerudung coklat agar lekas salat. Di mulut gang sempit, seorang atheis bermuka sekeras granit memungut kucing jalanan bau bacin hampir mati. Di pelosok dusun, ibu-ibu bertelekung berhenti ngaji mencacak selamatkan tetangga pemakan babi, yang rumahnya dilalap api. Di televisi, para petinggi adu argumentasi perihal agama, mencla-mencle […]

Harapku

Duhai,adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus kulalui dan mana yang harus kutinggalkan.

Kutatap senja sedang bergurau dengan lembayung Menyuguhkan warna yang menggambarkan hatiku Ingin tersedu, namun kau mengajakku tertawa Untuk menghiburku, katanya   Kutatap lekat semburatnya diujung langit Berharap gelap tak segera datang Agar tangis tak memelukku hingga terlelap dan merindu tiada habisnya   Duhai, adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus […]

Untukmu yang Beranjak Pergi

Kisah kita baru sepanjang prolog saja. Pergilah, tuntaskan apa-apa yang mengikat sebelum cerita kita membentuk satu-kesatuan buku utuh dan menyulitkan kita untuk membaca lalu melupakan isinya.

Jika yang kau ingin adalah pergi, berangan, menelisik tanpa terusik. Bebas, bercumbu di banyak dara tanpa bera, lantas, aku apalah daya? Canggih doaku hanya mampu menyertai, pawai kenangan yang riuh dan iring langkahmu pergi. Tak mampu membawa hadirmu kembali. Meski dalam hati, rasa dan karsa riuh menjeritkan kata yang tak mampu kuilhami. Meski kita sama-sama […]

Doa Usang

Sebungkus rokok adalah idaman. Dan segelas kopi adalah ritus penutup dari semua kewalahan. Iba hanya akan menjadi sepotong bangkai tatkala rasa ingin tau adalah sebuah kebutuhan khusus demi memenuhi asupan citra kepedulian.

Keadaan sudah tidak memungkinkan untuk terus mempunyai tujuan. Harapan hanya menjadi bulan-bulanan makian. Baiknya lepehkan cuapan soal impian. Do’a-do’a usang bahkan berserakan, beralih fungsi menjadi bahan tertawaan. Cinderamata yang disebut wejangan mungkin sudah menjadi pajangan. Berdebu di antara ribuan kosakata-kosakata pembangkit impian. Memang apa yang salah dengan menyerah? Mengais kecewa dan bersandar pada putus asa. […]

Menyamakan Langkah

Terkadang yang perlu kita lakukan hanyalah bergerak maju, lalu maju, dan maju. Tak peduli dengan terseok, menyeret, atau mengisut sekalipun. Sampai akhirnya kita menemukan mereka menoleh sambil tersenyum beriringan dengan langkah yang seirama.

Yang aku tahu, semuanya melaju ke depan tanpa pernah mundur. Melaju sangat cepat, terkadang bahkan terlalu cepat sampai terengah aku mengejarnya. Mereka bilang tak apa berhenti barang sejenak, katanya tak apa kalau aku lelah, istirahat saja. Tapi setiap aku melambat, mereka tetap pada kecepatannya yang kadang membuatku kebingungan harus diam atau kembali menyamakan langkah. Lalu […]

Kembalikan

Selepas berdoa ibu terisak mengingat sikap anaknya sementara ayah memilih menunggu dekat beranda menemui lampu kecil taman tempatnya memilah gelap dan cahaya

Selepas berdoa ibu terisak mengingat sikap anaknya sementara ayah memilih menunggu dekat beranda menemui lampu kecil taman tempatnya memilah gelap dan cahaya tidak jauh dari tempat tinggal mereka suara-suara dibungkam sehabis berteriak menghantam ketakutan dor! duh! dalam bentuk apa penjara paling menakutkan? ketika keterbatasan menyergap tubuh ayah dan ibu? dalam bentuk apa penjara terasa menggelikan? […]

Kita Adalah Sebuah Stasiun

Di stasiun, hujan jatuh tak mengenal musim. Ia turun ketika gerbong-gerbong datang, menjemput kebahagiaan dan menurunkan kesedihan, atau justru sebaliknya.

Barangkali, kita semua pernah menjadi sebuah stasiun, menunggu orang-orang datang, meski akhirnya kembali ditinggalkan. Stasiun adalah tempat menjemput seseorang setelah bepergian jauh dan kemudian pulang. Tapi seringnya, stasiun adalah tempat seseorang untuk berpamitan, melambaikan tangan dan juga menjeda pertemuan. Di stasiun, hujan jatuh tak mengenal musim. Ia turun ketika gerbong-gerbong datang, menjemput kebahagiaan dan menurunkan […]

Secangkir Kopi

Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman.

“Tenanglah,” bisiknya. “Kita akan baik-baik saja.” Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman. Barisan tanda tanya mengantre di samping imaji-imaji tak bersuara. Mendesak ruang kepala yang sudah sempit akibat monokrom yang tak juga padam. “Bertahanlah,” bisik suara itu […]

Previous page Next page