Yang Lain

Terima Kasih Telah Pulang

Ingin rasanya menunggui mu pulang, berharap jumantara kehilangan senjanya. Lalu secarik kain tebal ku suguhkan di badan, berharap ada dingin melilit tanpa hipotermia.

Sore ini, ada yang bertamu di awan Memandang lekat Meliuk kehitaman Membuncahkan rindu yang masih asik terbenam Ingin rasanya menunggui mu pulang Berharap jumantara kehilangan senjanya Lalu secarik kain tebal ku suguhkan di badan Berharap ada dingin melilit tanpa hipotermia Nun jauh di ujung nadir ku kira Dan aku yang hendak melempar harapan jauh ke […]

Mengaung dalam Pasung

Mau sampai kapan hanya jadi teman, terus memaksa nurani untuk bilang nyaman. Hingga akhirnya hanya mampu jadi sang perawat luka, bukan alasan dari segala cerita.

Dalam ruang gelap paling rahasia Terdapat rasa yang sedang terpasung Sembunyi dalam palung kedap suara Selamanya takkan terdengar sampai muara Hanya akan jadi rahasia samudra Nurani penuh ingin untuk mengoyak lisan Yang tak pernah mampu bawa pesan Begitu pengecut Takut penolakan jadi kata lontar paling sulung Mau sampai kapan hanya jadi teman Terus memaksa nurani […]

Desember

Desember, maaf mengotorimu dengan banyak kesedihan. Tapi satu lagi kisah tentang perpisahan akan segera rampung ku tuliskan.

Desember dirundung rindu; akan hujan yang lama tak bertemu, akan seseorang yang lama tak bertamu. Apa kabar? Tanda tanya di ujung kalimat itu adalah bukti keegoisanku untuk menyentuh hidupmu sekali lagi. Itu menjadi hakmu, untuk menjawab ataupun tidak menjawabnya sama sekali. Sedang aku hanya bisa tertegun di ujung jurang kekecewaan karena lagi-lagi, rasa rindu mengalahkan […]

Ruang Renjana

Tanyakan kita padanya, kan kaudengar kidung tentang renjana yang menyesakkan rongga, menjelma menjadi ruang yang kini kauratapi.

Jika kautanya tentang kehilangan, tanyakan pada sirap yang diratap Berapa malam ia direnung tangis, bersemuka wajah mungil yang meringis Tanyakan pada bantal di atas tilam sudahkah ia dicuci pekan ini Mana tahu apek karena ulah si gadis, membenamkan wajah di atasnya, membisukan sengguk yang mereguk Tanyakan pada dinding yang merapuh masih tahankah ia menopang kukuh, […]

Sepasang Nahkoda dengan Arah yang Berbeda

Kita perlu menepi sebentar, karena aku masih punya pundak yang kuat untuk kau bersandar. Pintaku, kau tidak bergegas kemana-mana, temani aku merakit sempurna yang nyaris sirna.

Kita berada di kapal yang sama, bertugas mengerahkan segala imbang agar tak terambing. Berlindung di balik kata ‘saling percaya’, dari badai yang seketika memecah aman, lalu berdampak pada hilangnya nyaman. Riuh tak kunjung menemukan teduhnya, cemas menyelimuti batin beserta tenangnya. Kita perlu menepi sebentar, karena aku masih punya pundak yang kuat untuk kau bersandar. Pintaku, […]

Untuk Setiap Singgah yang Tak Pernah Menjadikannya Rumah

Tujuh milyar manusia, katanya, namun ia gemar sekali mempertemukan sebelum akhirnya memisahkan—menjadikan yang awalnya asing menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadikannya asing.

Perihal kehidupan, ternyata ia memang jenaka apa adanya. Tujuh milyar manusia, katanya, namun ia gemar sekali mempertemukan sebelum akhirnya memisahkan—menjadikan yang awalnya asing menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadikannya asing. Berpindah mengetuk dari satu hati ke hati yang lainnya, hanya untuk sekedarnya singgah sementara. Berpindah secara berkala sampai akhirnya kita lupa, sudah berapa banyak […]

Musim Hujan

Saat hujan datang, anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan keduanya. Mereka seringkali pulang ke rumah dengan baju dan mata yang sama-sama basah.

Di sebuah kota yang berusaha mati-matian untuk melupakan kemarau, Hujan akhirnya turun menghapus kau dan masa lampau. Ia jatuh dengan lekas dan ringkas, seperti pesan-pesan singkatku di telepon genggammu yang tidak atau pernah kau balas. Di jalanan, kemungkinan adalah genangan dan kenangan adalah lubang. Saat hujan datang, anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan […]

Bukan Salahmu

Puan, bilamana aku harus menggambarkan semesta dengan segala kompleksitasnya yang ada, maka aku ini terlalu miskin aksara.

Puan, bilamana aku harus menggambarkan semesta dengan segala kompleksitasnya yang ada, maka aku ini terlalu miskin aksara. Karena, sungguh aku ini cuma pujangga, bukan seorang filosof alam seperti Empedocles yang mampu menganalogikan bagaimana filantropi dan rasa benci sama-sama mengatur perubahan duniawi. Puan, perihal itu semua, aku bisa memberimu beberapa hal yang lebih ugahari, seperti selimut […]

Menjelma Karya Sastra

Aku bisa menjelma puisi, senantiasa melindungi seorang kamu dari antologi rasa. Aku dapat menjelma cerpen, selalu membantu seorang kamu kabur dari realitas masa. Aku tentu menjelma novel, sepenuh hati membelai rambutmu yang kini memanjang.

Aku ingin kembali menjadi karya sastra yang senantiasa kau baca di sore hari. Saat kata-kata kau tuturkan dengan paduan manis brownies sembari menenangkan jiwa dari kepenatan sanubari. Sudah cukup untuk hari ini, bukan? Biarlah aku sebagai pemanis akhir harimu. Aku bisa menjelma puisi, senantiasa melindungi seorang kamu dari antologi rasa. Aku dapat menjelma cerpen, selalu […]

Suraloka

Ka, kau tidak tahu saja, kau sudah batara jauh sebelum elokku kauberi nama.

Ka, kau tidak tahu saja— Tiap kali kaurapal namaku yang bidari itu seperti doamu yang paling telanjang— bahwa sudah sekian purnama, sejak kau jumpakan’ ku, dengan jendela suraloka. Dan aku diam-diam masuk ke sana, dengan kado sepasang sayap yang patah bersama jatuhmu kala itu, aku sayup-sayup menyelinap menjadi syahdu yang berumah dalam temaram suralaya. Ka, […]

Previous page Next page