Yang Harus

Jonna Damanik: Tunanetra dan Berdampak Bagi Semesta

Jangan menganggap langkah kecil sebagai bagian yang terpisahkan dari proses menjadi manusia, sebuah roda yang terus bergerak untuk mengembangkan sisi kemanusiaan dan melakukan tindakan yang bermakna, meski memiliki banyak kekurangan.

Pada 2007, Jonna Damanik didiagnosis sebagai seorang tunanetra akibat penyakit glaukoma, yaitu tekanan bola mata yang berlebihan. Jonna pun mengikuti beberapa kali tindakan operasi. Tekanan bola mata yang sudah terlampau besar akhirnya berujung pada mata kanan Jonna yang buta total dan hanya dapat menangkap cahaya (light perception). Walaupun masih memiliki sisa penglihatan atau tergolong ke […]

Kembali Melompat

Kita pernah babak belur dihajar hidup lalu merasa tidak berguna. Gagal, kalah, dan patah hati akan terus mampir. Selama kita melompat, pasti jatuh juga. Tidak ada salahnya. Sebodoh-bodohnya tupai yang jatuh, dia akan bangkit dan kembali melompat. Semoga.

Hidup hanya menunda kekalahan, tulis Chairil Anwar dalam puisi “Derai-derai Cemara” pada 1949. Buat saya, baris tersebut menggambarkan kejatuhan-kejatuhan yang senantiasa menanti. Sebaik-baiknya manusia, kita toh wajib mengalami patah hati, dikesampingkan, merasa kalah, bahkan menghadapi kehilangan yang paling menderita. Sewaktu kecil, saya selalu ingin menjadi pemain sepak bola. Besar dengan serial film dan komik Captain […]

Cerita Ernest Prakasa Soal Bangkit dari Kegagalan

Kendati kita tidak bisa memuaskan semua orang, lepas dari hinaan dan penilaian, jangan takut untuk terus mencoba.

Dalam episode Berbagi Perspektif “Jadi Orang Cina di Indonesia?”, Menjadi Manusia membagikan cerita perjalanan seorang komedian, penulis, dan sutradara film layar lebar, Ernest Prakasa. Sebelum berkarier sebagai pelawak tunggal, Ernest menggeluti industri musik nasional pada 2005—2011. Saat itu ia tergabung ke dalam salah satu label rekaman ternama. Jalan hidupnya menemui persimpangan, sebuah titik balik, ketika […]

Puisi-Puisi yang Dikembalikan

Kalut memang, sebab bagian paling sederhana dari kisahnya ialah doa yang mengalir tanpa diketahui oleh pemilik namanya. Sampai-sampai, ujung dari rasa sayangnya adalah mengikhlaskan. Sudah lama sekali aksara-aksaranya tak tersampaikan. Karena ia tahu, bukan dirinya yang pantas untuk mengirimkan.

Penanya akan selalu kembali pada saku Sampai akhirnya Walgitanya tak pernah diusaikan Seperti itu saja terus Tak pernah berani Tapi pandai menata hati Sampai rapi Sampai tak pernah diketahui ia pernah menangis Ikhlaskan saja rasanya Sampai letih raganya Sampai bungkam perasaannya Biarkan saja sajadahnya basah tertutup air mata Yang terpenting, ia tak lagi menaruh harap […]

Tafsir Awan dan Hujan

Andai kata ingin menafsirkan derasnya hujan, bagai penyesalanku terhadapmu, dan aku ingin berkata, “Aku ingin berbagi dunia bersamamu.”

Di luar sana, ku dengar suara gemuruh Jeruk peras hangat di depanku hanya kupandangi saja Awan sedang murung mendung Ingin meluapkan segala rasa, marah misalnya Kemudian hujan turun mengguyur Membasahi alam nan indah Dedaunan segar bak tertawa bahagia Ranting-ranting ibarat berbisik dengan handai-handainya Dan aku? Duduk dan terpekur Tanpa memafhumi apa yang mengoyak kalbu Isak […]

Tentang Merdeka

Jangan minta padi merunduk kalau belum diberi pupuk. Merdeka itu persoal makna.

Tinggi sekali “nasionalisme”, sampai longsor rasa penghargaan di hati.     Berbagai hari perayaan kita jadikan alasan untuk mengenang masa lalu, yang disebut-sebut penuh perjuangan. Seakan-akan buta dengan makna merdeka, kita mengikat diri dengan kain panjang ketat, kepusingan naskah orasi, dan hamburan harta untuk kudapan-kudapan yang katanya bermakna.   Bukankah berjalan santai sambil scrolling informasi […]

Tidur, Nak

Tidur, Nak… Mak tahu langkahmu sudah amat kepayahan, menyusuri hidup dan naik turun tangga samsara yang panjangnya ampun-ampunan.

Tidur, Nak… Mak tahu langkahmu sudah amat kepayahan, menyusuri hidup dan naik turun tangga samsara yang panjangnya ampun-ampunan. Sering sudah engkau jatuh, jalan pincang-pincang, dan lutut bergemetar. Mengapa masih saja kaulawan segala lelah? Berhentilah barang sedetik. Waktu memang tiada berjeda, tetapi pahamilah bahwa dirimu butuh rebah. Meski masih amat panjang jalan di depanmu, meski masih […]

Jakarta Pukul Tiga

Ayah bercerita perihal hidupnya yang penuh akan kerja keras sampai hasil menyapa tanpa berkhianat. Ibu bercerita mengenai iklim impiannya yang terbentang sampai senja menjelma.

“Apa kabar?” sebuah pertanyaan seribu makna. Sudah terpaut sepekan sejak senja meninggalkan corak tak berarti di wajah jumantara. Yang terbesit hanya semburat garis menua bersama. Ayah bercerita perihal hidupnya yang penuh akan kerja keras sampai hasil menyapa tanpa berkhianat. Ibu bercerita mengenai iklim impiannya yang terbentang sampai senja menjelma. Perihal waktu, aku percaya semua berawal […]

Bukan Salahmu

Puan, bilamana aku harus menggambarkan semesta dengan segala kompleksitasnya yang ada, maka aku ini terlalu miskin aksara.

Puan, bilamana aku harus menggambarkan semesta dengan segala kompleksitasnya yang ada, maka aku ini terlalu miskin aksara. Karena, sungguh aku ini cuma pujangga, bukan seorang filosof alam seperti Empedocles yang mampu menganalogikan bagaimana filantropi dan rasa benci sama-sama mengatur perubahan duniawi. Puan, perihal itu semua, aku bisa memberimu beberapa hal yang lebih ugahari, seperti selimut […]

Untukmu yang Beranjak Pergi

Kisah kita baru sepanjang prolog saja. Pergilah, tuntaskan apa-apa yang mengikat sebelum cerita kita membentuk satu-kesatuan buku utuh dan menyulitkan kita untuk membaca lalu melupakan isinya.

Jika yang kau ingin adalah pergi, berangan, menelisik tanpa terusik. Bebas, bercumbu di banyak dara tanpa bera, lantas, aku apalah daya? Canggih doaku hanya mampu menyertai, pawai kenangan yang riuh dan iring langkahmu pergi. Tak mampu membawa hadirmu kembali. Meski dalam hati, rasa dan karsa riuh menjeritkan kata yang tak mampu kuilhami. Meski kita sama-sama […]

Previous page Next page