Sepasang

Catatan Pukul Satu

Kita adalah satu yang lekas jadi kosong karena batas yang diciptakan masing-masing kita. Kita adalah utuh yang lekas jadi remuk karena berusaha jadi baik-baik saja.

Kita adalah satu yang lekas jadi kosong karena batas yang diciptakan masing-masing kita. Kita adalah utuh yang lekas jadi remuk karena berusaha jadi baik-baik saja. Kita. Masing-masing kita tahu bahwa pulang adalah ke rumah, kepelukanmu dan memeluk aku. Tapi kita, Berusaha jadi seperti yang lain. Masing-masing kita tahu bahwa bersandar pada bahumu dan bahuku adalah […]

Melalui Diam dan Menahan, Cerita Ini Berawal

Khayalan ini terlalu berlebihan, mari akhiri. Jangan tahan apapun, jangan dahului takdir dalam keadaan bagaimana pun. Biarlah yang terbang bebas, tetap terbang. Biarlah yang mengalir deras, tetap mengalir. Biarlah semesta yang menghubungkan semua yang telah terukir.

Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu. Meski semua persepsi yang terpoles ayu dalam memoriku hanyalah nyanyian  dari bibir kering yang melantur halu. Kita tak pernah terduduk di atas kursi yang sama pada nyatanya. Kita adalah individu-individu yang duduk sendiri-sendiri, tak pernah saling mengisi walau melontar sapa pemecah sepi, apalagi basa-basi. Membungkam […]

Dua

Banyak sekali perbedaan di antara kita. Yang membuat tetap bisa bersama adalah karena kau dan aku tidak pernah memikirkan perbedaan itu. Perbedaan bukan masalah. Masalah adalah apa yang kita anggap masalah, kalau tidak kita anggap, maka itu bukan.

Kita terduduk pada dua bangku. Di kafe langganan kita pada satu minggu sore yang sendu. Meja di tengah menjadi pemisah. Duduk berhadapan dengan sedikit percakapan, kita disibukkan oleh bacaan  dalam genggaman. Kau pegang novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi. Kucoba cerna kata-kata Nietzhe tentang eksistensialisme. “Hati-hati baca Nietzhe, jadi atheis kau nanti,” katamu. “Hati-hati baca […]

Mengaung dalam Pasung

Mau sampai kapan hanya jadi teman, terus memaksa nurani untuk bilang nyaman. Hingga akhirnya hanya mampu jadi sang perawat luka, bukan alasan dari segala cerita.

Dalam ruang gelap paling rahasia Terdapat rasa yang sedang terpasung Sembunyi dalam palung kedap suara Selamanya takkan terdengar sampai muara Hanya akan jadi rahasia samudra Nurani penuh ingin untuk mengoyak lisan Yang tak pernah mampu bawa pesan Begitu pengecut Takut penolakan jadi kata lontar paling sulung Mau sampai kapan hanya jadi teman Terus memaksa nurani […]

Desember

Desember, maaf mengotorimu dengan banyak kesedihan. Tapi satu lagi kisah tentang perpisahan akan segera rampung ku tuliskan.

Desember dirundung rindu; akan hujan yang lama tak bertemu, akan seseorang yang lama tak bertamu. Apa kabar? Tanda tanya di ujung kalimat itu adalah bukti keegoisanku untuk menyentuh hidupmu sekali lagi. Itu menjadi hakmu, untuk menjawab ataupun tidak menjawabnya sama sekali. Sedang aku hanya bisa tertegun di ujung jurang kekecewaan karena lagi-lagi, rasa rindu mengalahkan […]

Ruang Renjana

Tanyakan kita padanya, kan kaudengar kidung tentang renjana yang menyesakkan rongga, menjelma menjadi ruang yang kini kauratapi.

Jika kautanya tentang kehilangan, tanyakan pada sirap yang diratap Berapa malam ia direnung tangis, bersemuka wajah mungil yang meringis Tanyakan pada bantal di atas tilam sudahkah ia dicuci pekan ini Mana tahu apek karena ulah si gadis, membenamkan wajah di atasnya, membisukan sengguk yang mereguk Tanyakan pada dinding yang merapuh masih tahankah ia menopang kukuh, […]

Sepasang Nahkoda dengan Arah yang Berbeda

Kita perlu menepi sebentar, karena aku masih punya pundak yang kuat untuk kau bersandar. Pintaku, kau tidak bergegas kemana-mana, temani aku merakit sempurna yang nyaris sirna.

Kita berada di kapal yang sama, bertugas mengerahkan segala imbang agar tak terambing. Berlindung di balik kata ‘saling percaya’, dari badai yang seketika memecah aman, lalu berdampak pada hilangnya nyaman. Riuh tak kunjung menemukan teduhnya, cemas menyelimuti batin beserta tenangnya. Kita perlu menepi sebentar, karena aku masih punya pundak yang kuat untuk kau bersandar. Pintaku, […]

Menjelma Karya Sastra

Aku bisa menjelma puisi, senantiasa melindungi seorang kamu dari antologi rasa. Aku dapat menjelma cerpen, selalu membantu seorang kamu kabur dari realitas masa. Aku tentu menjelma novel, sepenuh hati membelai rambutmu yang kini memanjang.

Aku ingin kembali menjadi karya sastra yang senantiasa kau baca di sore hari. Saat kata-kata kau tuturkan dengan paduan manis brownies sembari menenangkan jiwa dari kepenatan sanubari. Sudah cukup untuk hari ini, bukan? Biarlah aku sebagai pemanis akhir harimu. Aku bisa menjelma puisi, senantiasa melindungi seorang kamu dari antologi rasa. Aku dapat menjelma cerpen, selalu […]

Suraloka

Ka, kau tidak tahu saja, kau sudah batara jauh sebelum elokku kauberi nama.

Ka, kau tidak tahu saja— Tiap kali kaurapal namaku yang bidari itu seperti doamu yang paling telanjang— bahwa sudah sekian purnama, sejak kau jumpakan’ ku, dengan jendela suraloka. Dan aku diam-diam masuk ke sana, dengan kado sepasang sayap yang patah bersama jatuhmu kala itu, aku sayup-sayup menyelinap menjadi syahdu yang berumah dalam temaram suralaya. Ka, […]

Pasar Malam

Jika nanti pasar malam itu sudah tak beroperasi, temui aku di kala kau ingin dan rindu, jangan sungkan minta ditemani. Karna sejatinya, akulah yang paling ingin menemanimu.

Jika nanti bianglala itu sudah berhenti, Mampirlah kerumahku, Duduklah ditepi, Barangkali kau sudi meminum segelas kopi. Jika nanti komedi putar itu sudah berhenti, Lihatlah kesekitar, Jika kau merasa sendiri, Temuilah aku di samping komedi putar. Jika nanti permen kapas itu sudah habis, Bicaralah padaku dengan lugas, Akan kuberikan kau cermin rias, Agar kau bisa merasakan […]

Previous page Next page