Sepasang

Teruntuk Yang Kusebut Perempuan

Perempuan-ku, sudahkah kau terima undangan-ku? Sudah kusiapkan jamuannya; separuh hatiku.

[1] Jika Aku adalah Keluh, Maukah kau mengulurkan tangan? Mengusapnya, Agar keluh itu tetap milikmu. Jika aku adalah gaduh, Sudikah kau membisikkan suara? Lirih, berbisik: “Gaduh atau melepuh bersamaku?” Jika aku adalah riuh, Relakah kau berdiam sejenak? Menatapku, Menyadarkanku, Keluh, gaduh, riuh; itu Kamu.   [2] Kulipat rindu menjadi sebuah kertas, Kupanggil angin, lalu kutitipkan. […]

Kopi Asin

Otak saya dengan cepat mengulang kejadian beberapa hari lalu. Kejadian yang membuat hidup saya tak manis lagi. Sejak hari itu, rasa kopi dalam mulut saya selalu berubah rasa. Tak manis, pahit ataupun gurih. Kopi yang saya teguk berubah rasa jadi asin.

Sore ini saya kembali beraktivitas setelah beberapa hari terpuruk karena dia. Saya kembali menjadi seorang perempuan yang sibuk. Pergi mencari inspirasi untuk menulis jadi pilihan sore ini. Saya datang ke kedai kopi di kawasan Kemang. Dan duduk di sekitar orang-orang. Sesekali saya melihat ke depan, kiri, belakang, dan kanan. Orang-orang berlalu lalang. Pergi dan datang. […]

Kita, Sebatas Cerita

Benar adanya, bahwa kita hanya sebatas cerita yang kusimpan rapat dalam kepala

aku ingin bercerita tentang awan, tapi aku tak tau siapa yang bersedia mendengar aku ingin bercerita tentang embun, tapi sejuknya begitu menyakitkan aku ingin bercerita tentang laut, tapi dengan ketenangannya aku takut aku ingin bercerita tentang bulan, tapi ia selalu bersama malam aku ingin bercerita tentang angin, tapi ia begitu dingin aku ingin bercerita tentang […]

Senyap

Kamu tahu, terkadang menjadi satu terasa rancu, namun jika dua pun terasa ragu-ragu.

Kamu tahu, terkadang menjadi satu terasa rancu, namun jika dua pun terasa ragu-ragu. Aku paham jika raga siap tuk menanti, namun hati tak bisa basa basi. Terlalu durhaka kepada kenyataan. Meronta, meminta, memaksa. Kamu tahu, ketika sel-sel otak terkontaminasi oleh hati, ikut iri, lantas berlaku konotasi. Terus saja meminta satu untuk bertemu satu lainnya. Gila! […]

Tanpa Tepi Tanpa Tetapi

Memandangmu, aku seperti tenggelam dalam lautan kata. Pasrah, membiarkan pena bergempita.

Sejauh – jauhnya kubertualang, Sajak terbaik selalu aku dapati di matamu. Memandangmu, Aku seperti tenggelam dalam lautan kata. Pasrah, membiarkan pena bergempita. Segala kita adalah narasi, Yang takkan habis diceritakan semesta, Sekalipun waktu menunduk minta ampun, Mencari akhir dari kita. Kita tetaplah kita, Yang tanpa tepi Tanpa tetapi

Tentang Sebuah Hidup di Ruang Paling Sembunyi

Kutemukan lebih banyak kata-kata yang kau sembunyikan di rumit tumitmu, yang gemar melompat dari kenyataan pahit ke banyak sakit.

Aku hanya ingin membaca tentang apa saja yang kau tulis. Mendengar maki yang kau ciptakan untuk bertahan. Meski terlalu meyebalkan mencernanya sebagai amarah. Kutemukan lebih banyak kata-kata yang kau sembunyikan di rumit tumit mu, yang gemar melompat dari kenyataan pahit ke banyak sakit. Ketimbang meminta mencintaiku lebih, aku lebih senang mencitai dengan baik. Tentangmu belum selesai, dan tidak akan. Kecuali seseorang […]

Untuk Kamu yang Selalu Menetap

Maafkan aku yang selalu mengeluh akan adanya jarak dan waktu. Maafkan juga karena membuatmu selalu dirundung pilu dan kekhawatiran yang tak menentu.

Untuk kamu yang sedang merindu, Maafkan aku yang selalu mengeluh, akan adanya jarak dan waktu. Maafkan juga karena membuatmu selalu dirundung pilu, dan kekhawatiran yang tak menentu. Bagaikan air yang mengair dengan tenang, kamu menyimpan semua rasamu dalam bilik hatimu. Sendirian, penuh kecewa, resah, dan gelisah. Namun kini, ibaratkan langit dan bumi, kita tak dapat […]

Dariku, Rumahmu

Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Pintuku belum kukunci malam ini, masih ada bagian tak terisi di ranjang sebelah kiri, yang kupikir akan kau isi malam ini.

Pada akhirnya, akan selalu kau temukan rumahmu padaku. Entah sejauh apapun kamu berjalan, sedalam apapun kamu menyelam, seriuh apapun keramaian, akau selalu kau temukan rumahmu padaku. Memang bodoh kedengarannya, membukakan pintu lagi dan lagi untuk setiap lelah perjalananmu–menyeduhkan secangkir teh sehangat seduhan bunda, menghantarkanmu ke kasur untuk kau sambut tidur yang lebih nyenyak, merawat setiap […]

Ruang Temu

Aku tersenyum mengingat bagaimana dulu aku dan dia pernah menghias ruang ini menjadi sesuatu yang hidup. Mengisinya dengan tawa, tangis, dan semua hal yang ternyata mendewasakan. Tapi tempatku bukan lagi di sini. Begitupun dia.

Ternyata memang beberapa ada yang ditakdirkan untuk pergi, namun tidak untuk menghilang. Berjalan beriringan, namun dalam setapak yang berbeda. Sesekali menoleh, lalu tersenyum, sekadar memastikan semua baik-baik saja. Lagi, aku berhadapan dengan sepasang mata yang masih sama. Bercerita tentang setapakku, setapaknya, lalu tertawa. Tawa yang sama. Terlalu sama seakan waktu tak pernah berusaha mengubah setitikpun […]

Untuk Seseorang yang Sedang Kesepian

Aku mau jadi apa saja yang mengingatkanmu bahwa kau tidak pernah benar-benar sendiri. Dan sepi hanyalah bait-bait puisi yang fiksi.

Menjelang malam jatuh menimpa seisi kota, kutemukan dirimu muram menghadap ke luar jendela Ada kenangan-kenangan dan keinginan-keinginan, yang belum sempat kau tanggalkan dan tinggalkan. Udara di rongga dadamu, kini begitu sejuk dan sesak. Kau seolah ingin berteriak. Tapi kesunyian dan kesendirian, punya suara yang lebih nyaring, daripada kepedihan. Kau lalu berbaring dan mencoba memejamkan mata, […]

Previous page Next page