Sepasang

Sebuah Lorong

Lalu engkau datang menggenggam tanganku. Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama. Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah, takutku takluk pada hadirmu.

Aku berdiri di depan sebuah lorong Panjang, gelap dan seakan tak berujung Bulu kudukku bergidik ngeri Tentang lorong itu dan apa yang ada di ujung sana Lalu engkau datang menggenggam tanganku Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah Takutku takluk pada hadirmu Lorong yang aku kira gelap, ternyata tidak segelap itu Di […]

Sebuah Perjalanan

Aku pernah menerka-nerka berapa banyak angka yang dituliskan untuk menulis jarak antara Binjai dan Jogja, pun perihal harga tiket pesawat yang waktu itu tak sanggup ku beli.

Aku pernah menerka-nerka berapa banyak angka yang dituliskan untuk menulis jarak antara Binja dan Jogja, pun perihal harga tiket pesawat yang waktu itu tak sanggup ku beli Di butanya pagi, di sangarnya terik mentari, di jingganya senja dan di dinginnya malam tidak berhenti ku pinta pada Nya agar menyatunya kita dalam satu pulau, satu kota, […]

Mencintai Dengan Sederhana

Dalam mencintai, aku ingin punya alasan yang sederhana. Tidak banyak alasan kenapa aku mencintainya atau mengapa harus ia. Aku hanya ingin sesederhana karena ia punya sesuatu. Bukan paras rupawan atau uang yang bisa menjanjikan kehidupan.

Dalam mencintai, aku ingin punya alasan yang sederhana. Tidak banyak alasan kenapa aku mencintainya atau mengapa harus ia. Aku hanya ingin sesederhana karena ia punya sesuatu. Bukan paras rupawan atau uang yang bisa menjanjikan kehidupan. Aku hanya akan mencintai dia yang mencintaiku dengan baik. Itu saja bagiku sudah cukup. Baik tidak berarti ia harus cantik, […]

Resiprokal

Kau ambil persediaan kayu di lebat hutanmu menggenggam sebagian aku dan kesetiaan adalah bahan bakar yang tersisa menghangatkan seisi ruang tamu.

Sejak hari itu aku berjalan ke dalam tatapmu memperkenalkan diriku menyambut dingin di gerbang kelopak yang jauh menatap. Sejauh aku menjelajahi rimba di matamu, selalu kujumpai rasa takut yang memenjarakan retina agar cahaya sirna sebelum hari kau rajut. Pernah sekali waktu, mata kita bertamu. Kau melihat mata sayuku. Mulai detik itu, kau ambil persediaan kayu […]

Aku Tak Seistimewa Puisi Kau

Aku cemburu pada puisi kau. Yang kau pikirkan hingga rambut kau berjatuhan, kau khawatirkan hingga jemari kau gemetaran, kau rindukan hingga kau tak sudi kelelapan.

Aku tak seistimewa puisi kau. Yang kau lahirkan dengan penuh cinta, kau susui dan kau rawat hingga ia tumbuh dengan indah. Aku tak seistimewa puisi kau. Yang kau beri makan mereka dengan waktu tidur kau yang kurang, atau ingatan kau tentang melahap kentang untuk sarapan. Aku tak seistimewa puisi kau. Yang kau namai dengan sepenuh […]

Rona Pada Paras

Engkau harus tau, deru seruan ronamu itu menenggelamkan biru di diriku

Rona merah di pipimu Membuatku tersipu malu Mata tak lihai bersembunyi, kau tahu itu Melihat kanan kiri lamun tertuju ronamu itu Gelagapan bertingkah tak menentu Lelaki pemalu; yang pertama kali tidak malu Namun memalukan saat pertama kali bertemu Aku tertambat saat kau ceritakan sisi dari gelap malam Yang membuatmu mencintai larik sajak Yang engkau hela […]

Masih

Aku melihatmu meletakkan prasasti bukti adanya "kita" dalam sebuah tungku kayu,  kamu bersiap membakar, merelakan, melepas, menjadikannya abu lalu hilang dalam udara ruang.

Malam itu, kita berdebat mengenai kelangsungan bunga yang kita tanam bersama. Apakah harus kita tetap rawat di tempat yang sama atau langsung saja kita cabut hingga ke akarnya, lalu jatuhkan pada aspal yang kasar tanpa sedikit sentuhan tanah. Berulang kali ku katakan aku menyayangimu, namun belum cukup dapat membuatmu tinggal dan menetap. Senyum manis yang […]

Teruntuk Yang Kusebut Perempuan

Perempuan-ku, sudahkah kau terima undangan-ku? Sudah kusiapkan jamuannya; separuh hatiku.

[1] Jika Aku adalah Keluh, Maukah kau mengulurkan tangan? Mengusapnya, Agar keluh itu tetap milikmu. Jika aku adalah gaduh, Sudikah kau membisikkan suara? Lirih, berbisik: “Gaduh atau melepuh bersamaku?” Jika aku adalah riuh, Relakah kau berdiam sejenak? Menatapku, Menyadarkanku, Keluh, gaduh, riuh; itu Kamu.   [2] Kulipat rindu menjadi sebuah kertas, Kupanggil angin, lalu kutitipkan. […]

Kopi Asin

Otak saya dengan cepat mengulang kejadian beberapa hari lalu. Kejadian yang membuat hidup saya tak manis lagi. Sejak hari itu, rasa kopi dalam mulut saya selalu berubah rasa. Tak manis, pahit ataupun gurih. Kopi yang saya teguk berubah rasa jadi asin.

Sore ini saya kembali beraktivitas setelah beberapa hari terpuruk karena dia. Saya kembali menjadi seorang perempuan yang sibuk. Pergi mencari inspirasi untuk menulis jadi pilihan sore ini. Saya datang ke kedai kopi di kawasan Kemang. Dan duduk di sekitar orang-orang. Sesekali saya melihat ke depan, kiri, belakang, dan kanan. Orang-orang berlalu lalang. Pergi dan datang. […]

Kita, Sebatas Cerita

Benar adanya, bahwa kita hanya sebatas cerita yang kusimpan rapat dalam kepala

aku ingin bercerita tentang awan, tapi aku tak tau siapa yang bersedia mendengar aku ingin bercerita tentang embun, tapi sejuknya begitu menyakitkan aku ingin bercerita tentang laut, tapi dengan ketenangannya aku takut aku ingin bercerita tentang bulan, tapi ia selalu bersama malam aku ingin bercerita tentang angin, tapi ia begitu dingin aku ingin bercerita tentang […]

Previous page Next page