Sendiri

Makna yang Kesepian

Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu aku kembali berkelana di pemikiran yang putus asa akan sebuah makna. Tujuanku selanjutnya ada pada tanya yang terlihat bahagia, tapi dapat kurasakan kekosongan yang dirasa.

Suatu ketika kuyakini aku baik-baik saja tapi nyatanya tak seperti itu adanya. Aku diburu waktu yang terus mengejarku. Aku dihantui cemas, yang sebenarnaya tak pantas. Aku dibuntuti ketakutan yang kupikir menakutkan. Aku dicerca tanya yang sedang mencari cari dimana letak makna, awalnya. Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu […]

Merengkuh Perih

“Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” Kau baca puisi itu dengan takjub. Pagi itu, di kamar yang tertutup, Kau mengucap: “aku masih bertahan. Tenagaku masih cukup.”

I Dengan cucuknya, aku coba menanyai. Bagaimana goresan hidupmu yang sudah kau lewati. Awalnya diam. Tapi, akhirnya kau coba mengurai. Kisahmu, memang sungguh perih.   II Rupanya, kau telah banyak belajar. Kau melawan dan bertahan meskipun gentar. Dalam kerapuhan kau coba tegar. Karena kau tak mau mimpimu pudar.   III “Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” […]

Enigma Wajah Arca

Dalam remang kabut yang basah, seseorang itu mengheningkan cipta, sangat lama, sebelum akhirnya tersenyum ia, berjalan pergi kendati menoleh beberapa kali, tanpa busana, dan berjanji untuk kembali, kepada jiwa itu sendiri.

Suatu hari seseorang ingin melihat gambaran dirinya sendiri. Ia meminta penjelasan temannya, dengan bertanya: seperti apakah aku ini? Didengarkan sekian waktu, dan karena manusia punya batas percaya, lalu ia meminta temannya mengarahkan lensa dan memotret dirinya, sepenuh yang temannya bisa. Agar citra nampak apa adanya, pikirnya, dilepaskan seluruh pakaian, dibiarkannya kaca mengedip-ngedip mengingat tubuhnya. Dicuci […]

Harapku

Duhai,adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus kulalui dan mana yang harus kutinggalkan.

Kutatap senja sedang bergurau dengan lembayung Menyuguhkan warna yang menggambarkan hatiku Ingin tersedu, namun kau mengajakku tertawa Untuk menghiburku, katanya   Kutatap lekat semburatnya diujung langit Berharap gelap tak segera datang Agar tangis tak memelukku hingga terlelap dan merindu tiada habisnya   Duhai, adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus […]

Doa Usang

Sebungkus rokok adalah idaman. Dan segelas kopi adalah ritus penutup dari semua kewalahan. Iba hanya akan menjadi sepotong bangkai tatkala rasa ingin tau adalah sebuah kebutuhan khusus demi memenuhi asupan citra kepedulian.

Keadaan sudah tidak memungkinkan untuk terus mempunyai tujuan. Harapan hanya menjadi bulan-bulanan makian. Baiknya lepehkan cuapan soal impian. Do’a-do’a usang bahkan berserakan, beralih fungsi menjadi bahan tertawaan. Cinderamata yang disebut wejangan mungkin sudah menjadi pajangan. Berdebu di antara ribuan kosakata-kosakata pembangkit impian. Memang apa yang salah dengan menyerah? Mengais kecewa dan bersandar pada putus asa. […]

Menyamakan Langkah

Terkadang yang perlu kita lakukan hanyalah bergerak maju, lalu maju, dan maju. Tak peduli dengan terseok, menyeret, atau mengisut sekalipun. Sampai akhirnya kita menemukan mereka menoleh sambil tersenyum beriringan dengan langkah yang seirama.

Yang aku tahu, semuanya melaju ke depan tanpa pernah mundur. Melaju sangat cepat, terkadang bahkan terlalu cepat sampai terengah aku mengejarnya. Mereka bilang tak apa berhenti barang sejenak, katanya tak apa kalau aku lelah, istirahat saja. Tapi setiap aku melambat, mereka tetap pada kecepatannya yang kadang membuatku kebingungan harus diam atau kembali menyamakan langkah. Lalu […]

Secangkir Kopi

Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman.

“Tenanglah,” bisiknya. “Kita akan baik-baik saja.” Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman. Barisan tanda tanya mengantre di samping imaji-imaji tak bersuara. Mendesak ruang kepala yang sudah sempit akibat monokrom yang tak juga padam. “Bertahanlah,” bisik suara itu […]

Ada Sepi dan Ramai di Kepala

Ada lemari tua yang hampir tumbang karena kupukul secara berulang. Ada kasur, dan penghuninya yang berangsur hancur. Ada Sabtu dini hari, dan jiwa lelah yang hampir mati.

Sabtu dini hari, pukul satu pagi, Isi kepalaku gelap, Tak ada cahaya, apalagi sinar menyala. Yang terdengar hanya teriakan suara dari isi kepala, Dan bising. Kamarku terasa bising, namun sepi. Aku tidak bisa membedakan antara bising dan sepi, Antara ramai dan hening. Semua membaur, menyamar, dan bergerumul menimpa tubuhku yang tengah tersungkur di sudut kasur. […]

Bentuk Dari Surga

Namanya Bella. Dia adalah seorang gadis manis yang selalu berbuat baik terhadapku. Setiap kali aku sedih, Bella akan selalu ada di samping dan menghiburku. Begitu juga dengan ketika aku membutuhkan bantuannya, maka dia pun akan selalu ada untuk membantu.

Pada saat masih kecil, aku selalu ditinggal sendirian oleh orang tua ku. Alasannya adalah karena mereka lebih memikirkan tentang kesuksesan semu yang sedang diperjuangkan, ketimbang memberikan kebahagiaan yang nyata kepada darah daging mereka sendiri. Tapi hal itu tidak menjadi masalah. Karena untungnya, aku mempunyai seorang teman perempuan yang selalu mau menemani dan mengajakku bermain. Namanya […]

Serangan Fajar

Serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba saja... kamu tak lagi ada.

Serangan fajar itu nyata, katanya. Menunggu untuk menyerang mereka yang tidak awas, menghancurkan apa yang tidak mereka sadari mereka miliki, menanti waktu yang tepat untuk mencuri sampai akhirnya mereka sadari bahwa hilang kini telah jadi teman mereka yang pasti. Iya benar, serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba […]

Previous page Next page