Sendiri

Mencukupi Hal yang Tidak Pernah Tercukupi

Ini yang menyebabkan kita selalu bertanya-tanya kepada kata dan rasa cukup. Mengapa kata dan rasa cukup diciptakan jika memang kita tidak akan pernah merasa cukup? Mengapa harus ada nilai cukup, jika yang terbaik adalah ia yang mendapatkan jauh lebih besar dari nilai rata-rata? Mengapa kita selalu merasa bahwa kita pantas diberi upah lebih, padahal mungkin yang sekarang sudah cukup?

“Jangan lupa atur tempat tujuanmu, supaya kau tahu kemana arahmu melaju.” Kata-kata tersebut selalu menjadi senjata terbaik untuk menceramahi orang-orang, supaya mereka memiliki tujuan, supaya mereka bekerja keras, supaya mereka memiliki arah kemana harus pergi dan supaya mereka tidak malas-malasan saja, tidak melulu menunggu rezeki dan mengeluh tentang segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Beberapa […]

Berteman dengan Ketakutan

Layu dipaksa tumbuh, rapuh dipaksa utuh

Pulang kembali pada rumah adalah ketakutan Tamu lampau hadir tak pernah usai Pelarian nyatanya tidak mampu menutup luka Dan ingatan-ingatan justru melahirkan air mata   Pulang kembali pada rumah adalah ketakutan Kebahagiaan hanya bersua dalam foto Ruang sendiri tidak dapat dijangkau Dan kian menghutan menyisakan kepingan parau   Manusia adalah penderitaan Layu dipaksa tumbuh Rapuh […]

Masih Perang, Ya?

Ucapkan terima kasih kepada tubuh, diri, hati yang sudah sekuat jati.

Sejatinya, dunia memang dipenuhi banyak tanya. Pertanyaan dan teka-tekinya yang tak mampu kaujawab membuatmu terlihat bodoh berdiri di dalam dunia. Sekarang aku tahu, teka-teki sulit yang tak tertebak itu adalah pertanyaan yang kaubuat sendiri, kau sendiri juga tak tahu apa jawabnya. Lalu kau menyalahkan dirimu, orang sekitar dan semesta, kenapa mereka memberikan pertanyaan yang tak […]

Ketika Kecewa Jadi Teman

Ternyata, jatuh pun mampu menguatkan. Dan berteman dengan kecewa tak sepenuhnya jadi hal yang salah. 

“Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Kalau tidak terpenuhi, nanti sakit hati.”  Banyak orang yang mengatakan itu kepadaku sejak dulu. Yang walau sebenarnya tanpa diucapkan secara lantang pun aku mengerti, bahwa ketika ekspektasi masih terus saja kugantung pagi ini, maka kecewa kerap kali jadi teman di akhir hari. Tapi kurasa itu adalah hal yang wajar. Mengapa? Karena […]

Bertamu ke Bumi

Justru itulah saya mesti mencintai bumi, yang berarti, saya juga harus belajar lebih giat mencintai diri sendiri. Ketika saya mengkhianati alam, saya berarti menyakiti diri sendiri. Bahkan, juga melukai orang-orang lain yang saya cinta.

Saya percaya, memberi dengan mengharapkan balasan bukanlah cinta. Dan kita punya sisi dalam diri untuk bersikeras memenuhi kebutuhan, bahkan menjaga dan menguasainya demi napas yang langgeng. Ada pertanyaan yang berbalik ke saya, apakah saya betul-betul mencintai bumi jika sebetulnya saya hanya ingin hidup dan kematian adalah hal yang sering saya tunda? Conservation International menyatakan bahwa […]

Hari Ini Tidak Hujan

Hari ini tidak hujan. Mimpi saya sedang mengendap, tidak benar-benar menghilang. Biarkan saja tinggal dalam pikiran, meski sesekali terasa gamang. Tidak perlu dicela, apalagi berkata tidak bisa. Setidaknya jangan dulu sebelum benar-benar mencoba.

Hari ini tidak hujan. Mimpi saya sedang mengendap, tidak benar-benar menghilang. Biarkan saja tinggal dalam pikiran, meski sesekali terasa gamang. Tidak perlu dicela, apalagi berkata tidak bisa. Setidaknya jangan dulu sebelum benar-benar mencoba. Hari ini tidak hujan. Tapi saat ini saya harus mencari jalan lingkar. Mungkin sedang perbaikan jalan. Sembari menimbang-nimbang kemungkinan, serta apa yang […]

Fakultas Pemaafan

Dentang lonceng akhir tahun ini, adalah kali ketiga saya mendengarkannya tanpamu. Namun ternyata tak juga membuat saya serta merta lupa namamu. Ingatan itu justru melata lebih cepat ketika saya berusaha untuk melupakan.

Pada suatu sore setengah matang, ada beberapa hal yang nampaknya hilang, seperti warna sendu di tepi langit yang biasanya membentang. Saya mengintip dari jendela depan, rupa-rupanya mendung sedang mengarak hujan. Perlahan kemudian ia mengetuk atap, mungkin bermaksud untuk datang. Telpon yang seharian ini bungkam, tiba-tiba berdering. Dari ujung sana menyergap saya, “Halo, ini masa lalu, […]

Meranggas, Kau Meranggas

Apa yang kau harapkan dari itu? Sebegitu takutkah kau dipinggirkan? Sedemikian takutkah kau dinafikan? Berhentilah untuk aku yang mencintaimu.

Sudah meranggas tubuh terlebih jiwamu, begitu ringkih seperti mereka yang sepuh, ku tau hidupmu baru dua dasawarsa lebih sedikit, lantas apa yang membuatmu meranggas? Kemarin kucari jawaban ke ahli dunia, katanya kau mudah berputus asa. Jika benar, seharusnya kau sudah bunuh diri sejak lama. Kucoba ke ahli agama, kau kurang iman katanya butuh seberapa iman […]

Musim Hujan

Saat hujan datang, anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan keduanya. Mereka seringkali pulang ke rumah dengan baju dan mata yang sama-sama basah.

Di sebuah kota yang berusaha mati-matian untuk melupakan kemarau, Hujan akhirnya turun menghapus kau dan masa lampau. Ia jatuh dengan lekas dan ringkas, seperti pesan-pesan singkatku di telepon genggammu yang tidak atau pernah kau balas. Di jalanan, kemungkinan adalah genangan dan kenangan adalah lubang. Saat hujan datang, anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan […]

Jakarta Pukul Tiga

Ayah bercerita perihal hidupnya yang penuh akan kerja keras sampai hasil menyapa tanpa berkhianat. Ibu bercerita mengenai iklim impiannya yang terbentang sampai senja menjelma.

“Apa kabar?” sebuah pertanyaan seribu makna. Sudah terpaut sepekan sejak senja meninggalkan corak tak berarti di wajah jumantara. Yang terbesit hanya semburat garis menua bersama. Ayah bercerita perihal hidupnya yang penuh akan kerja keras sampai hasil menyapa tanpa berkhianat. Ibu bercerita mengenai iklim impiannya yang terbentang sampai senja menjelma. Perihal waktu, aku percaya semua berawal […]

Previous page Next page