Puisi

Merengkuh Perih

“Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” Kau baca puisi itu dengan takjub. Pagi itu, di kamar yang tertutup, Kau mengucap: “aku masih bertahan. Tenagaku masih cukup.”

I Dengan cucuknya, aku coba menanyai. Bagaimana goresan hidupmu yang sudah kau lewati. Awalnya diam. Tapi, akhirnya kau coba mengurai. Kisahmu, memang sungguh perih.   II Rupanya, kau telah banyak belajar. Kau melawan dan bertahan meskipun gentar. Dalam kerapuhan kau coba tegar. Karena kau tak mau mimpimu pudar.   III “Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” […]

Teh Ibu

Redupnya lampu kota, menambah haluan mesra ku dengannya. Kucing yang berjalan waktu itu berhenti untuk sejenak memberikan siulan kepada kami.

Secangkir teh yang disuguhkan ibu pagi itu, aromanya khas, memanggilku untuk singgah sementara. Ku teguk air coklat itu dan… Saat itu juga memoriku kembali ke satu titik bersamamu. Kala pertama kau beberkan tawa renyah, menyapaku. Ku yang saat itu sedang diam dengan mata yang menyusuri kota lama, kau datang, bersama ragamu yang gemilang, dengan candaan […]

Teritori Rindu

Aku termakan bualan penulis puisi yang mengatakan bahwa waktu ialah penawar sejati yang sakti. Nyatanya aku belum sembuh sampai tubuhku membeku tertimbun salju lalu mati karena dikuliti rindu.

Aku menyesap teh hijau hangat di padang salju akhir abad, menggigilku tak terasa saat kugosok telapak tangan sambil merapalkan namanya. Aku terus memandangi hari tanpa sadar bahwa dia sudah terlalu lama pergi. Laksana mimpi, ia tak akan kembali. Sayangnya, aku lupa menuliskan namanya saat kularungkan perahu kertas di danau harapan. Rapalan doaku kurang kencang. Dia […]

Manusia Bermahkota Agama

Di televisi, para petinggi adu argumentasi perihal agama, mencla-mencle mengupas ayat a, b, c, d demi apologia, padahal kitab suci di rumah mereka sendiri dimakan ngengat berlapis debu jarang dibuka.

Di selasar kampus, gadis berliontin salib mengingatkan sahabatnya, si kerudung coklat agar lekas salat. Di mulut gang sempit, seorang atheis bermuka sekeras granit memungut kucing jalanan bau bacin hampir mati. Di pelosok dusun, ibu-ibu bertelekung berhenti ngaji mencacak selamatkan tetangga pemakan babi, yang rumahnya dilalap api. Di televisi, para petinggi adu argumentasi perihal agama, mencla-mencle […]

Pangestu

Tahun ini, sepantasnya genap dua puluh empat tahun usia pernikahan kalian. Sayang, kandas raga Ibu meninggalkan rongga menganga dalam jiwa Bapak.

Kali pertama Bapak bersuka tanpa hadirmu. Tahun ini, sepantasnya genap dua puluh empat tahun usia pernikahan kalian.   Sayang, kandas raga Ibu meninggalkan rongga menganga dalam jiwa Bapak.   Walau paut cinta Bapak pada Ibu terbilang abadi. Tiap malam, meraung rindu keluhnya dalam diam.   Sedatangnya tuan matahari, kembali Bapak pasang kokoh tembok kemauan tuk […]

Harapku

Duhai,adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus kulalui dan mana yang harus kutinggalkan.

Kutatap senja sedang bergurau dengan lembayung Menyuguhkan warna yang menggambarkan hatiku Ingin tersedu, namun kau mengajakku tertawa Untuk menghiburku, katanya   Kutatap lekat semburatnya diujung langit Berharap gelap tak segera datang Agar tangis tak memelukku hingga terlelap dan merindu tiada habisnya   Duhai, adakah semu yang memeluk purnama? Hingga terang menunjukkan jalan mana yang harus […]

Untukmu yang Beranjak Pergi

Kisah kita baru sepanjang prolog saja. Pergilah, tuntaskan apa-apa yang mengikat sebelum cerita kita membentuk satu-kesatuan buku utuh dan menyulitkan kita untuk membaca lalu melupakan isinya.

Jika yang kau ingin adalah pergi, berangan, menelisik tanpa terusik. Bebas, bercumbu di banyak dara tanpa bera, lantas, aku apalah daya? Canggih doaku hanya mampu menyertai, pawai kenangan yang riuh dan iring langkahmu pergi. Tak mampu membawa hadirmu kembali. Meski dalam hati, rasa dan karsa riuh menjeritkan kata yang tak mampu kuilhami. Meski kita sama-sama […]

Doa Usang

Sebungkus rokok adalah idaman. Dan segelas kopi adalah ritus penutup dari semua kewalahan. Iba hanya akan menjadi sepotong bangkai tatkala rasa ingin tau adalah sebuah kebutuhan khusus demi memenuhi asupan citra kepedulian.

Keadaan sudah tidak memungkinkan untuk terus mempunyai tujuan. Harapan hanya menjadi bulan-bulanan makian. Baiknya lepehkan cuapan soal impian. Do’a-do’a usang bahkan berserakan, beralih fungsi menjadi bahan tertawaan. Cinderamata yang disebut wejangan mungkin sudah menjadi pajangan. Berdebu di antara ribuan kosakata-kosakata pembangkit impian. Memang apa yang salah dengan menyerah? Mengais kecewa dan bersandar pada putus asa. […]

Kita Adalah Sebuah Stasiun

Di stasiun, hujan jatuh tak mengenal musim. Ia turun ketika gerbong-gerbong datang, menjemput kebahagiaan dan menurunkan kesedihan, atau justru sebaliknya.

Barangkali, kita semua pernah menjadi sebuah stasiun, menunggu orang-orang datang, meski akhirnya kembali ditinggalkan. Stasiun adalah tempat menjemput seseorang setelah bepergian jauh dan kemudian pulang. Tapi seringnya, stasiun adalah tempat seseorang untuk berpamitan, melambaikan tangan dan juga menjeda pertemuan. Di stasiun, hujan jatuh tak mengenal musim. Ia turun ketika gerbong-gerbong datang, menjemput kebahagiaan dan menurunkan […]

Ada Sepi dan Ramai di Kepala

Ada lemari tua yang hampir tumbang karena kupukul secara berulang. Ada kasur, dan penghuninya yang berangsur hancur. Ada Sabtu dini hari, dan jiwa lelah yang hampir mati.

Sabtu dini hari, pukul satu pagi, Isi kepalaku gelap, Tak ada cahaya, apalagi sinar menyala. Yang terdengar hanya teriakan suara dari isi kepala, Dan bising. Kamarku terasa bising, namun sepi. Aku tidak bisa membedakan antara bising dan sepi, Antara ramai dan hening. Semua membaur, menyamar, dan bergerumul menimpa tubuhku yang tengah tersungkur di sudut kasur. […]

Previous page Next page