Puisi

Meranggas, Kau Meranggas

Apa yang kau harapkan dari itu? Sebegitu takutkah kau dipinggirkan? Sedemikian takutkah kau dinafikan? Berhentilah untuk aku yang mencintaimu.

Sudah meranggas tubuh terlebih jiwamu, begitu ringkih seperti mereka yang sepuh, ku tau hidupmu baru dua dasawarsa lebih sedikit, lantas apa yang membuatmu meranggas? Kemarin kucari jawaban ke ahli dunia, katanya kau mudah berputus asa. Jika benar, seharusnya kau sudah bunuh diri sejak lama. Kucoba ke ahli agama, kau kurang iman katanya butuh seberapa iman […]

Surat Kecil Tanpa Takhta

Pemilik tawadhu di ujung senja, selamat menyulam mimpi yang kau simpul sejak lama. Walau garis takdir tinggal menunggu isyarat, semoga larik-larik sajakku masih bisa kau ingat.

Sang Yaswanta, Tak banyak yang aku tahu tentang kau hanya cerita daun kering yang menjamah seluruh kata sebab raut terlampau kusut ditangkap makna  Pada hening aku berdiri menjumpai kau di kala hawa dingin menusuk kulit bersama sepatu hitam milikmu yang mendahului tak ada yang tersisa kecuali tanya dalam benak Menyibak dari layar ke layar lagi […]

Catatan Pukul Satu

Kita adalah satu yang lekas jadi kosong karena batas yang diciptakan masing-masing kita. Kita adalah utuh yang lekas jadi remuk karena berusaha jadi baik-baik saja.

Kita adalah satu yang lekas jadi kosong karena batas yang diciptakan masing-masing kita. Kita adalah utuh yang lekas jadi remuk karena berusaha jadi baik-baik saja. Kita. Masing-masing kita tahu bahwa pulang adalah ke rumah, kepelukanmu dan memeluk aku. Tapi kita, Berusaha jadi seperti yang lain. Masing-masing kita tahu bahwa bersandar pada bahumu dan bahuku adalah […]

Terima Kasih Telah Pulang

Ingin rasanya menunggui mu pulang, berharap jumantara kehilangan senjanya. Lalu secarik kain tebal ku suguhkan di badan, berharap ada dingin melilit tanpa hipotermia.

Sore ini, ada yang bertamu di awan Memandang lekat Meliuk kehitaman Membuncahkan rindu yang masih asik terbenam Ingin rasanya menunggui mu pulang Berharap jumantara kehilangan senjanya Lalu secarik kain tebal ku suguhkan di badan Berharap ada dingin melilit tanpa hipotermia Nun jauh di ujung nadir ku kira Dan aku yang hendak melempar harapan jauh ke […]

Mengaung dalam Pasung

Mau sampai kapan hanya jadi teman, terus memaksa nurani untuk bilang nyaman. Hingga akhirnya hanya mampu jadi sang perawat luka, bukan alasan dari segala cerita.

Dalam ruang gelap paling rahasia Terdapat rasa yang sedang terpasung Sembunyi dalam palung kedap suara Selamanya takkan terdengar sampai muara Hanya akan jadi rahasia samudra Nurani penuh ingin untuk mengoyak lisan Yang tak pernah mampu bawa pesan Begitu pengecut Takut penolakan jadi kata lontar paling sulung Mau sampai kapan hanya jadi teman Terus memaksa nurani […]

Ruang Renjana

Tanyakan kita padanya, kan kaudengar kidung tentang renjana yang menyesakkan rongga, menjelma menjadi ruang yang kini kauratapi.

Jika kautanya tentang kehilangan, tanyakan pada sirap yang diratap Berapa malam ia direnung tangis, bersemuka wajah mungil yang meringis Tanyakan pada bantal di atas tilam sudahkah ia dicuci pekan ini Mana tahu apek karena ulah si gadis, membenamkan wajah di atasnya, membisukan sengguk yang mereguk Tanyakan pada dinding yang merapuh masih tahankah ia menopang kukuh, […]

Musim Hujan

Saat hujan datang, anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan keduanya. Mereka seringkali pulang ke rumah dengan baju dan mata yang sama-sama basah.

Di sebuah kota yang berusaha mati-matian untuk melupakan kemarau, Hujan akhirnya turun menghapus kau dan masa lampau. Ia jatuh dengan lekas dan ringkas, seperti pesan-pesan singkatku di telepon genggammu yang tidak atau pernah kau balas. Di jalanan, kemungkinan adalah genangan dan kenangan adalah lubang. Saat hujan datang, anak-anak di dalam diriku tidak pernah bisa membedakan […]

Menjelma Karya Sastra

Aku bisa menjelma puisi, senantiasa melindungi seorang kamu dari antologi rasa. Aku dapat menjelma cerpen, selalu membantu seorang kamu kabur dari realitas masa. Aku tentu menjelma novel, sepenuh hati membelai rambutmu yang kini memanjang.

Aku ingin kembali menjadi karya sastra yang senantiasa kau baca di sore hari. Saat kata-kata kau tuturkan dengan paduan manis brownies sembari menenangkan jiwa dari kepenatan sanubari. Sudah cukup untuk hari ini, bukan? Biarlah aku sebagai pemanis akhir harimu. Aku bisa menjelma puisi, senantiasa melindungi seorang kamu dari antologi rasa. Aku dapat menjelma cerpen, selalu […]

Suraloka

Ka, kau tidak tahu saja, kau sudah batara jauh sebelum elokku kauberi nama.

Ka, kau tidak tahu saja— Tiap kali kaurapal namaku yang bidari itu seperti doamu yang paling telanjang— bahwa sudah sekian purnama, sejak kau jumpakan’ ku, dengan jendela suraloka. Dan aku diam-diam masuk ke sana, dengan kado sepasang sayap yang patah bersama jatuhmu kala itu, aku sayup-sayup menyelinap menjadi syahdu yang berumah dalam temaram suralaya. Ka, […]

Pasar Malam

Jika nanti pasar malam itu sudah tak beroperasi, temui aku di kala kau ingin dan rindu, jangan sungkan minta ditemani. Karna sejatinya, akulah yang paling ingin menemanimu.

Jika nanti bianglala itu sudah berhenti, Mampirlah kerumahku, Duduklah ditepi, Barangkali kau sudi meminum segelas kopi. Jika nanti komedi putar itu sudah berhenti, Lihatlah kesekitar, Jika kau merasa sendiri, Temuilah aku di samping komedi putar. Jika nanti permen kapas itu sudah habis, Bicaralah padaku dengan lugas, Akan kuberikan kau cermin rias, Agar kau bisa merasakan […]

Previous page Next page