Puisi

Berteman dengan Ketakutan

Layu dipaksa tumbuh, rapuh dipaksa utuh

Pulang kembali pada rumah adalah ketakutan Tamu lampau hadir tak pernah usai Pelarian nyatanya tidak mampu menutup luka Dan ingatan-ingatan justru melahirkan air mata   Pulang kembali pada rumah adalah ketakutan Kebahagiaan hanya bersua dalam foto Ruang sendiri tidak dapat dijangkau Dan kian menghutan menyisakan kepingan parau   Manusia adalah penderitaan Layu dipaksa tumbuh Rapuh […]

Pagi Ini Hujan Belum Berhenti

Air hujan di luar masih saja berjatuhan.

Sudah pukul tiga pagi, hujan tak kunjung berhenti. Masih dengan tugasnya membasahi bumi juga turut serta berlomba dengan air lain yang membasahi pipi. Sama derasnya. Suara hunjaman air hujan terdengar berirama mampu meredam isakan yang semula menggema ke seluruh penjuru ruangan. Isakan kesedihan yang tak mampu diutarakan. Isakan kekecewaan yang tak mampu disampaikan. Semua sengaja […]

Posko Pengungsian dan Hal yang Tak Mau Kita Utarakan

apakah selama ini kita memilih berpura-pura diam seolah semua baik untuk keberlangsungan hidup?

Setiap waktu kau buka jendela udara menari bagai sepasang kekasih yang tak takut mati pada pagi hari, debu mereka membuat daun keabuan malamnya, seolah menidurkan kita dengan tenang   tetapi kematian datang melebihi rasa takut perlahan mengetuk rumah kau dan aku belum sempat berlarian, semua terendam hanyut dalam satu hitungan   di posko pengungsian kau […]

Puisi-Puisi yang Dikembalikan

Kalut memang, sebab bagian paling sederhana dari kisahnya ialah doa yang mengalir tanpa diketahui oleh pemilik namanya. Sampai-sampai, ujung dari rasa sayangnya adalah mengikhlaskan. Sudah lama sekali aksara-aksaranya tak tersampaikan. Karena ia tahu, bukan dirinya yang pantas untuk mengirimkan.

Penanya akan selalu kembali pada saku Sampai akhirnya Walgitanya tak pernah diusaikan Seperti itu saja terus Tak pernah berani Tapi pandai menata hati Sampai rapi Sampai tak pernah diketahui ia pernah menangis Ikhlaskan saja rasanya Sampai letih raganya Sampai bungkam perasaannya Biarkan saja sajadahnya basah tertutup air mata Yang terpenting, ia tak lagi menaruh harap […]

Tafsir Awan dan Hujan

Andai kata ingin menafsirkan derasnya hujan, bagai penyesalanku terhadapmu, dan aku ingin berkata, “Aku ingin berbagi dunia bersamamu.”

Di luar sana, ku dengar suara gemuruh Jeruk peras hangat di depanku hanya kupandangi saja Awan sedang murung mendung Ingin meluapkan segala rasa, marah misalnya Kemudian hujan turun mengguyur Membasahi alam nan indah Dedaunan segar bak tertawa bahagia Ranting-ranting ibarat berbisik dengan handai-handainya Dan aku? Duduk dan terpekur Tanpa memafhumi apa yang mengoyak kalbu Isak […]

Hari Ini Tidak Hujan

Hari ini tidak hujan. Mimpi saya sedang mengendap, tidak benar-benar menghilang. Biarkan saja tinggal dalam pikiran, meski sesekali terasa gamang. Tidak perlu dicela, apalagi berkata tidak bisa. Setidaknya jangan dulu sebelum benar-benar mencoba.

Hari ini tidak hujan. Mimpi saya sedang mengendap, tidak benar-benar menghilang. Biarkan saja tinggal dalam pikiran, meski sesekali terasa gamang. Tidak perlu dicela, apalagi berkata tidak bisa. Setidaknya jangan dulu sebelum benar-benar mencoba. Hari ini tidak hujan. Tapi saat ini saya harus mencari jalan lingkar. Mungkin sedang perbaikan jalan. Sembari menimbang-nimbang kemungkinan, serta apa yang […]

Tentang Merdeka

Jangan minta padi merunduk kalau belum diberi pupuk. Merdeka itu persoal makna.

Tinggi sekali “nasionalisme”, sampai longsor rasa penghargaan di hati.     Berbagai hari perayaan kita jadikan alasan untuk mengenang masa lalu, yang disebut-sebut penuh perjuangan. Seakan-akan buta dengan makna merdeka, kita mengikat diri dengan kain panjang ketat, kepusingan naskah orasi, dan hamburan harta untuk kudapan-kudapan yang katanya bermakna.   Bukankah berjalan santai sambil scrolling informasi […]

Meranggas, Kau Meranggas

Apa yang kau harapkan dari itu? Sebegitu takutkah kau dipinggirkan? Sedemikian takutkah kau dinafikan? Berhentilah untuk aku yang mencintaimu.

Sudah meranggas tubuh terlebih jiwamu, begitu ringkih seperti mereka yang sepuh, ku tau hidupmu baru dua dasawarsa lebih sedikit, lantas apa yang membuatmu meranggas? Kemarin kucari jawaban ke ahli dunia, katanya kau mudah berputus asa. Jika benar, seharusnya kau sudah bunuh diri sejak lama. Kucoba ke ahli agama, kau kurang iman katanya butuh seberapa iman […]

Surat Kecil Tanpa Takhta

Pemilik tawadhu di ujung senja, selamat menyulam mimpi yang kau simpul sejak lama. Walau garis takdir tinggal menunggu isyarat, semoga larik-larik sajakku masih bisa kau ingat.

Sang Yaswanta, Tak banyak yang aku tahu tentang kau hanya cerita daun kering yang menjamah seluruh kata sebab raut terlampau kusut ditangkap makna  Pada hening aku berdiri menjumpai kau di kala hawa dingin menusuk kulit bersama sepatu hitam milikmu yang mendahului tak ada yang tersisa kecuali tanya dalam benak Menyibak dari layar ke layar lagi […]

Catatan Pukul Satu

Kita adalah satu yang lekas jadi kosong karena batas yang diciptakan masing-masing kita. Kita adalah utuh yang lekas jadi remuk karena berusaha jadi baik-baik saja.

Kita adalah satu yang lekas jadi kosong karena batas yang diciptakan masing-masing kita. Kita adalah utuh yang lekas jadi remuk karena berusaha jadi baik-baik saja. Kita. Masing-masing kita tahu bahwa pulang adalah ke rumah, kepelukanmu dan memeluk aku. Tapi kita, Berusaha jadi seperti yang lain. Masing-masing kita tahu bahwa bersandar pada bahumu dan bahuku adalah […]

Previous page Next page