Puisi

Sama

Kehadiranmu membuat aku terus mengada.

Kata Ayah, hadapi hidup dengan perjuangan. Kerja keras yang dibantu doa, usaha yang selaras dengan tekad, dan bangkit dalam setiap jatuh yang menghadang. Kata Ibu, hadapi hidup dengan kasih sayang. Bertutur yang halus dan berdamai dengan keadaan. Lestarikan kebaikan dan jaga pertemanan. Harus percaya. Berbuat baik itu menguatkan. Keduanya mengajarkan pedoman hidup. Tentang memilah baik […]

28 November

Kau dan aku, kita tidak dimaksudkan untuk membunuh waktu, tetapi pada akhirnya semua itu telah diberikan, mati sia-sia dan menghabiskan waktu, tidak ada yang lain. Mungkin kita berhasil menguburkan roh kita jauh lebih dalam, mungkin kita menggali secara keseluruhan untuk mayat masa lalu kita. Sekarang kita hanya perlu mendorong mereka jauh ke dalam, sendirian. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, aku tidak khawatir dengan masa depan, satu-satunya yang aku tau adalah aku akan terus menjadi diriku sendiri, dan membumi.

November mendekati akhir Tetapi kehidupan baru di mulai hari ini Aku masih mendekap kehangatan musim panas Hujan tak kunjung datang   Aku tidak ingat apa yang ada di dalam kepala ini dan aku ingin tahu apakah November juga telah melupakannya. Hujan masih tidak konsisten Musim panas tetap memaksa datang ditengah kesibukan kota yang tak berujung […]

(Bukan) Sirkuit

Sejak kapan hidup menjadi sebuah perlombaan?

Kita begitu terburu-buru di jalanan Saling sikut tak mau ketinggalan Ingin duluan, ingin paling depan   Seolah kematian menginjak pedal gas dan berkendara di balik kemudi Padahal ia membonceng, menjadi penumpang yang hanya berjarak beberapa ruas jari   Seolah nikmat Tuhan adalah alamat yang perlu dicari Padahal telah merupa dalam kendaraan kita sendiri  

Tanda Kasih Untukmu

Mari berjalan bersama, melalui tapak yang tak sederhana

Tidak perlu takut, mereka bilang esok masih ada Masih akan ada segelintir luka Masih akan ada awan kelam Juga masih ada topan sesekali menghampiri Tapi, tak apa Mari berjalan bersama, melalui tapak yang tak sederhana Hidupmu bukan hanya bebanmu, bebanku juga Kita sama, manusia yang butuh ditopang Lalu mengapa tak bersama menghadirkan makna?

Saling

Kami diam, sebab di setiap kepala, makna memilih kamusnya masing-masing

Aku berjalan mencari sebuah ujung, berharap akan dipeluk kebahagiaan. Selalu aku bayangkan demikian: kau berwajah sayu, lugu tanpa gincu, menyimpan petang yang bisu. Bibirmu senantiasa menyunggi senyum karena mendengar ceritaku yang tiada habisnya.   Aku akan berkisah tentang manusia yang berenang di samudra. Pekerjaan telah menjelma air. Dan mereka mencarimu: istirahat di antara pasir putih, […]

titik temu

akankah kita bertemu: di sebuah titik persimpangan jati diri atau di sebuah sudut yang mati tak berdegup

akankah kita bertemu: di sebuah titik persimpangan jati diri atau di sebuah sudut yang mati tak berdegup rasa apa yang ditinggalkan: sebuah rasa manis yang dinantikan/ sebuah rasa pahit kenyataan bekas apa yang kautinggalkan: apakah goresan penuh doa ataukah kilatan merah darah akankah kau berlari menghampiriku; /haruskah aku mengejarmu padahal aku sedang tersandung dan terluka […]

Kepada Sang Bulan

Aku mencintaimu, Serupa cinta seekor pungguk yang berhasil memeluk bulan.

Aku mencintaimu, Serupa cinta seekor pungguk yang berhasil memeluk bulan. Pungguk yang menderita, terusir dari alam semesta, mengembara serupa Ahasveros, dalam kegelapan yang abadi. Namun pungguk tetap terbang menuju Bulan dengan sayap luka penuh sayatan. Sebab bertahun-tahun ia merindukan cahaya bulan. Aku adalah Pungguk yang akan teguh mencintai bulan dalam keadaan sabit, purnama, maupun gerhana. […]

Begitu

Jika cinta masih kupandang sebelah mata, percayalah itu bukan salahmu.

Jika cinta masih kupandang sebelah mata, percayalah itu bukan salahmu. Jika aku tak dapat melihat cinta sebesar gajah yang kautaruh di pelupuk mataku, percayalah (pula) itu bukan salahmu. Salahkan (saja) mereka yang merampas mataku.

Ketika Bermusuhan

Aku batu. Sekeras kepalamu atau tawa canggungku. Keras tiada ampun. Aku melempar diriku pada kamu, berharap mengintimidasi.

Aku batu. Sekeras kepalamu atau tawa canggungku. Keras tiada ampun. Aku melempar diriku pada kamu, berharap mengintimidasi. Intens, berulang kali. Tak masalah seberapa sering aku terkikis. Aku tahu aku tetap lebih keras darimu. Sampai aku tahu apa itu kamu. Asam. Cukup dosisnya untuk membunuhku. Setetes, dua tetes, mengalir di nadi-nadiku. Waktu aku bertemu denganmu, korosif […]

Sepiring Berdua

Bagi dia, bagi dua. Tambah lagi 1 telor dadar, pakai garam agak banyak. Bayar setengah harga, dia bilang tidak usah. Berdoa pada Tuhan yang sama.

Bagi dia, bagi dua. Tambah lagi 1 telor dadar, pakai garam agak banyak. Bayar setengah harga, dia bilang tidak usah. Berdoa pada Tuhan yang sama. Caraku begini dia begitu. Tuhan, semoga makanan ini menyehatkan untuk jiwa raga kami, Amin. Piring di tengah meja, makan sambil lirik-lirik ke mata. Lalu ada tawa tentang lagu-lagu remaja, yang […]

Previous page Next page