Puisi

Ada Sepi dan Ramai di Kepala

Ada lemari tua yang hampir tumbang karena kupukul secara berulang. Ada kasur, dan penghuninya yang berangsur hancur. Ada Sabtu dini hari, dan jiwa lelah yang hampir mati.

Sabtu dini hari, pukul satu pagi, Isi kepalaku gelap, Tak ada cahaya, apalagi sinar menyala. Yang terdengar hanya teriakan suara dari isi kepala, Dan bising. Kamarku terasa bising, namun sepi. Aku tidak bisa membedakan antara bising dan sepi, Antara ramai dan hening. Semua membaur, menyamar, dan bergerumul menimpa tubuhku yang tengah tersungkur di sudut kasur. […]

Aku Hidup

Aku hampir mati oleh senjata. Beramunisi kata-kata. Diserbu seraya jutaan serangga. Terlahir dari buku-buku. Yang bercumbu bebas dalam pikiran.

Aku hampir mati oleh senjata Beramunisi kata-kata Diserbu seraya jutaan serangga Terlahir dari buku-buku Yang bercumbu bebas dalam pikiran Tapi aku memilih untuk hidup dan turun ke jalan untuk melawan Kawan-kawan ku kau Renggut dengan alasan keamanan. Lalu kau tikam, lebam Aku berterima kasih sebab engkau telah memberi pelajaran berarti kepada kami akan bentuk penindasan! […]

Kabar Ibuku

Bu, ibu. Kabarmu baik-baik saja bukan? Kuharap demikian. Begitupun negeriku.

Bu, ibu. Kabarmu baik-baik saja bukan? Kuharap demikian. Begitupun negeriku. Bu, Sudahkah minum obat ? Supaya kau lekas sehat. Jangan dulu sekarat. Seperti negeriku. Bu, ibu. Aku tidak bisa pulang ke rumah. Aku belum lelah. Masih harus melawan penjajah. Bu, Berkatilah aku hari ini. Melindungimu agar tak dilucuti. Wahai pertiwi.   Photo credit: Bhagavad Sambadha

Pencarian dan Penantian

Setiap pencarian pasti punya titik penemuan masing-masing. Setiap penantian pasti punya titik kedatangan masing-masing.

Derai hujan membasahi tanah dan ilalang Berjalan tuan mengembara mencari jalan pulang Telah dilaluinya segala yang merintang Telah disentuh dan menyentuhnya oleh segala yang pernah datang Berbaur apapun dihatinya telah tertuang Peluh ditubuhnya tak menghadang Setiap langkahnya selalu terkenang Derai cemara di musim hujan Di beranda rumah yang berisik oleh gemercik suara hujan Sayup-sayup angin […]

Sebuah Lorong

Lalu engkau datang menggenggam tanganku. Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama. Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah, takutku takluk pada hadirmu.

Aku berdiri di depan sebuah lorong Panjang, gelap dan seakan tak berujung Bulu kudukku bergidik ngeri Tentang lorong itu dan apa yang ada di ujung sana Lalu engkau datang menggenggam tanganku Mengajakku menelusuri lorong itu bersama-sama Senyummu cerah, ronamu menghilangkan lelah Takutku takluk pada hadirmu Lorong yang aku kira gelap, ternyata tidak segelap itu Di […]

Sebuah Perjalanan

Aku pernah menerka-nerka berapa banyak angka yang dituliskan untuk menulis jarak antara Binjai dan Jogja, pun perihal harga tiket pesawat yang waktu itu tak sanggup ku beli.

Aku pernah menerka-nerka berapa banyak angka yang dituliskan untuk menulis jarak antara Binja dan Jogja, pun perihal harga tiket pesawat yang waktu itu tak sanggup ku beli Di butanya pagi, di sangarnya terik mentari, di jingganya senja dan di dinginnya malam tidak berhenti ku pinta pada Nya agar menyatunya kita dalam satu pulau, satu kota, […]

Resiprokal

Kau ambil persediaan kayu di lebat hutanmu menggenggam sebagian aku dan kesetiaan adalah bahan bakar yang tersisa menghangatkan seisi ruang tamu.

Sejak hari itu aku berjalan ke dalam tatapmu memperkenalkan diriku menyambut dingin di gerbang kelopak yang jauh menatap. Sejauh aku menjelajahi rimba di matamu, selalu kujumpai rasa takut yang memenjarakan retina agar cahaya sirna sebelum hari kau rajut. Pernah sekali waktu, mata kita bertamu. Kau melihat mata sayuku. Mulai detik itu, kau ambil persediaan kayu […]

Aku Tak Seistimewa Puisi Kau

Aku cemburu pada puisi kau. Yang kau pikirkan hingga rambut kau berjatuhan, kau khawatirkan hingga jemari kau gemetaran, kau rindukan hingga kau tak sudi kelelapan.

Aku tak seistimewa puisi kau. Yang kau lahirkan dengan penuh cinta, kau susui dan kau rawat hingga ia tumbuh dengan indah. Aku tak seistimewa puisi kau. Yang kau beri makan mereka dengan waktu tidur kau yang kurang, atau ingatan kau tentang melahap kentang untuk sarapan. Aku tak seistimewa puisi kau. Yang kau namai dengan sepenuh […]

Di Bawah Ayun Lengan Rezim Waktu

Kita masih bisa bahagia; menyadari kita hanya perlu mengizinkan masa berlalu lebih lama

Kita dilahirkan dengan musim kita masing-masing; lengkap dengan seperangkat rasa khawatir yang perlu karena terkadang pagi dan sore kita bertemu di bawah ayun lengan rezim waktu Kita masih bisa bahagia; menyadari kita hanya perlu mengizinkan masa berlalu lebih lama karena pertikaian selama ini adalah perihal bertukar lepas: malamku hampir tuntas, sementara siangmu sebentar lagi tandas […]

Bermonolog Dengan Kamu yang Aku

Kepada siapapun kamu yang menemukan aku, tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh, kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh, pikiranku kosong bukan sebab hati melompong, melainkan remah harap yang hampir tak tergotong, gosong dan beralibi di balik titah sombong.

Izinkan aku berbicara dengan diriku, barang satu menit saja atau bahkan kulebihkan, kepada siapapun kamu yang menemukan aku, tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh, kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh, pikiranku kosong bukan sebab hati melompong, melainkan remah harap yang hampir tak tergotong, gosong dan beralibi di balik titah sombong. Hanya butuh telinga sepasang untuk […]

Previous page Next page