Prosa

Paresthesia: Menemukan yang Tak Terjamah

Coba bantu aku. Beri aku secercah kebijaksanaan dan harapan dari relung sukmaku. Buahkan segala paling pada tiap tarikan benang merah dari nalarku. Wartakan kepadaku, apa segala yang sekarang kuusahakan akan bermakna?

Malam ini, lagi-lagi sekumpulan keraguan mengangkasa dalam cakrawalaku. Ada yang menjelma air yang membeku di jalanan yang liku. Lecat, berbahaya, dan repas. Kesempatannya terbatas. Memilih melintasi atau berhenti, ujungnya sama-sama terlibat dan membelit. Tetapi tergelincir seharusnya dapat lebih baik ketimbang terperosok. Di sini, aku sekarang. Memandang dan mengamati, tiap bayang dan remang, yang mungkin saja […]

Hanya Ingin Mengingatkanmu

Hanya ingin mengingatkanmu, ketika kamu mempertanyakan eksistensimu di dunia ini, percayalah semakin banyak proses yang kamu lewati dalam hidupmu, hal yang kamu pertanyakan itu akan terjawab pada saatnya.

Hanya ingin mengingatkanmu, kamu berharga. Kesalahan apapun yang terjadi dalam hidupmu, bukan berarti kamu tidak berguna, bukan berarti semua salahmu. Hidup ini bukan untuk menyenangkan semua orang, karena kamu bukanlah manusia sempurna yang bisa melakukan segalanya. Aku tahu ini tidak mudah untukmu, tetapi itulah nyatanya. Hanya ingin mengingatkanmu, ketika kamu merasa bersalah, dan kamu merasa […]

Dariku, Rumahmu

Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Pintuku belum kukunci malam ini, masih ada bagian tak terisi di ranjang sebelah kiri, yang kupikir akan kau isi malam ini.

Pada akhirnya, akan selalu kau temukan rumahmu padaku. Entah sejauh apapun kamu berjalan, sedalam apapun kamu menyelam, seriuh apapun keramaian, akau selalu kau temukan rumahmu padaku. Memang bodoh kedengarannya, membukakan pintu lagi dan lagi untuk setiap lelah perjalananmu–menyeduhkan secangkir teh sehangat seduhan bunda, menghantarkanmu ke kasur untuk kau sambut tidur yang lebih nyenyak, merawat setiap […]

Apresiasi Diri sebagai Bentuk Bersyukur

Sering gagal menurut saya adalah suatu pembelajaran. Hidup tidak memberikan kesenangan setiap saat. Selalu ada kekurangan di dalamnya. Gagal dalam mencapai sesuatu tentu pernah dialami setiap manusia dengan porsi dan waktu yang berbeda. Tergantung manusia mana yang dapat melihat makna dari kegagalan tersebut dan mau percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar.

Suatu hari, saya sejenak merenung, “untuk apa saya dilahirkan di dunia ini?”. Satu kalimat pertanyaan yang menjadi awal dari langkah menapaki hidup itu sendiri. Terkadang, kita tidak sadar bahwa kita punya peran penting di dunia ini. Individu punya perannya masing-masing. Bukan berarti kita hanya sekedar hidup di dunia ini. Hanya lahir, tumbuh dan besar menjadi […]

Untukmu

Melihatmu tersenyum di depan segala luka dibungkus kesederhanaan adalah alasan untukku dapat bertahan hidup melawan semesta yang kata manusia tiada pernah adil. Kamu mengajariku untuk dapat menerima garis kehidupan dan mensyukurinya, sebagai manusia yang tersakiti dan keras kepala, bagiku itu sebuah tamparan yang sangat keras.

Ada sebuah tempat yang menjadi saksi runtuhnya semesta dalam hidupku. Satu-satunya yang mau berdiam diri, hanya melihat dan mendengarkan, anehnya aku merasa dipedulikan. Semakin kosong isinya, semakin aku merasa nyaman. Dahulu, sering sekali meminta kepada ibu untuk boleh dilapisi oleh peredam suara, dengan kedok apabila aku bernyanyi sambil berteriak tidak akan menggangu seisi rumah dan […]

Ulu

Sampai kapan sebuah ruangan kosong yang seharusnya berkelut damai menjadi sebuah kumpulan kebisingan dan ingatan-ingatan pekak yang menumpulkan telinga, hati, dan ubun-ubun kepala?

Berkas berkas mu, ku, ka, ia, ada… Cahaya- bercahaya membekas, tertoreh di lubuk malam yang ter-kelam, walau ditemani sinar bulan, yang terpendam awan, lalu padam. — Seperti melihat ke belakang, berbaris-baris orang-orang yang berada di dalam sebuah ruangan sunyi- berbunyi- hanya menggema di dalam suatu kosong yang terisi oleh basahnya air- aliran-aliran syaraf yang menggeluti […]

Istirahat Sesaat

Iya, ibukota kita ini lucu ya? Tak ada “ibu” di dalamnya. Tak ada hangat yang membuat kita ingin berlama-lama ada di tengahnya. Kalau mau tetap hidup, ya harus mampu bertahan. Kalau tidak, ya kau mati dibunuh oleh pelakon yang lain.

Kemarin, aku pulang kala mentari sudah kembali bersembunyi di balik bahari. Di tengah kota Jakarta yang penuh akan hiruk pikuk manusianya, aku membaur, tersaur, tersungkur. Rasanya kecil, mengecil, kemudian nihil. Entah apa yang aku rasa saat itu, namun rasanya memuakkan. Ketika kulihat seisi jalanan padat ibukota, selasar pertokoan yang dipenuhi manusia tanpa rumah, KRL yang […]

Temui Aku Sehabis Hujan

Hujan mengajakmu untuk menangis, namun ia mengajarimu untuk tetap kuat dan bertahan. Untuk dapat menaklukkan setiap panas badai dalam hidupmu.

Ketika semua yang kamu rasakan bercampur-aduk menjadi satu, bahkan untuk memilahnya pun kamu tidak mampu. Hanya bisa terdiam, memandang udara tak kasat mata, begitu pasrah mendengar suara dari berbagai arah. Lamunanmu terlihat begitu asyik, matamu terkunci tanpa adanya kedipan pasti. Padahal sebenarnya di dalam dirimu semua sudah hancur-lebur tidak bersisa apa-apa, bukan? Tiap kali ada […]

Sepasang Mata Sayu

Percayalah bahwa ketakutan hanya akan membesar jika kamu sendiri yang memberinya makan

Sepasang mata sayu sedang memandangiku dari sudut ruang. Atau barangkali aku saja yang terlalu percaya diri. Pada bola mata itu tidak ada refleksi benda apapun yang dipantulkan. Mata itu hanya melihat, tapi tidak menatap. Mungkin pemiliknya sedang berkelana dalam lembah dunia yang diciptakannya sendiri. Apa yang sedang kamu pikirkan? Percayalah bahwa itu hanya terjadi dalam […]

Kamu yang Terlalu Kaku

Terkadang ada yang tersangkut karena terlalu dipaksakan. Alhasil, robek.

Aku kadang tidak mengerti dengan bagaimana konsep semesta bercanda Menarik, lalu mengulur. Membolak-balikan, lalu mungkin mereka tertawa. Mungkin nampaknya lucu, menyuguhkan secangkir coklat hangat saat aku tersungkur kedinginan. Tapi lalu memberikan masam di dalamnya. Katamu, “masih banyak yang lebih buruk dari itu” “Ah, tetap saja masam!” Lalu aku yakin mereka sedang tertawa, sekali lagi. Diikuti […]

Previous page Next page