Cerpen

Masih

Aku melihatmu meletakkan prasasti bukti adanya "kita" dalam sebuah tungku kayu,  kamu bersiap membakar, merelakan, melepas, menjadikannya abu lalu hilang dalam udara ruang.

Malam itu, kita berdebat mengenai kelangsungan bunga yang kita tanam bersama. Apakah harus kita tetap rawat di tempat yang sama atau langsung saja kita cabut hingga ke akarnya, lalu jatuhkan pada aspal yang kasar tanpa sedikit sentuhan tanah. Berulang kali ku katakan aku menyayangimu, namun belum cukup dapat membuatmu tinggal dan menetap. Senyum manis yang […]

Pilihan

Jika di dalam dirimu ada dua singa. Singa hitam dan singa putih, singa yang mana yang paling cepat tumbuh dan besar?

Pernah sekali ibuku bertanya, “Jika di dalam dirimu ada dua singa. Singa hitam dan singa putih, singa yang mana yang paling cepat tumbuh dan besar?” Aku diam sejenak, mencoba memahami kemana arah pembicaraan ini. Aku menggeleng. “Tidak tahu.” Ibuku tersenyum. “Singa yang paling sering kau beri asupan, ia akan bertumbuh dengan cepat.” Aku masih mencoba […]

Kopi Asin

Otak saya dengan cepat mengulang kejadian beberapa hari lalu. Kejadian yang membuat hidup saya tak manis lagi. Sejak hari itu, rasa kopi dalam mulut saya selalu berubah rasa. Tak manis, pahit ataupun gurih. Kopi yang saya teguk berubah rasa jadi asin.

Sore ini saya kembali beraktivitas setelah beberapa hari terpuruk karena dia. Saya kembali menjadi seorang perempuan yang sibuk. Pergi mencari inspirasi untuk menulis jadi pilihan sore ini. Saya datang ke kedai kopi di kawasan Kemang. Dan duduk di sekitar orang-orang. Sesekali saya melihat ke depan, kiri, belakang, dan kanan. Orang-orang berlalu lalang. Pergi dan datang. […]

Pohon Uang

Bersama iringan kepulanganku, aku berharap dalam hati semoga saat aku dewasa nanti dan mempunyai cukup uang untuk membeli sepatu mengkilap itu, aku bisa pergi menaiki pohon uang yang tinggi itu.

Ini hanyalah sepotong kisah tentang kegelisahan masa kecilku. Tentang kemana tanah lapang dan pepohonan pergi. Tentang tempat bermainku yang sudah tergantikan pohon uang, dan tentang layangan yang tak bisa ku terbangkan lagi. Tentang Ayah yang sangat aku kagumi dan Ibu seorang yang paling mengerti. Aku adalah Rama, anak yang dilahirkan normal oleh Ibuku. Aku adalah […]

Untuk Kamu yang Selalu Menetap

Maafkan aku yang selalu mengeluh akan adanya jarak dan waktu. Maafkan juga karena membuatmu selalu dirundung pilu dan kekhawatiran yang tak menentu.

Untuk kamu yang sedang merindu, Maafkan aku yang selalu mengeluh, akan adanya jarak dan waktu. Maafkan juga karena membuatmu selalu dirundung pilu, dan kekhawatiran yang tak menentu. Bagaikan air yang mengair dengan tenang, kamu menyimpan semua rasamu dalam bilik hatimu. Sendirian, penuh kecewa, resah, dan gelisah. Namun kini, ibaratkan langit dan bumi, kita tak dapat […]

Ruang Temu

Aku tersenyum mengingat bagaimana dulu aku dan dia pernah menghias ruang ini menjadi sesuatu yang hidup. Mengisinya dengan tawa, tangis, dan semua hal yang ternyata mendewasakan. Tapi tempatku bukan lagi di sini. Begitupun dia.

Ternyata memang beberapa ada yang ditakdirkan untuk pergi, namun tidak untuk menghilang. Berjalan beriringan, namun dalam setapak yang berbeda. Sesekali menoleh, lalu tersenyum, sekadar memastikan semua baik-baik saja. Lagi, aku berhadapan dengan sepasang mata yang masih sama. Bercerita tentang setapakku, setapaknya, lalu tertawa. Tawa yang sama. Terlalu sama seakan waktu tak pernah berusaha mengubah setitikpun […]

Saung Pak Tua

"Jangan habiskan masa mudamu hanya untuk membayar tagihan cicilan, anak muda."

Lampu-lampu sentir kian sayup tatkala congkaknya angin makin kencang berhembus bersamaan dengan menembus paksa masuk ke tulang rusuk ini. Malam makin menebar hawa mistik, sebuah akibat timbulnya mitos-mitos ciptaan orang-orang tua kita dahulu. Topik diskusi dari “Pak Tua” yang membuat kami tidak mengacuhkan suara reyot dari saung tua ini. “Tolong seduhkan kopi lagi, Nak!”. Ucap […]

Ibu-ibu Di Depan Warung

“Bu, gak pulang?” tanyaku. “Saya rumah,” Otakku mendadak bingung berusaha mengerti bahasa Ibu tersebut.

Seorang anak pernah datang ke warungku Ia ribet, bawa koper dan gendolan lainnya seperti mau pulang kampung tapi lebaran masih lama “Bu, titip ya!” katanya Ia tunjuk seorang ibu-ibu tua sedang duduk, lamunannya jauh sembari menggigiti tusuk gigi “Mau kemana?” tanyaku pada anak itu “Pamit, Bu.” Sore-sore warungku tutup sebelum maghriban di masjid Ibu-ibu itu […]

Anak Sang Pasukan Oranye

Lagipula, mengapa harus hari ini? Mengapa ayahnya harus bekerja lembur di saat jam pergantian umurnya semakin dekat? Mengapa ayahnya tidak minta ijin saja pada atasannya untuk pulang sekarang? Yang paling penting, akankah sang ayah berada di sampingnya, ikut menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” tengah malam nanti?

Esok adalah hari ulang tahun Dini. Sejak sore, ia terlihat gembira. Biasanya jika keesokan harinya Dini atau Dana, adiknya, berulangtahun, maka pulang tepat waktu atau bahkan lebih cepat, lengkap dengan kue kecil dan lilin yang akan ditiup jam dua belas lebih satu menit malam nanti. Namun, hingga jam makan malam tiba, sang ayah belum juga […]

Suatu Sore di Stasiun

Maafkan aku tak pandai membaca isyarat alam, firasatku semu. Andai aku tau sore itu adalah hari terakhirmu, akan kupersembahkan perpisahan terbaik.

Suatu sore yang dingin dengan langit keabuan di atas sana. Kamu mencoba menghangatkannya dengan gurauanmu yang sama sekali tidak lucu, seperti biasanya. Kami telah tiba di stasiun. Katanya tempat ini saksi kunci bagi banyak pertemuan, perpisahan, juga janji-janji yang terpatahkan atau terpaksa dibekukan keadaan. Kereta datang silih berganti, manusia dengan segala kepentingan dan ambisinya hilir […]

Previous page Next page