Cerpen

Bersawala dalam Senja

Berbeda dengan Pak Sapardi yang katanya ingin mencintaimu dengan sederhana, aku justru ingin mengatakan bahwa aku ingin mencintaimu dengan sangat sempurna, sesempurna cara si kumbang yang mengambil nektar dari cantiknya wajah mawar.

Saat senja menggantungkan keindahan di hamparan cakrawala, kita terduduk dalam dua bangku, dipisahkan oleh sebuah meja namun tetap disatukan oleh rasa cinta. Kita saling berhadapan, memandang sesekali, namun tetap terjaga dalam diam yang tidak begitu menjemukan. Senja kala itu kita sepakat hendak bersawala panjang tentang mimpi-mimpi yang hendak kita raih bersama. Setelah puluhan malam kulewati […]

Catatan Lorong

Rasanya nyeri sekali bila diraba. Entah, ini penyakit apa yang aku idap. Awalnya, aku tidak terlalu takut sehingga aku memutuskan untuk tidak periksa ke dokter. Tapi, semakin lama nyeri semakin parah. Pembengkakan pun membuatku tak nyaman. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk memeriksakan ke dokter. 

Lalu engkau datang dengan berjalan pelan, membuka pintu itu dengan tenang. Menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Tanganmu mengusap jemariku, bibirmu mengucap sesuatu, berharap aku bangun saat itu. ***  “Bagaimana hari ini?” tanyanya. Suaranya memecah keheningan lorong. Kalimatnya sederhana, tapi menjadi penghilang segala kesah.  Aku terdiam. Menghela napas.  “Tidak terlalu baik. Dapat cadangan, tapi tak […]

Guratan Ekspektasi

Pertemuan yang tak pernah direncanakan dan dibayangkan terjadi begitu saja, sesuai alur yang sudah dilukis Tuhan. Semesta sepakat bahwa inilah yang terbaik dari sebuah kisah dipenghujung tahun.

Pertemuan yang tak pernah direncanakan dan dibayangkan terjadi begitu saja, sesuai alur yang sudah dilukis Tuhan. Semesta sepakat bahwa inilah yang terbaik dari sebuah kisah dipenghujung tahun. Mereka bertemu di stasiun. Mungkin, bagi sebagian orang stasiun lebih dari tempat kedatangan dan kepergian, lebih dari tempat awal perjumpaan, lebih dari sapa yang sudah lama tak bersua, […]

Fakultas Pemaafan

Dentang lonceng akhir tahun ini, adalah kali ketiga saya mendengarkannya tanpamu. Namun ternyata tak juga membuat saya serta merta lupa namamu. Ingatan itu justru melata lebih cepat ketika saya berusaha untuk melupakan.

Pada suatu sore setengah matang, ada beberapa hal yang nampaknya hilang, seperti warna sendu di tepi langit yang biasanya membentang. Saya mengintip dari jendela depan, rupa-rupanya mendung sedang mengarak hujan. Perlahan kemudian ia mengetuk atap, mungkin bermaksud untuk datang. Telpon yang seharian ini bungkam, tiba-tiba berdering. Dari ujung sana menyergap saya, “Halo, ini masa lalu, […]

Melalui Diam dan Menahan, Cerita Ini Berawal

Khayalan ini terlalu berlebihan, mari akhiri. Jangan tahan apapun, jangan dahului takdir dalam keadaan bagaimana pun. Biarlah yang terbang bebas, tetap terbang. Biarlah yang mengalir deras, tetap mengalir. Biarlah semesta yang menghubungkan semua yang telah terukir.

Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu. Meski semua persepsi yang terpoles ayu dalam memoriku hanyalah nyanyian  dari bibir kering yang melantur halu. Kita tak pernah terduduk di atas kursi yang sama pada nyatanya. Kita adalah individu-individu yang duduk sendiri-sendiri, tak pernah saling mengisi walau melontar sapa pemecah sepi, apalagi basa-basi. Membungkam […]

Dua

Banyak sekali perbedaan di antara kita. Yang membuat tetap bisa bersama adalah karena kau dan aku tidak pernah memikirkan perbedaan itu. Perbedaan bukan masalah. Masalah adalah apa yang kita anggap masalah, kalau tidak kita anggap, maka itu bukan.

Kita terduduk pada dua bangku. Di kafe langganan kita pada satu minggu sore yang sendu. Meja di tengah menjadi pemisah. Duduk berhadapan dengan sedikit percakapan, kita disibukkan oleh bacaan  dalam genggaman. Kau pegang novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi. Kucoba cerna kata-kata Nietzhe tentang eksistensialisme. “Hati-hati baca Nietzhe, jadi atheis kau nanti,” katamu. “Hati-hati baca […]

Ruang Hidup

Kau bilang kita ini satu? Kau bilang kita akan bersama menemui Tuhan menagih pertanggungjawaban, meminta kesembuhan. Namun, Bhima, aku akan sembuh, untuk kamu, untuk kita, bahagialah di manapun kau berada, aku akan menjaga bapak dan ibu.

Aku terbangun karena suara teriakan dan berbagai keributan. Dari tempatku tertidur di ruang keluarga, aku seperti melihat diriku sendiri sedang membanting remote dan membenturkan kepalanya pada lantai. Aku tahu apa yang sedang terjadi tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain menonton keributan ini. Wanita cantik kesayanganku tampak mulai gusar dan mata cantiknya menangkap mataku, kebingungan. […]

Tidur, Nak

Tidur, Nak… Mak tahu langkahmu sudah amat kepayahan, menyusuri hidup dan naik turun tangga samsara yang panjangnya ampun-ampunan.

Tidur, Nak… Mak tahu langkahmu sudah amat kepayahan, menyusuri hidup dan naik turun tangga samsara yang panjangnya ampun-ampunan. Sering sudah engkau jatuh, jalan pincang-pincang, dan lutut bergemetar. Mengapa masih saja kaulawan segala lelah? Berhentilah barang sedetik. Waktu memang tiada berjeda, tetapi pahamilah bahwa dirimu butuh rebah. Meski masih amat panjang jalan di depanmu, meski masih […]

Air Mata Kota

Semakin banyak orang yang tinggal, semakin banyak kebutuhan yang berdesakan meminta dikenyangkan. Semakin banyak kekayaan yang harus dibagi-bagikan. Mulai dari makanan, listrik, jalan raya, bus-bus murah, hingga air yang bisa memuaskan dahaga.

Perkenalkan, ia Kota. Tidak pernah mengeluarkan air mata, Dengan sepasang bibir yang tersenyum senantiasa, Seperti selalu bahagia, tidak ada duka, tidak pula lara. ** Kota sudah biasa, dengan hiruk pikuk manusia dan mimpi mereka yang lalu lalang di atasnya. Saking banyaknya fasilitas dan tentu saja lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sana, tak ayal menjadikan Kota […]

Makna yang Kesepian

Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu aku kembali berkelana di pemikiran yang putus asa akan sebuah makna. Tujuanku selanjutnya ada pada tanya yang terlihat bahagia, tapi dapat kurasakan kekosongan yang dirasa.

Suatu ketika kuyakini aku baik-baik saja tapi nyatanya tak seperti itu adanya. Aku diburu waktu yang terus mengejarku. Aku dihantui cemas, yang sebenarnaya tak pantas. Aku dibuntuti ketakutan yang kupikir menakutkan. Aku dicerca tanya yang sedang mencari cari dimana letak makna, awalnya. Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu […]

Previous page Next page