Adalah
Kami percaya bahwa setiap karya pasti mengandung hal-hal yang tidak dapat kami tafsirkan sepenuhnya. Maka Adalah sebagai verba kami anggap sebagai diksi yang tepat dalam membuktikan bahwa karya merupakan proses, ia tidak ada habisnya melahirkan pemaknaan yang baru. Rubrik ini berisi Puisi, Prosa Pendek (Flash Fiction/Fiksi Mini), dan Cerpen.

Pasar Malam

Jika nanti pasar malam itu sudah tak beroperasi, temui aku di kala kau ingin dan rindu, jangan sungkan minta ditemani. Karna sejatinya, akulah yang paling ingin menemanimu.

Jika nanti bianglala itu sudah berhenti, Mampirlah kerumahku, Duduklah ditepi, Barangkali kau sudi meminum segelas kopi. Jika nanti komedi putar itu sudah berhenti, Lihatlah kesekitar, Jika kau merasa sendiri, Temuilah aku di samping komedi putar. Jika nanti permen kapas itu sudah habis, Bicaralah padaku dengan lugas, Akan kuberikan kau cermin rias, Agar kau bisa merasakan […]

Pekik Kalbu

Kemarin aku pun sangat sibuk. Membenam rindu yang membabi buta padamu. Menyapu air yang mengalir di pipi belahan jiwamu. Merelakan semesta yang tidak akan pernah memulangkanmu.

Pa, Kemarin aku bersembunyi dari isi kota. Sebab enggan melihat semua pemandangannya. Toko kue yang laris manis. Toko bunga yang diborong habis. Toko perbelanjaan yang ramai semarak. Toko perkakas ulang tahun yang penuh sesak. Pa, Kemarin semua anak terlihat sangat sibuk. Menyiapkan rencana kejutan terunik. Membeli hadiah-hadiah terbaik. Menulis kartu ucapan yang cantik. Mendekor seisi […]

Untuk Seseorang yang Kupanggil Ayah

Sebagai anak, baktiku hanya selembar daun kering yang gugur karena terlalu tua. Sulit untuk jujur bila akupun menyayangi kedua orangtuaku.

Dini hari, di hari yang orang-orang peringati sebagai cara berterima kasih kepada seseorang yang  dipanggil Ayah. Aku menasbihkan diri untuk memperingatinya dengan menyetubuhi aksaraku. Ayah, yang kuteguk ranum kasihnya saat orang-orang tertidur melewati waktu yang hinggap pada sepertiga malam yang akhir. Seperti hari ini, kala orang-orang memasang foto wajah ayah-ayah mereka di media sosial serta […]

Dasar yang Sama

Manusia sama pada dasarnya. Kita hanya sedang melalui persimpangan jalan yang berbeda, namun sama tujuannya.

Setiap saat terasa seperti malam. Pagi itu gelap. Siang itu dingin, Malam tetap menjadi malam. Seolah waktu tak bergerak, rasanya seperti berjalan di atas benang yang melingkar tak berujung. Memasang senyuman indah sekuat tenaga. Menegapkan badan, jangan sampai bungkuk. Menjaga intonasi bicara, jangan sampai terbawa emosi. Semua itu dengan ganas mengikat, agar menjadi rutinitas abadi. […]

Doa-Doa Pada Tuhan yang Sederhana, 09

Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Untuk lutut yang masih mampu menekuk, dan pejam yang masih sudi mampu untuk memujamu, dan utuh hadirmu dalam diri kami.

Tuhan, terima kasih untuk hidup. Terima kasih untuk napas. Terima kasih untuk mata yang masih mampu membuka, dan mulut yang masih mampu bersuara, masih mampu memujamu. Terima kasih untuk tidur di malam kemarin yang kauberi pada kami hingga kami mampu membuka mata kembali, dan rayakan syahdu dunia ini. Tuhan, kami adalah hamba yang kotor dan […]

Air Mata Kota

Semakin banyak orang yang tinggal, semakin banyak kebutuhan yang berdesakan meminta dikenyangkan. Semakin banyak kekayaan yang harus dibagi-bagikan. Mulai dari makanan, listrik, jalan raya, bus-bus murah, hingga air yang bisa memuaskan dahaga.

Perkenalkan, ia Kota. Tidak pernah mengeluarkan air mata, Dengan sepasang bibir yang tersenyum senantiasa, Seperti selalu bahagia, tidak ada duka, tidak pula lara. ** Kota sudah biasa, dengan hiruk pikuk manusia dan mimpi mereka yang lalu lalang di atasnya. Saking banyaknya fasilitas dan tentu saja lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sana, tak ayal menjadikan Kota […]

Makna yang Kesepian

Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu aku kembali berkelana di pemikiran yang putus asa akan sebuah makna. Tujuanku selanjutnya ada pada tanya yang terlihat bahagia, tapi dapat kurasakan kekosongan yang dirasa.

Suatu ketika kuyakini aku baik-baik saja tapi nyatanya tak seperti itu adanya. Aku diburu waktu yang terus mengejarku. Aku dihantui cemas, yang sebenarnaya tak pantas. Aku dibuntuti ketakutan yang kupikir menakutkan. Aku dicerca tanya yang sedang mencari cari dimana letak makna, awalnya. Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu […]

Cahaya

Apa jika melakukan kebaikan, harus kita perhitungkan? Meneriakkan kata-kata kemanusiaan, namun tindakan mencerminkan kebiadaban.

Di dalam satu entitas yang hampa, Kita kembali menjadi yang terasingi. Terkukung dalam berbagai rasa tak percaya, Merampok mimpi, memperkosa jiwa. Mendamba hal yang baik, Namun diputus semua yang terkait. Dikutuk karna berbeda dari biasa, Lalu tunduk kepada yang berkuasa. Apa jika melakukan kebaikan, Harus kita perhitungkan? Meneriakkan kata-kata kemanusiaan, Namun tindakan mencerminkan kebiadaban. Tanpa […]

Merengkuh Perih

“Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” Kau baca puisi itu dengan takjub. Pagi itu, di kamar yang tertutup, Kau mengucap: “aku masih bertahan. Tenagaku masih cukup.”

I Dengan cucuknya, aku coba menanyai. Bagaimana goresan hidupmu yang sudah kau lewati. Awalnya diam. Tapi, akhirnya kau coba mengurai. Kisahmu, memang sungguh perih.   II Rupanya, kau telah banyak belajar. Kau melawan dan bertahan meskipun gentar. Dalam kerapuhan kau coba tegar. Karena kau tak mau mimpimu pudar.   III “Tuhan hadir dalam reruntuhan hidup.” […]

Teh Ibu

Redupnya lampu kota, menambah haluan mesra ku dengannya. Kucing yang berjalan waktu itu berhenti untuk sejenak memberikan siulan kepada kami.

Secangkir teh yang disuguhkan ibu pagi itu, aromanya khas, memanggilku untuk singgah sementara. Ku teguk air coklat itu dan… Saat itu juga memoriku kembali ke satu titik bersamamu. Kala pertama kau beberkan tawa renyah, menyapaku. Ku yang saat itu sedang diam dengan mata yang menyusuri kota lama, kau datang, bersama ragamu yang gemilang, dengan candaan […]

Previous page Next page