Adalah
Kami percaya bahwa setiap karya pasti mengandung hal-hal yang tidak dapat kami tafsirkan sepenuhnya. Maka Adalah sebagai verba kami anggap sebagai diksi yang tepat dalam membuktikan bahwa karya merupakan proses, ia tidak ada habisnya melahirkan pemaknaan yang baru. Rubrik ini berisi Puisi, Prosa Pendek (Flash Fiction/Fiksi Mini), dan Cerpen.

Dariku, Rumahmu

Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Pintuku belum kukunci malam ini, masih ada bagian tak terisi di ranjang sebelah kiri, yang kupikir akan kau isi malam ini.

Pada akhirnya, akan selalu kau temukan rumahmu padaku. Entah sejauh apapun kamu berjalan, sedalam apapun kamu menyelam, seriuh apapun keramaian, akau selalu kau temukan rumahmu padaku. Memang bodoh kedengarannya, membukakan pintu lagi dan lagi untuk setiap lelah perjalananmu–menyeduhkan secangkir teh sehangat seduhan bunda, menghantarkanmu ke kasur untuk kau sambut tidur yang lebih nyenyak, merawat setiap […]

Ruang Temu

Aku tersenyum mengingat bagaimana dulu aku dan dia pernah menghias ruang ini menjadi sesuatu yang hidup. Mengisinya dengan tawa, tangis, dan semua hal yang ternyata mendewasakan. Tapi tempatku bukan lagi di sini. Begitupun dia.

Ternyata memang beberapa ada yang ditakdirkan untuk pergi, namun tidak untuk menghilang. Berjalan beriringan, namun dalam setapak yang berbeda. Sesekali menoleh, lalu tersenyum, sekadar memastikan semua baik-baik saja. Lagi, aku berhadapan dengan sepasang mata yang masih sama. Bercerita tentang setapakku, setapaknya, lalu tertawa. Tawa yang sama. Terlalu sama seakan waktu tak pernah berusaha mengubah setitikpun […]

Untuk Seseorang yang Sedang Kesepian

Aku mau jadi apa saja yang mengingatkanmu bahwa kau tidak pernah benar-benar sendiri. Dan sepi hanyalah bait-bait puisi yang fiksi.

Menjelang malam jatuh menimpa seisi kota, kutemukan dirimu muram menghadap ke luar jendela Ada kenangan-kenangan dan keinginan-keinginan, yang belum sempat kau tanggalkan dan tinggalkan. Udara di rongga dadamu, kini begitu sejuk dan sesak. Kau seolah ingin berteriak. Tapi kesunyian dan kesendirian, punya suara yang lebih nyaring, daripada kepedihan. Kau lalu berbaring dan mencoba memejamkan mata, […]

Apresiasi Diri sebagai Bentuk Bersyukur

Sering gagal menurut saya adalah suatu pembelajaran. Hidup tidak memberikan kesenangan setiap saat. Selalu ada kekurangan di dalamnya. Gagal dalam mencapai sesuatu tentu pernah dialami setiap manusia dengan porsi dan waktu yang berbeda. Tergantung manusia mana yang dapat melihat makna dari kegagalan tersebut dan mau percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar.

Suatu hari, saya sejenak merenung, “untuk apa saya dilahirkan di dunia ini?”. Satu kalimat pertanyaan yang menjadi awal dari langkah menapaki hidup itu sendiri. Terkadang, kita tidak sadar bahwa kita punya peran penting di dunia ini. Individu punya perannya masing-masing. Bukan berarti kita hanya sekedar hidup di dunia ini. Hanya lahir, tumbuh dan besar menjadi […]

Untukmu

Melihatmu tersenyum di depan segala luka dibungkus kesederhanaan adalah alasan untukku dapat bertahan hidup melawan semesta yang kata manusia tiada pernah adil. Kamu mengajariku untuk dapat menerima garis kehidupan dan mensyukurinya, sebagai manusia yang tersakiti dan keras kepala, bagiku itu sebuah tamparan yang sangat keras.

Ada sebuah tempat yang menjadi saksi runtuhnya semesta dalam hidupku. Satu-satunya yang mau berdiam diri, hanya melihat dan mendengarkan, anehnya aku merasa dipedulikan. Semakin kosong isinya, semakin aku merasa nyaman. Dahulu, sering sekali meminta kepada ibu untuk boleh dilapisi oleh peredam suara, dengan kedok apabila aku bernyanyi sambil berteriak tidak akan menggangu seisi rumah dan […]

Saung Pak Tua

"Jangan habiskan masa mudamu hanya untuk membayar tagihan cicilan, anak muda."

Lampu-lampu sentir kian sayup tatkala congkaknya angin makin kencang berhembus bersamaan dengan menembus paksa masuk ke tulang rusuk ini. Malam makin menebar hawa mistik, sebuah akibat timbulnya mitos-mitos ciptaan orang-orang tua kita dahulu. Topik diskusi dari “Pak Tua” yang membuat kami tidak mengacuhkan suara reyot dari saung tua ini. “Tolong seduhkan kopi lagi, Nak!”. Ucap […]

Ulu

Sampai kapan sebuah ruangan kosong yang seharusnya berkelut damai menjadi sebuah kumpulan kebisingan dan ingatan-ingatan pekak yang menumpulkan telinga, hati, dan ubun-ubun kepala?

Berkas berkas mu, ku, ka, ia, ada… Cahaya- bercahaya membekas, tertoreh di lubuk malam yang ter-kelam, walau ditemani sinar bulan, yang terpendam awan, lalu padam. — Seperti melihat ke belakang, berbaris-baris orang-orang yang berada di dalam sebuah ruangan sunyi- berbunyi- hanya menggema di dalam suatu kosong yang terisi oleh basahnya air- aliran-aliran syaraf yang menggeluti […]

Ibu-ibu Di Depan Warung

“Bu, gak pulang?” tanyaku. “Saya rumah,” Otakku mendadak bingung berusaha mengerti bahasa Ibu tersebut.

Seorang anak pernah datang ke warungku Ia ribet, bawa koper dan gendolan lainnya seperti mau pulang kampung tapi lebaran masih lama “Bu, titip ya!” katanya Ia tunjuk seorang ibu-ibu tua sedang duduk, lamunannya jauh sembari menggigiti tusuk gigi “Mau kemana?” tanyaku pada anak itu “Pamit, Bu.” Sore-sore warungku tutup sebelum maghriban di masjid Ibu-ibu itu […]

Anak Sang Pasukan Oranye

Lagipula, mengapa harus hari ini? Mengapa ayahnya harus bekerja lembur di saat jam pergantian umurnya semakin dekat? Mengapa ayahnya tidak minta ijin saja pada atasannya untuk pulang sekarang? Yang paling penting, akankah sang ayah berada di sampingnya, ikut menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” tengah malam nanti?

Esok adalah hari ulang tahun Dini. Sejak sore, ia terlihat gembira. Biasanya jika keesokan harinya Dini atau Dana, adiknya, berulangtahun, maka pulang tepat waktu atau bahkan lebih cepat, lengkap dengan kue kecil dan lilin yang akan ditiup jam dua belas lebih satu menit malam nanti. Namun, hingga jam makan malam tiba, sang ayah belum juga […]

Istirahat Sesaat

Iya, ibukota kita ini lucu ya? Tak ada “ibu” di dalamnya. Tak ada hangat yang membuat kita ingin berlama-lama ada di tengahnya. Kalau mau tetap hidup, ya harus mampu bertahan. Kalau tidak, ya kau mati dibunuh oleh pelakon yang lain.

Kemarin, aku pulang kala mentari sudah kembali bersembunyi di balik bahari. Di tengah kota Jakarta yang penuh akan hiruk pikuk manusianya, aku membaur, tersaur, tersungkur. Rasanya kecil, mengecil, kemudian nihil. Entah apa yang aku rasa saat itu, namun rasanya memuakkan. Ketika kulihat seisi jalanan padat ibukota, selasar pertokoan yang dipenuhi manusia tanpa rumah, KRL yang […]

Previous page Next page