Puisimu

Memang, memahamimu tidak selalu mudah—
ataupun mengenaliku

Seperti dua bingkai kaca yang saling
bertatap-tatapan: kosong atau berisi
hanya napas kehidupan yang tahu

Tapi aku tahu kamu
dan kamu akan tahu aku

Saat seusiamu,
aku hampir merampas nadi

Tapi gengsi karena sudah banyak
orang-orang baik yang melakukannya
dan tidak satu pun yang bertemu arti

Lagi pula, senar mimpiku
jauh lebih tajam daripada belati

Ingat: kamu tidak perlu
melakukan apa yang aku lakukan

Bangunan-bangunan tua di depan rumah
masih sama, hanya saja tampak lebih dekat

Warna darah
sudah tidak lagi membuatku marah

Bandul masih akan terus menghantam dinding
hingga piknik usai—setidaknya sampai matahari
terbenam dua kali

Semesta masih ingin memberi narasi
yang telah direservasi

Raga masih akan terus dimakan polaroid
hingga senyum terakhir

Dan nanti, di kemudian hari yang belum
tercentang oleh masa depan, semoga kamu
mengerti bagaimana aku sangat berhati-hati
mencoba mencintaimu

Ini puisimu

4.6 10 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Top