Rahim Ibu: Alam Sebelum Bumi

Anggap kita tak ingat kehidupan sebelum di sini. Jika sebelumnya kita sudah saling kenal atau saling asing, mengapa sosok ibu mau berkorban bahkan sejak napas pertama diembuskan?

Mengapa rahim ibu yang jadi alam pertama sebelum manusia lahir ke dunia? Mengapa surga di bawah telapak kakinya? Apakah kami memilih satu sama lain? Tanya tak selalu timbulkan jawab karena waktu tak sampaikan segalanya sekaligus. Namun, ini yang ada di kepalaku …

Ibu adalah teman manusia pertama. Dalam dirinya, ada alam dan aku pernah di sana. Detailnya tentu aku lupa, bagaimana detakku dan detaknya bergema bersama; bagaimana susah-senangnya aku jadi susah-senangnya ibu. Kami pernah dalam satu alam yang sama.

Kami pernah asing lalu cinta tak pernah berhenti meski sudah lepas diri dari masing-masing. Rahimnya adalah wujud kasih dari Sang Maha dan akan begitu seterusnya. Bahkan ibu tahu emosiku, hanya dari sinyal-sinyal maya yang tubuhku pancarkan. Mungkin ialah koneksi terkuat dari segala bentuk hubungan manusia.

Ibu ada di realitas retina mata atau bayang abstrak dalam kepala, ada di sudut dapur dengan asap mengepul atau sekat hati yang tak bisa kita jamah seberapa dalamnya. Masakan ibu jadi favorit, jadi tenaga segala untuk bergerak di muka bumi, meski kadang diam sejenak dan lupa arah.

Di ujung gelap, aku ingat ibu dan satu kalimat, “Kami menerimamu apa adanya.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top