Merasa Tak Ada untuk Merasa Ada

Lalu-lalang manusia, hiruk pikuk kota, dan kendaraan berserakan, hilang seketika karena makhluk kecil tak kasatmata. Klakson protes karena motor menyalip, deru mesin yang sabar mengantre, juga asap knalpot yang berlomba-lomba naik sementara lenyap. Percakapan orang-orang di kedai kopi, tawa renyah sana-sini, tatapan mata sehabis tanya kabar, telunjuk-telunjuk unjuk proyek teranyar, dan mimpi-mimpi besar mendekam di tembok-tembok hunian.

Aku terbiasa menyendiri dan mengisolasi diri, tetapi rasanya tidak seperti hari ini. Rasanya, ada rasa mencekam, ada rasa tak tenang, ada waspada. Saat bangun tidur pun, rasanya seperti masih dalam mimpi buruk. Bahkan seseorang mengunggah foto bertuliskan, “Bioskop ditutup sampai dunia nyata tak terasa seperti film.”

Seminggu lebih berusaha ketat tak keluar rumah, berusaha saling ingat sering cuci tangan, harus makan buah dan sayur, tidur cukup, tetap bergerak, dan intens berdoa. Seminggu lebih tak bertemu rutinitas membosankan, tak menyapa kawan-kawan secara langsung, tak hadir di kelas dan segala keributannya, tak dengar teriakan saling mengingatkan ketika salah, tak menunjuk lift dan menunggunya bersama-sama.

Agenda-agenda selanjutnya pun tak ada. Kunjungan keluar kota dibatalkan, pertemuan keluarga diundur, pembelian kebutuhan dan pengurusan ini itu dipikirkan dulu matang-matang. Aku senang menyendiri, tetapi manusia tidak bisa hidup sendiri. Tentu saja kehadiran setiap individu jadi berarti.

Kemudian aku menyadari, saat di luar sana banyak jiwa berjuang untuk hidup, saat banyak tenaga-tenaga yang tak bisa istirahat penuh, tubuhku masih sehat saat. Masih ada pula orang tua, rumah masih terasa jadi tempat pulang. Masih ada notifikasi-notifikasi pesan singkat dari semua yang hanya bisa saling pandang lewat layar.

Begitu pun, banyak orang lainnya. Hampir seluruh dunia, mungkin merasakan juga apa yang kurasa. Aku tak sendiri. Kita tak sendiri. Kita sama, warga dunia. Hal-hal kecil yang biasa kita temui baru terasa ada setelah tak ada.

Kita bisa bersama-sama menjalani ini. Entah kehidupan apa yang hadir lagi, setidaknya saat ini, kita usahakan penuh untuk terus hidup utuh. Terima kasih, sudah jadi penghuni bumi. Semoga selalu semakin lebih baik lagi. Semangat, kita.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top