Menulis untuk Menjadi Manusia

Selasa, 7 Mei 2019
“… dari sekian banyak penulis-penulis hebat yang mendaftar, kami memutuskan untuk memilih kamu sebagai salah satu dari mereka untuk menjadi kontributor di Menjadi Manusia.”

Suatu hari di 2020
“Halo, terima kasih sudah membukakan pintu untuk saya ke Menjadi Manusia, saya merasa lebih menjadi manusia karena menulis. Sehat selalu.”

“Hi, sama-sama. I remember you, btw.”

Apakah ini misi besarku di dunia? Apakah lewat sepasang tangan kecilku, aku bantu menyebarkan keajaiban-Nya?

Aku seorang pelupa. Tulisan-tulisan membuatku ingat lagi: helai daun yang jatuh saat kupandang langit biru, cakap-cakap teman lama di antara deru kendaraan kota, gurihnya masakan mama saat pulang tiba, dinginnya kaki kala hujan menghampiri, juga aroma roti yang baru dipanggang di toko kemarin. Oh, inikah hidup? Aku rekam dan rasa. Semoga aku masih ingat hal-hal kecil yang berarti, saat menemui suatu titik ingin segalanya berhenti.

Aku seorang pendiam—kecuali dengan orang-orang yang bisa buatku jadi diri sendiri. Huruf-huruf yang tercetak di antara spasi tak bisa menghakimi, aku bebas berekspresi. Karena itulah, aku bebas mengutarakan semuanya.

Aku seorang pemimpi. Kelana ke sana ke mari, baik melalui jendela dunia maupun kepalaku sendiri. Sampai suatu waktu, tulisan seorang mengubah kehidupanku. Aku ingin seperti dia. Menulis untuk merasa “ada”.

Ini ceritaku, seperti filosofi Menjadi Manusia; masih berproses menjadi manusia, jatuh, bangkit, terus menemui koma, hingga nanti akhirnya mencapai titik. Bagaimana ceritamu?

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Faresha
1 year ago

Senang sekali bisa membaca perjalanan manusia lain yang menemukan dirinya serta damainya melalui menulis, bahagia untuk mengetahui bahwa saya tidak sendirian mengalami yang saya rasa.

Cantika Hana Hanifah
Reply to  Faresha

Wah, senang sekali juga bertemu denganmu! Ternyata ada yang membaca dan merasa juga. Terima kasih.

Top