Hilang

Pernahkah kau terbangun di suatu pagi, lalu kau tak temukan siapa-siapa di balik cermin itu? Tatapanmu kosong, jauh, tetapi entah di mana titik ujungnya. Semuanya seperti tidak menyenangkan lagi. Seseorang yang awalnya kau harap bisa jadi jawaban keresahanmu selama ini, ternyata malah jadi seonggok ujian baru yang malah makin mempersulit apa-apa yang sudah berantakan.

Benang-benang tak terurai berserak di mana saja, tetapi tak ada apa-apa di lantai, sebab semua itu hanyalah ilusi dalam kepalamu. Seseorang yang kaukira bagaikan pelangi di ujung badai yang selama ini dinanti, ternyata berupa badai lain. Ia terselubung di balik silaunya cahaya matahari yang pernah timbul di ujung awan putih.

Hal-hal yang dahulu menyenangkan, jadi tidak lagi. Bumi makin luntur warnanya. Beranjak dari buram lalu pekat, sisa monokrom sehari-harinya. Dunia tidak menyenangkan lagi. Banyak hal baru, tetapi jadi tidak tertarik lagi untuk dihidupi. Mau pergi pun tak tahu harus ke mana, seperti raga yang hanya cangkang, seperti titik hidup yang tidak ada lagi makna.

Kau kehilangan banyak hal.

Ketika beranjak dewasa, kau baru mengerti mengapa orang dewasa suka minum kopi pahit dan berani berada dalam ruang gelap. Ternyata kehidupan nyata lebih pahit dan gelap dari itu semua.

Kau sempat mencari-cari manis di sela sesap kopi panas dan satu titik cahaya di kala gulita. Makin dicari makin tak ada, hanya kerutan alis dan lidah yang kecap-kecap karena kepahitan. Makin berusaha berani sendirian di ruang gelap, makin ketakutan.

Mungkin orang dewasa menjadikan kopi sebagai pelarian, “Ah, ada yang lebih pahit.” Sama halnya dengan mematikan lampu dalam ruangan dan diam sendirian, “Ini tempat persembunyian rehat terbaik.”

Namun, setelah semua kehilangan itu, kau menemukan makna hidup sesungguhnya dan bisa membuat karya besar pertamamu pada tahun ini. Bisakah kau rasakan menjadi aku?

4.6 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top