Aku Rela

Mungkin inilah saatnya pintuku ditutup. Inilah saatnya aku rela ditampar kenyataan, bukan pemakluman-pemakluman saat dia tak butuh aku, meski ia tahu aku ada “mengulurkan tangan”.

Saat-saat itu, aku kerap kali membangkitkan ekspektasiku sendiri. Sekarang aku harus terima kenyataan, kalau aku tak sepenting itu di kehidupannya, kalau dia tak memiliki perasaan excited yang sama seperti aku bertemu dengannya.

Setelahnya aku jadi merasa sendiri (lagi). Berhari-hari. Sendiri. Diam. Sesekali menangis, merenung, mendekam dalam kamar, membaringkan tubuh di atas karpet, dan melihat langit-langit. Mengapa aku merasakan hal seperti ini lagi?

Sering kuurai benang kejadian selama ini.

Kurasa, sudah lama aku tak merasa se-kesepian ini lagi. Sepi dalam ramai. Kuingat-ingat lagi, sejak kapan masalah ini bermula? Kurasa, sejak sebelum bertemu dengannya, aku memang sudah pasrah akan semuanya. Lalu seketika dia datang, bagai namanya: cahaya.

Aku terlampau naif. Aku merasa aneh, berbeda, dan terasing. Namun sebetulnya aku suka sisi diriku yang murni dan unik ini. Kurasa, setelah bertemu dengannya, aku memiliki teman “aneh” bersama (dalam konteks yang baik). Namun, itu perasaanku saja. Kurasakan satu sisi, sedangkan dari sisinya terasa biasa saja, cenderung sebaliknya.

Ya … mau bagaimana lagi? Tugas manusia memilih cara, bukan memutuskan hasil terbaiknya.

Aku tak ingin menghitung, sudah berapa banyak tapak jejak kaki yang dia tinggalkan? Sudahkah usahaku cukup? Sudah cukupkah aku?

Aku tak ingin menjadi peduli diam-diam, tetapi sebetulnya tidak dibutuhkan; memakluminya terus-terusan, padahal masih sama-sama belum selesai dengan masalah sendiri dan masa lalu.

Aku ingin memeluk dan menemukan diriku lagi. Aku usahakan melepas semua itu secara perlahan, merangkul kembali hal-hal yang kusuka, merangkak pelan-pelan di keramaian, mengontrol apa yang kubisa soal apa yang kumau sebagaimana nyatanya aku, memenuhi energiku kembali dengan hal-hal menakjubkan yang aku sukai dan temui. Toh, rupanya masih banyak sekali hal yang ada dan baik-baik saja tanpa dirinya.

Aku tak mau menyangkal seberapa suka dan lukaku selama ini. Kalau sesuatu memang untukku, ia akan kembali. Pun kalau tidak, pastilah datang yang terbaik. Praktiknya memang tidak semudah teori, tetapi untuknya dan aku, semoga bisa terus hidup baik-baik.

Mengapa semuanya serba terlalu cepat? Kisah yang dimulai tanpa aba-aba dan yang harus kuakhiri sendiri tanpa awalan nyata kata “kita”.

4 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top