Akhir Adalah Awal Baru

“Untuk menyambut hal baru, kamu perlu melepaskan sesuatu yang sejak lama memang sudah tidak ada. Luka-luka kemarin menghantarkan kita pada bahagia hari ini. Akhir adalah awal baru, tetapi kamu memilih pura-pura tidak tahu.”

Aku duduk dengan bayangmu di salah satu kursi taman, hamparan salju putih menguasai pemandangan. Benar, aku hanya bersama bayang kita, dialog dan monolog tidak terlihat lagi batasnya. Segelintir orang hanya menatap heran dan melanjutkan jalannya, pandanganku masih tetap fokus ke satu titik di depan. Entah titik yang mana.

“Entah kenapa, rasanya karya itu menjadi salam perpisahan dan tanda ceritaku dengan seorang di masa itu memang sudah selesai. Luka-luka kemarin memang harus ada untuk membawaku ke masa sekarang dengan awal yang baru,” aku melanjutkan kalimatku.

“Memangnya sekarang kamu bahagia? Memangnya kamu tahu luka-lukaku karena apa? Semua orang sibuk berkata-kata dan merasa terluka, juga jadi korban satu-satunya. Padahal manusia memang saling melukai,” kata-kataku mewakili bayangmu.

“Dan, menyembuhkan,” tambah satu sisi kita yang berusaha selalu positif.

Lengang, butiran salju semakin deras. Aku merapatkan mantel, masih betah. Masih menunggu musim semi yang entah kapan datangnya. Aku sudah lupa perhitungan musim dan waktu.

Sebentar lagi…lalu setiap sore akan kuulang kebiasaan ini. Aku masih ingin memungut jawaban-jawaban kehidupan dari butiran-butiran es itu. Sampai akhirnya sosokmu yang menyampaikannya langsung, seperti dahulu, seperti kita pertama kali bertemu. Semoga.

Namun, tak ada yang memberitahuku satu kata pun.

“Mengapa kita harus bertemu? Jika belum ada jawabannya, selamat menjalani perjalanannya.”

“Kamu tahu? Sering kali, hadirmu mendahului jawaban itu.”

“Kamu juga tahu, manusia pertama yang bisa tolong dirimu sendiri adalah kamu.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top