Keikhlasan dan Bukan Kepemilikan

Orang bilang jika kita mencintai seseorang kita tak harus memilikinya, karena cinta adalah sebuah keikhlasan bukan kepemilikan. Cinta tanpa balasan, bukankah menyakitkan? Cinta dalam diam, bukankah hanya sepi yang didapat? Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika yang dikaruniai rasa hanya sepihak, tak bisa memaksa seseorang berbahagia dengan kita, tak bisa memaksa seseorang untuk terus menetap.

Mungkin pendapat orang benar, cinta adalah ikhlas. Ikhlas memberi rasa tanpa ada timbal balik. Ikhlas melihatnya bahagia meski bukan bersama kita. Lantas, apakah hati ini sanggup dan mau menerima? Jika tidak, lalu apakah ini bukan cinta?

Mungkin cinta ada levelnya, dan levelku mencintaimu belum setinggi kata ikhlas, mungkin juga memang tidak ada orang yang sampai pada level itu. Banyak yang bilang sudah mengikhlaskan, tapi hati manusia siapa yang tahu. Dan mungkin itu bukan ikhlas, melainkan sebuah keterpaksaan sebelum akhirnya terbiasa. Sibuk mencari cara untuk tetap tersenyum padahal saat sendiri dia menangis; berkata tak peduli padahal ia selalu ingin tahu.

Cinta cukup kompleks seperti manusia, dengan segala kesederhanaan dan juga kerumitannya, membawa setiap orang merasakan kebahagiaan sekaligus duka. Sekuat apa pun seseorang ingin melupakannya, cinta akan selalu ada dalam hati manusia. Karena pada dasarnya tempat cinta bukan di logika, melainkan pada perasaan. Dan kita tidak bisa melupakan perasaan. Cinta memang bukan perihal hak milik, tapi penerimaan untuk melepas.

4.8 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top