Cermin Terima Kasih

Setelah hari-hari panjang yang melelahkan dan membuat diri ini hampir menyerah, akhirnya aku memberanikan diri menatap cermin dengan lama, tak berbicara apa pun. Benar- benar hanya menatap dalam diam.

Di sana, aku melihat satu sosok yang terlihat rapuh. Matanya sayu. Wajahnya tidak menunjukkan keceriaan. Ia mencoba tersenyum, tapi hanya sampai di bibir, tidak menyentuh mata. Ah, senyum palsu lagi. Ia seakan sudah sangat mengenal senyuman itu. Senyuman yang akan dilanjutkan dengan sebuah kalimat sederhana, Kamu hebat sekali.”

Lalu tiba-tiba, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah. Ada sebuah perasaan yang membuncah kuat ketika ia bisa memuji dirinya sendiri setelah perjalanan yang berat. Rasanya tidak menyangka. Sampai kemudian sebuah bisikan lirih terdengar, Makasih sudah menjadi manusia yang kuat. Aku cinta kamu.”

Kalimat yang biasa mungkin, tapi mampu membuat seluruh tubuh seperti terbebas dari belenggu yang mengikat kuat. Ia merasa hidup kembali. Kali ini ia tersenyum lagi, senyum yang benar-benar tulus. Senyum yang membuatnya sadar betapa ia sangat mencintai dirinya sendiri. Senyum yang rasanya tidak akan pernah ia lupakan bagaimana bentuk lengkungannya. Senyum yang membuatnya tahu kalau ia sudah lebih dari apa pun.

Ia bangkit. Mengusap cermin dengan lembut. Dan pergi meninggalkan cermin dengan perasaan bahagia. Jika kamu berpikir ia yang kumaksud adalah diriku sendiri yang sedang menatap cermin, kamu benar. Ia yang sangat kucintai dengan seluruh kurang dan lebihnya; ia yang tetap ada bersamaku dalam semua keadaan. 

Ia, diriku, yang tidak pernah bosan aku ucapkan kata terima kasih dan maaf atas semua yang sudah kulakukan padanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top