Ternyata memang beberapa ada yang ditakdirkan untuk pergi, namun tidak untuk menghilang. Berjalan beriringan, namun dalam setapak yang berbeda. Sesekali menoleh, lalu tersenyum, sekadar memastikan semua baik-baik saja.

Lagi, aku berhadapan dengan sepasang mata yang masih sama. Bercerita tentang setapakku, setapaknya, lalu tertawa. Tawa yang sama. Terlalu sama seakan waktu tak pernah berusaha mengubah setitikpun apa yang ada di hadapanku saat itu.

Dia tersenyum, aku tersenyum, melihat bagaimana semesta bekerja dalam ruangku juga dalam ruangnya. Aku diam-diam menghela nafas sedikit berat, berharap bisa menetap di ruang temu yang kembali kita ciptakan untuk sekedar menyapa. Tapi ruang itu sudah menjadi terlalu sempit dan pengap. Tidak lagi bisa ditempati oleh dua temu yang kadang meronta. Aku tersenyum mengingat bagaimana dulu aku dan dia pernah menghias ruang ini menjadi sesuatu yang hidup. Mengisinya dengan tawa, tangis, dan semua hal yang ternyata mendewasakan. Tapi tempatku bukan lagi di sini. Begitupun dia.

Berkali aku mencoba untuk menghilangkannya dari ruangku dengan berlari sekencang-kencangnya tanpa pernah melihat ke belakang. Dia bilang, aku terlalu sering berlari. Aku tertawa.

“Mau sampai kapan berlari?”
“Sampai lupa.”
“Kamu tidak akan pernah lupa. Begitupun aku.”

Lalu di ujung ruang itu aku tahu, dia benar. Lalu aku kembali pada ruangku, begitupun dia.

Ruang temu itu?

Akan selalu begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment